Bahasa Perempuan: Suara yang Pernah Dibungkam, Kini Menuntut Didengar

  • Whatsapp
Heryon Bernard Mbuik, S.PAK., M.Pd.K., M.Pd. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Citra Bangsa.

Oleh: Heryon Bernard Mbuik

Di balik setiap kata, tersimpan kuasa. Di balik setiap kalimat, tersembunyi luka atau harapan. Dan bagi perempuan, bahasa adalah ruang yang tak pernah benar-benar netral ia bisa menjadi alat untuk membungkam, tapi juga bisa menjadi alat untuk bertahan dan bangkit.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah pembentuk realitas. Ketika seorang anak perempuan diberitahu bahwa ia “terlalu cerewet,” atau bahwa “perempuan sebaiknya tidak memimpin,” maka sejak dini ia telah dicekoki kode sosial yang mengekang jiwanya. Luka itu tak berdarah, tapi menancap diam-diam di batin, mengendap, dan sering kali dibawa hingga dewasa. Inilah kekerasan simbolik yang paling sunyi, dan karenanya paling berbahaya.

Bahasa yang Membungkam dan Bahasa yang Membebaskan

Pierre Bourdieu pernah menyatakan, “language is not only a means of communication but also a medium of power.”Dalam masyarakat patriarkal, bahasa menjadi instrumen kontrol. Banyak perempuan yang dibungkam bukan karena mereka tidak mampu berbicara, tetapi karena sistem telah membuat suara mereka tak dianggap penting.

Namun sejarah juga mencatat hal lain: bahwa di tengah pembungkaman, perempuan tidak tinggal diam. Mereka menciptakan narasi sendiri. Mereka menulis, berbicara, menyuarakan pengalaman yang tak selalu nyaman didengar. Mereka membentuk komunitas, membongkar tabu, dan menantang narasi lama yang menyempitkan makna menjadi perempuan.

Bell Hooks (2000) mengatakan bahwa kesadaran feminis bukan sekadar soal menamai rasa sakit, tetapi soal mengubah rasa sakit itu menjadi kekuatan kolektif. Di situlah bahasa perempuan menemukan peran paling radikalnya sebagai alat penyembuhan dan pemberdayaan.

Perempuan, Luka, dan Ketabahan dalam Narasi

Banyak perempuan menyimpan kisah yang tak pernah selesai diceritakan. Kisah tentang pelecehan yang dianggap remeh. Tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dibungkus dalih “demi keharmonisan.” Tentang diskriminasi di tempat kerja, di mana suara mereka diredam demi stabilitas.

Namun di tengah luka itu, perempuan terus bangkit. Mereka menulis puisi saat tak mampu menangis. Mereka berbicara di panggung-panggung seminar, meski suara masih gemetar. Mereka mengubah ketakutan menjadi kekuatan, dan menjadikan bahasa sebagai ruang pembebasan.

Kini, melalui media sosial, podcast, blog, hingga ruang akademik, bahasa perempuan makin lantang. Makin jernih. Makin tajam. Mereka tidak lagi meminta ruang; mereka menciptakan ruang. Bukan untuk membalas, tetapi untuk menyembuhkan. Bukan untuk menguasai, tetapi untuk mengafirmasi kemanusiaan.

Tanggung Jawab Pendidikan Tinggi: Membangun Ruang yang Mendengar

Sebagai institusi pendidikan, kita tidak bisa netral dalam isu ini. Ketika perempuan tidak diberi ruang bicara, maka pendidikan kehilangan salah satu fungsi terdasarnya: keadilan.

Pendidikan tinggi harus lebih dari sekadar tempat menghafal teori feminisme. Ia harus menjadi tempat di mana perempuan aman untuk bercerita, untuk menangis, dan untuk menertawakan dunia yang dulu menertawakan mereka. Ia harus menjadi ruang keberanian dan pembebasan.

Sebagaimana ditegaskan Paulo Freire, “Education is the practice of freedom.” Pendidikan adalah alat transformasi sosial. Dan di dalamnya, suara perempuan harus ditempatkan bukan di pinggiran, tetapi di tengah.

Seminar bertema “Bahasa Perempuan di Tengah Kekerasan dan Kesuksesan” yang kami selenggarakan bukan hanya forum ilmiah. Ia adalah ruang pengakuan. Bahwa perempuan tidak hanya perlu dipelajari, tetapi juga didengarkan. Bahwa mereka bukan objek, tetapi subjek penuh martabat dan visi.

Kita Semua Punya Peran

Di ruang kelas, di rumah, di ruang publik, bahkan di media sosial, kita semua bisa memilih: apakah akan terus menggunakan bahasa yang menghakimi dan merendahkan, atau bahasa yang menguatkan dan memberdayakan?

Perempuan tidak butuh kasihan. Mereka butuh kesempatan. Tidak butuh didewakan. Mereka butuh didengar.

Perubahan sosial tidak selalu datang dari demonstrasi besar. Kadang, ia dimulai dari kata-kata yang kita pilih, dari sikap saat mendengar seorang perempuan berbicara tentang pengalamannya tanpa menyela, tanpa menyangsikan, tanpa menertawakan.

Penutup: Saatnya Mendengar dan Mengubah

Kita harus berani berkata bahwa bahasa kita bahasa sehari-hari, bahasa institusi, bahasa budaya perlu dibenahi. Perlu dimanusiakan. Karena ketika perempuan bisa bicara dan dunia mendengar, maka kemanusiaan kita telah bergerak selangkah lebih maju.

“When women speak truly, they speak subversively — they cannot help it.”
— Adrienne Rich

Profil Penulis :

Heryon Bernard Mbuik, S.PAK., M.Pd.K., M.Pd.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Citra Bangsa, penulis aktif di bidang pendidikan, gender, dan teologi kontekstual.

Ia konsisten mendorong integrasi keadilan sosial dalam praktik pendidikan tinggi dan kepemimpinan transformatif berbasis nilai-nilai humanis.

Komentar Anda?

Related posts