
PORTALNTT.COM, MAUMERE – Manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah banyak dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Zakharias Ruben Jopudara (34) mengakui kehebatan Program JKN. Saat istrinya melahirkan, ia tak merasa bingung dan cemas, karena biaya yang ditimbulkan, dari awal kehamilan, dari bidan di puskesmas langsung menyarankannya untuk mengurus kepesertaan JKN. Pada saat itu ia belum menjadi Pegawai Negeri Sipil dan mendaftar menjadi peserta secara mandiri.
“Saya jadi peserta JKN sejak tahun 2015. Pada waktu itu saya daftar secara mandiri saat masih di Kupang. Saya pun mendaftarkan diri saya dan istri untuk persalinan anak pertama. Disarankan pihak medis dari Puskesmas Bakunase untuk meringankan biaya persalinan,” jelas Ruben sapaan akrabnya.
Ruben merupakan ayah dari dua orang anak, kini ia berdomisili di Waioti Maumere, Kabupaten Sikka. Ia pindah dari Kota Kupang Ke Maumere semenjak ia diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Otomatis saat ini kepesertaan JKNnya ditanggung oleh tempat ia bekerja.
Ruben mengaku selama ini sangat terbantu dengan menjadi peserta JKN. Ia sendiri belum pernah menggunakan manfaat Program JKN namun Istrinya sudah dua kali melahirkan menggunakan manfaat Program JKN. Pada saat itu ia dan keluarga menjadi peserta JKN secara mandiri ia rutin membayar setiap bulan sebelum tanggal 10.
“Kalau saya sendiri belum pernah pakai kartu JKN untuk berobat tapi istri sudah dua kali menggunakan untuk melahirkan. Pada saat melahirkan anak pertama dan anak kedua semua ditanggung Pogram JKN. Bedanya saat anak pertama istri saya melahirkan secara normal di puskesmas sedangkan anak kedua melahirkan secara Caesar. Namun semuanya ditanggung Program JKN. Apalagi melahirkan anak kedua melalui proses caesar maka tentu biayanya sangat besar, karena kami menggunakan Program JKN maka kami tidak terbebani biaya yang besar tersebut”, tambah Ruben.
Saat ditemui di Kantor Dinas Sosial tempat ia bekerja. Ia banyak mengapresiasi Program JKN dan mengakui kehebatan Program JKN. Menurutnya Program JKN sangat luar biasa, ia paham dengan sistem gotong royong subsidi silang. Dimana yang sakit dibantu oleh peserta yang sehat, begitupun selanjutnya.
“Saya benar-benar mengapresiasi Program JKN ini karena sudah sangat membantu dari segi biaya. Ketika istri melahirkan dua kali dan seringkali menggunakan ketika anak—anak sakit dan harus berobat,” ungkap Ruben.
Selanjutnya, Ruben juga menceritakan pengalaman pribadinya saat mengakses layanan kesehatan. Ia tidak dibedakan dengan pasien lainnya. Dokter dan perawat melayaninya dengan baik. Tidak ada diskriminasi antara pasien JKN dengan pasien umum.
“Selama saya berobat di puskesmas atau rumah sakit, sangat gampang. Cukup dengan menunjukkan KTP atau Kartu JKN yang saya miliki sebagai peserta JKN langsung dilayani. Dokter dan perawat melayani dengan sangat baik. Tidak dibedakan dan tidak ada diskriminasi,” tegas Ruben.
Ruben bercerita saat ini ia sudah ikut Program Rrencana Pembayaran Bertahap (REHAB) karena terakhir saat menjadi peserta JKN secara mandiri ia memiliki tunggakan. Program REHAB menjadi solusi dan cara mudah bayar tunggakan iuran. Menurutnya perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara terus menerus agar paham terkait jaminan sosial gotong royong ini.
“Harapan saya kedepan BPJS Kesehatan sering melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat. Karena pengalaman saya saat menjadi peserta mandiri dulu, banyak masyarakat yang sesudah biaya perawatannya dibayarkan, ia berpikir saya sudah sehat saya tidak sakit jadi tidak perlu membayar iuran secara rutin. Padahal jaminan sosial ini sifatnya gotong royong. Sehingga ketika pada saat yang darurat baru repot karena tunggakan besar, karena kalau sudah numpuk terasa berat. Terus kasih pemahaman ke masyarakat terkait sistem gotong royong harus dijelaskan secara detail,” tutup Ruben.







