KUPANG, PORTALNTT.COM — Di tengah hiruk pikuk perjuangan hidup para guru honorer di Nusa Tenggara Timur, kisah Agustinus Nitbani, seorang guru sederhana dari SD Negeri Batu Esa, Kecamatan Kupang Barat, mengalir pelan namun penuh makna. Selama 24 tahun ia mengabdikan diri mencerdaskan anak-anak di pelosok desa, tanpa kepastian status dan tanpa jaminan masa depan yang layak.
Setiap pagi, Agustinus menempuh perjalanan puluhan kilometer menuju sekolah, melewati jalan berlumpur saat hujan dan berdebu di musim kemarau. Ia datang dengan semangat yang sama sejak pertama kali mengajar pada tahun 2001, bukan karena gaji, tapi karena cinta terhadap anak-anak didiknya.
“Kalau bicara gaji, saya tidak bisa berharap banyak. Tapi saya mencintai pekerjaan ini. Saya hanya ingin diakui negara bahwa pengabdian kami juga berarti,” ujarnya lirih saat ditemui di sela-sela pertemuan bersama anggota DPR RI Anita Gah, Kamis (9/10/2025), di Rumah Aspirasi Anita Gah, Kota Kupang.
Agustinus adalah satu dari 179 guru honorer Kabupaten Kupang yang datang membawa secercah harapan. Mereka berharap suara mereka bisa sampai ke pemerintah pusat lewat perjuangan wakil rakyat asal NTT itu.
Dengan wajah lelah namun penuh harap, Agustinus menyerahkan selembar berkas dokumen riwayat pengabdiannya selama dua dekade.
“Saya hanya ingin bisa diangkat jadi P3K, sebelum usia dan tenaga habis,” katanya, menahan haru.
Ia mengisahkan, sejak awal mengabdi di Sumlili. Namun pada tahun 2009, dirinya diminta untuk merintis sekolah di Batu Esa, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang hingga sekarang.
”Saya mengajar di kelas 3,” ungkapnya.
Menanggapi kisah Agustinus dan ratusan guru lainnya, Anita Gah tampak terharu. Ia menegaskan akan memperjuangkan agar guru-guru honorer di NTT mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
“Pengabdian seperti Bapak Agustinus ini tak boleh diabaikan. Negara harus hadir dan memberikan keadilan bagi para guru yang telah puluhan tahun mengabdi,” tegas Anita.
Di akhir pertemuan, Agustinus menatap langit senja di Kota Kupang. Ada harapan yang belum padam di matanya harapan bahwa suatu hari nanti, perjuangannya tidak akan sia-sia. Bahwa peluh yang menetes di ruang kelas sederhana Batu Esa akan terbayar oleh pengakuan negara.
“Kalau saya tak sempat merasakannya, semoga teman-teman lain bisa. Kami hanya ingin dihargai,” katanya pelan, sebelum berlalu dengan langkah kecil namun penuh makna.







