Penulis: Daniel Timu
PORTALNTT.COM, ROTE NDAO – Aksi Demo di depan Polres Rote Ndao memanas, massa hendak mendekati pintu gerbang keluar Mapolres dihadang puluhan Polisi, seorang wanita dipukul di bagian kepala menggunakan pentungan. Sementara seorang aktivis lainnya juga dihajar pentungan dibagian kepala hingga bocor darah bercucuran.
Tindakan kekerasan tersebut dikecam keras oleh masa aksi. Orasi masyarakat minta Erasmus Frans Mandato dibebaskan oleh Polres Rote Ndao, malah mendapat tindakan anarkis yang tak terpuji.
Seorang wanita, yang juga adalah saudari dari Erasmus Frans hendak menahan massa agar tidak buat keributan, malah tiba-tiba mendapat pukulan pentungan oleh aparat yang berjaga di gerbang Mapolres Rote Ndao.
Tindakan aparat pun memancing amarah massa, seorang aktivis, yakni Melianus juga dihajar di kepala hingga kepala bocor.
Meski sempat terjadi kericuhan hingga bentrok fisik, pantauan media ini, hingga pukul 18.00 WITA massa pun membubarkan diri dan mengancam akan kembali berunjuk rasa di Polres Rote Ndao pada esok hari dan akan datang dengan jumlah masa yang jauh lebih banyak lagi.
Sementara itu, Melianus yang kepalanya bocor usai dihantam aparat menjelaskan bahwa dirinya akan memproses secara hukum aksi anarkis aparat tersebut.
“Kami tidak kasar, kami hanya ingin orasi di depan gerbang, tapi aparat halangi, Kepala saya bocor dipukul pentungan, saya akan visum dan buat laporan resmi di Propam Polda NTT,” Tegas Melianus pada media ini.
Diketahui bahwa hari ini adalah hari ketiga aksi demonstrasi di Mapolres Rote Ndao yang menuntut agar Erasmus Frans Mandato dibebaskan.
Dalam orasinya, Masa bahkan menuding Kapolres Rote Ndao, AKBP Mardiono, S.ST, M.KP gagal total melindungi kepentingan rakyat kecil dan lebih memilih berdiri di sisi perusahaan. Massa mengatakan kasus besar dugaan penebangan mangrove secara Ilegal yang melibatkan PT Boa Development, hingga hari ini masih belum mampu dituntaskan oleh Polres Rote Ndao, sedangkan Erasmus Frans ditahan usai melalui medsos mengkritik dugaan penutupan akses masuk Pantai Bo’a yang dilakukan oleh pihak PT Boa Development.
“kenapa kasus penebangan mangrove tidak dituntaskan, sedangkan Erasmus Frans hanya sampaikan kritik di facebook malah secara cepat dijadikan tersangka dan ditahan,” ujar salah satu orator aksi unjuk rasa.
Dalam aksi itu, nama besar Erasmus Frans Mandato kembali digaungkan. Ia dikenal sebagai mantan anggota DPRD dua periode, tokoh olahraga yang mengharumkan NTT di ajang PON, sekaligus penggerak pariwisata Rote Ndao.
“Dia bukan penjahat, dia pejuang. Apa yang diperjuangkan Erasmus adalah masa depan ekonomi lokal dan pariwisata Rote,” teriak massa, menolak cap kriminal yang disematkan padanya.
Tak hanya itu, massa bahkan menuntut Kapolri mencopot Kapolres AKBP Mardiono karena dinilai telah menunjukkan sikap buruk sebagai seorang pimpinan kepolisian.
Pantauan media ini, sejak siang tadi hingga masa pendemo bubarkan diri, Kapolres Rote Ndao enggan menemui masa pendemo.







