PORTALNTT.COM, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air di wilayah perbatasan melalui hasil riset Transboundary Diagnostic Analysis (TDA) Daerah Aliran Sungai (DAS) antara Indonesia dan Timor Leste. Laporan penelitian tersebut diserahkan kepada Rektor Undana sebagai bagian dari upaya memperkuat kebijakan strategis lintas negara, Senin (2/2/2026).
Riset yang telah berlangsung sejak 2008 ini menegaskan bahwa persoalan air di kawasan perbatasan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, ekonomi, hingga kedaulatan wilayah. Dinamika aliran air dan sistem irigasi di lapangan bahkan berpotensi memengaruhi batas fisik antarnegara apabila tidak dikelola secara terpadu.
Dekan Fakultas Pertanian Undana sekaligus peneliti senior, Dr. Ir. Muhammad S. M. Nur, M.Si., menjelaskan bahwa kebutuhan air di wilayah perbatasan semakin mendesak, baik untuk konsumsi masyarakat maupun untuk mendukung sektor pertanian.
“Pengelolaan air di kawasan perbatasan harus menjadi perhatian serius. Perubahan aliran air dapat berdampak pada kondisi lingkungan sekaligus memengaruhi batas wilayah. Karena itu, diperlukan kebijakan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.
Selain itu, penelitian ini juga mengungkap tingginya ketergantungan masyarakat Nusa Tenggara Timur di wilayah perbatasan terhadap sumber air lintas wilayah. Kondisi geografis yang cenderung kering membuat ketersediaan air menjadi faktor penentu dalam menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Tim peneliti Undana yang telah bekerja selama lebih dari satu dekade terus mengembangkan riset ini secara mandiri. Dalam waktu dekat, mereka juga akan melakukan kunjungan ke Timor Leste guna menyinkronkan data akhir sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan bersama antara kedua negara.
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menegaskan komitmen institusinya untuk mendukung penuh penelitian tersebut. Ia menilai, pendekatan berbasis lokal yang dilakukan oleh peneliti Undana menjadi kekuatan utama dalam merumuskan solusi yang relevan bagi masyarakat perbatasan.
“Undana akan terus mengawal riset ini agar memberikan dampak nyata. Kebijakan yang dihasilkan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas kawasan,” tegasnya.
Ke depan, riset ini akan diperkuat melalui kerja sama internasional dengan Charles Darwin University (Australia) dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e. Kolaborasi ini diarahkan pada pembentukan konsorsium tiga negara, Indonesia, Timor Leste, dan Australia, yang diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan strategis serta publikasi ilmiah bereputasi.
Melalui riset ini, Undana menegaskan bahwa pengelolaan air di kawasan perbatasan merupakan isu krusial yang membutuhkan perhatian serius semua pihak, demi menjaga kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan kedaulatan negara. (Humas Undana)







