PORTALNTT.COM, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) semakin memantapkan langkahnya sebagai pusat riset kelautan di kawasan timur Indonesia. Kampus ini kini menjalin kolaborasi strategis lintas negara bersama Arafura and Timor Seas Ecosystem Action (ATSEA) untuk penelitian dugong dan ekosistem padang lamun di Laut Timor–Arafura.
Kolaborasi tersebut mengemuka dalam audiensi yang berlangsung di lingkungan Rektorat Undana, Senin (20/4/2026), dan menjadi sinyal kuat bahwa riset berbasis potensi lokal NTT mulai mendapat panggung internasional.
Undana Siap Jadi Motor Riset Kawasan
Wakil Rektor I Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, menegaskan kesiapan penuh institusinya untuk terlibat aktif dalam riset kolaboratif tersebut.
Menurutnya, Undana tidak hanya memiliki sumber daya manusia yang kompeten, tetapi juga didukung fasilitas laboratorium dan pendanaan riset yang memadai.
“Kami tidak hanya siap secara konsep, tetapi juga dari sisi infrastruktur dan anggaran. Ini momentum penting untuk memperkuat peran Undana di tingkat global,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa wilayah kepulauan di Nusa Tenggara Timur siap menjadi laboratorium alam bagi penelitian ini, mulai dari pesisir hingga kawasan terpencil.
Riset Berbasis Pengalaman Lapangan
Dukungan terhadap kolaborasi ini diperkuat oleh rekam jejak riset yang telah lama dibangun Undana. Dekan Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Dr. Ir. Agnette Tjendanawangi, mengungkapkan bahwa penelitian padang lamun telah dilakukan sejak 2017 di berbagai wilayah NTT.
Mulai dari Rote Ndao, Kabupaten Kupang, hingga wilayah Flores, tim dosen telah mengkaji ekosistem lamun, ikan, dan terumbu karang secara berkelanjutan.
“Penelitian kami tidak berhenti, tetapi terus berkembang. Saat ini juga sedang berjalan riset lanjutan oleh tim dosen,” jelasnya.
ATSEA: Kolaborasi Negara untuk Laut Berkelanjutan
Dari pihak ATSEA ditegaskan bahwa program ini bukan sekadar proyek, melainkan platform kerja sama antarnegara yang berfokus pada pengelolaan ekosistem laut secara berkelanjutan.
Program ini melibatkan Indonesia, Australia, dan Papua Nugini, dengan Timor Leste dalam proses bergabung. Seluruh kegiatan mengacu pada Strategic Action Programme (SAP) 2024–2033 yang mencakup isu-isu krusial, mulai dari pengurangan sampah plastik, penanganan tumpahan minyak, hingga perlindungan spesies laut langka seperti dugong.
Dari Kupang untuk Dunia
Ke depan, kolaborasi ini akan diisi dengan berbagai agenda konkret, mulai dari Focus Group Discussion (FGD) di Kupang, survei lapangan di Rote Ndao, hingga pengambilan sampel genetik dugong untuk kepentingan riset regional.
Program ini juga didukung oleh Mohammed bin Zayed Species Conservation Fund dan dirancang berlangsung selama dua tahun, hingga 2027.
Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam implementasi kebijakan konservasi laut, sejalan dengan agenda nasional dan komitmen global dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Dengan kolaborasi ini, Undana tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai aktor penting dalam diplomasi ilmiah dan pelestarian laut dunia.
Dari Kupang, riset tentang dugong dan lamun kini menggema ke panggung internasional.







