Oleh: Asbin Selten Umbu Deta
Ketika kita berbicara tentang mutu pendidikan, publik kerap terjebak dalam diskursus soal kurikulum, fasilitas, atau anggaran. Padahal, akar persoalan yang lebih mendasar dan mendesak terletak pada kualitas kepemimpinan kepala sekolah. Siapa yang memimpin sekolah jauh lebih penting daripada sekadar apa yang diajarkan di dalamnya.
Hasil penelitian saya di dua sekolah dasar di Kota Kupang SD Inpres Kuanino 3 dan SD Negeri 2 Fontein menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang menjalankan manajemen berbasis sekolah (MBS) secara efektif berdampak langsung pada peningkatan kinerja guru, terutama dalam inovasi pembelajaran, kedisiplinan, serta penguasaan teknologi.
Temuan ini sejalan dengan pendapat Leithwood et al. (2020) yang menyatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah faktor kedua terpenting setelah pengajaran di kelas dalam meningkatkan prestasi siswa. Leithwood menekankan pentingnya gaya kepemimpinan transformasional yang mendorong partisipasi guru, membangun visi bersama, dan menciptakan budaya belajar yang sehat.
Dalam konteks Indonesia, Suyatno (2022) menambahkan bahwa kepala sekolah yang sukses adalah mereka yang mampu menjadi manajer, motivator, sekaligus teladan. Sayangnya, masih banyak kepala sekolah yang lebih nyaman berada di balik meja daripada menjadi pemimpin perubahan di tengah komunitas sekolah.
Heryon Bernard Mbuik, M.Pd, pakar manajemen pendidikan dari Kupang, menyatakan bahwa âkepemimpinan kepala sekolah yang lemah akan mematikan inisiatif guru. Mereka hanya akan bekerja sebatas instruksi, bukan inspirasi. Lebih lanjut, Mbuik menekankan bahwa transformasi pendidikan dasar tidak mungkin terjadi tanpa kepala sekolah yang punya visi, empati, dan keberanian mengambil keputusan strategis meski bertentangan dengan kebiasaan lama yang tidak produktif.
Lebih dari sekadar posisi administratif, kepala sekolah idealnya adalah seorang pemimpin pembelajaran. Seperti ditegaskan oleh Fullan (2014), kepemimpinan pendidikan harus berakar pada moral purpose niat untuk membuat perbedaan nyata dalam kehidupan anak-anak. Dengan kata lain, kepala sekolah tidak cukup sekadar mengelola, tetapi harus memimpin dengan nilai dan tujuan.
Dalam praktiknya, saya mendapati bahwa kepala sekolah yang mampu menyusun perencanaan strategis, menjalankan pelaksanaan program yang partisipatif, dan melakukan evaluasi yang reflektif berhasil menciptakan ekosistem kerja yang lebih hidup dan berdampak. Guru-guru menjadi lebih kreatif, berani mencoba hal baru, dan merasa didukung.
Namun, semua ini tak bisa berdiri sendiri. Sistem pendidikan kita harus menata ulang mekanisme rekrutmen dan pelatihan kepala sekolah. Sudah saatnya kita meninggalkan pola pengangkatan berbasis senioritas atau kedekatan birokratis, dan beralih pada seleksi berbasis kompetensi dan integritas. Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan perlu menyusun program pengembangan kepemimpinan yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyentuh aspek nilai, karakter, dan kemampuan inovatif.
Seperti yang pernah dikatakan oleh John Maxwell, Everything rises and falls on leadership. Di sekolah dasar, kualitas pendidikan akan naik dan turun mengikuti kualitas pemimpinnya. Kepala sekolah yang hanya bertugas mencatat laporan dan menghadiri rapat tidak akan membawa perubahan berarti. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab untuk mendidik bukan hanya siswa, tetapi seluruh ekosistem belajar.
Jika kita benar-benar serius membangun generasi emas 2045, maka kita harus mulai dari siapa yang memimpin sekolah hari ini. Bukan sekadar kepala, tetapi pemimpin sejati.
Bio Penulis
Asbin Selten Umbu Deta adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Citra Bangsa. Ia merupakan angkatan tahun 2021 dan baru saja menyelesaikan ujian skripsinya pada 12 Juni 2025. Umbu memiliki ketertarikan dalam bidang manajemen pendidikan dan pengembangan mutu sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur.







