PORTALNTT.COM, KUPANG – Di tengah derasnya arus digital dan globalisasi, bahasa dan sastra kerap dianggap sekadar pelajaran sekolah. Namun bagi Anita Jacoba Gah, anggota Komisi X DPR RI, keduanya justru adalah roh kebudayaan yang membentuk karakter dan jati diri bangsa.
“Bahasa dan sastra bukan hanya alat komunikasi, tapi cermin peradaban. Dari keduanya, kita belajar berpikir, berempati, dan memahami makna kehidupan,” ujar Anita saat membuka kegiatan Diseminasi Produk Pengembangan Kebahasaan dan Kesastraan, di Hotel Harper Kupang, Senin (10/11/2025).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra itu diikuti puluhan peserta dari kalangan guru, akademisi, pegiat literasi, dan komunitas penulis di NTT.
Hadir pula Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Dora Amalia, Kepala Balai Bahasa NTT Heri Budiono, serta Plt. Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Erenst Ludji.
Bahasa Sebagai Cermin Peradaban
Dalam sambutannya, Anita menegaskan bahwa pengajaran bahasa dan sastra harus melampaui pendekatan akademik semata. Ia menilai, keduanya adalah instrumen penting dalam membentuk karakter, memperluas cara berpikir, dan memperkaya ekspresi budaya bangsa.

“Bahasa dan sastra membantu kita menelusuri makna, mengasah kepekaan, dan menumbuhkan rasa kemanusiaan. Inilah yang seharusnya menjadi inti dalam pendidikan kita,” tegasnya.
Menurut politisi asal Demokrat itu, pengembangan bahasa dan sastra tak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antara akademisi, praktisi pendidikan, penulis, peneliti, dan komunitas literasi diperlukan untuk membangun ekosistem literasi yang hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Semangat kolaboratif adalah kunci. Kita harus membangun jejaring yang mempertemukan pemikiran dan karya,” tambahnya.
Menjaga Bahasa Daerah, Menguatkan Bahasa Bangsa
Anita juga menyoroti pentingnya pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas nasional. Menurutnya, setiap bahasa daerah menyimpan nilai dan filosofi yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan karya sastra yang menggugah.
“Pelestarian bahasa daerah bukan soal nostalgia, melainkan bentuk penghormatan terhadap akar budaya. Dari situlah lahir kekuatan bahasa nasional kita,” katanya.
Ia mengajak masyarakat, terutama kalangan muda, untuk tidak meninggalkan bahasa dan sastra di tengah kehidupan yang serba cepat dan praktis.
“Mari kita tumbuhkan kembali budaya literasi yang inklusif dan berakar pada nilai-nilai bangsa. Sastra harus hidup di ruang publik dan menjadi sumber inspirasi,” pungkas Anita.
Apresiasi dan Harapan dari Daerah
Sementara itu, Plt. Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Erenst Ludji, mengapresiasi kepedulian Anita terhadap pengembangan pendidikan, bahasa, dan sastra di NTT.

“Apa yang disampaikan Ibu Anita menjadi motivasi bagi kami untuk memperkuat kegiatan kebahasaan dan kesastraan di Kota Kupang,” ujarnya.
Ia menilai, anak muda perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan literasi agar mampu menjadi duta bahasa dan sastra di lingkungannya.
“Perubahan gaya tutur dan kebiasaan digital harus disikapi dengan cara mendidik anak-anak mencintai bahasa Indonesia. Keluarga, sekolah, dan lingkungan punya tanggung jawab bersama,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia, memaparkan sejumlah produk hasil pengembangan kebahasaan dan kesastraan yang dapat dimanfaatkan oleh tenaga pendidik maupun masyarakat umum.
Bahasa, Identitas, dan Masa Depan
Di akhir acara, suasana menjadi lebih hangat ketika para peserta berbagi pengalaman tentang pentingnya literasi di daerah. Beberapa guru dan pegiat literasi menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi berlanjut menjadi gerakan yang berkelanjutan.
Karena seperti yang diungkapkan Anita, bahasa dan sastra bukan sekadar warisan, tetapi jalan menuju masa depan yang berkarakter dan beradab.







