Cetak Guru Profesional dari Daerah, FKIP Undana Luncurkan PLP Domisili Perdana di TTS

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, SOE – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat perannya sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) melalui inovasi Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Domisili. Program yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini menjadi langkah strategis dalam mencetak guru profesional yang lahir dan mengabdi dari daerah.

Peluncuran PLP Domisili ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara FKIP Undana dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS di Soe, Senin (13/7/2026). Penandatanganan dilakukan oleh Dekan FKIP Undana, Prof. Malkisedek Taneo, didampingi Wakil Dekan I Damianus D. Samo dan Wakil Dekan II Jakobis J. Messakh, bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS.

Program tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan PLP Tahun Akademik 2026 yang melibatkan sekitar 1.740 mahasiswa FKIP Undana. Dari jumlah tersebut, 58 mahasiswa mengikuti skema PLP Domisili dengan penempatan di delapan SMP, enam SD, serta satu kelompok belajar di wilayah TTS selama empat hingga lima bulan.

Dekan FKIP Undana, Prof. Malkisedek Taneo, mengatakan PLP merupakan bagian penting dalam pembentukan kompetensi calon guru. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kuliah, tetapi juga mengalami secara langsung dinamika pembelajaran di sekolah.

“PLP menjadi wahana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian sebagai bekal menjadi guru yang berkualitas,” ujarnya.

Menurutnya, dalam kurikulum terbaru, PLP dikembangkan dalam dua tahapan. Tahap pertama difokuskan pada observasi lingkungan sekolah, budaya kerja, administrasi, serta tugas guru. Sementara tahap kedua memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melaksanakan praktik mengajar secara terbimbing maupun mandiri dengan pendampingan guru pamong dan dosen pembimbing.

Setiap mahasiswa juga diwajibkan melakukan refleksi bersama guru pamong dan dosen sebagai bagian dari evaluasi proses pembelajaran selama berada di sekolah.

Inovasi PLP Domisili menjadi terobosan baru karena memungkinkan mahasiswa melaksanakan praktik lapangan di daerah asal melalui kerja sama dengan pemerintah daerah. Selain mendekatkan mahasiswa dengan kebutuhan pendidikan di wilayahnya, program ini juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan terkait rekognisi pembelajaran.

Melalui skema tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengakuan untuk mata kuliah PLP sebesar 4 SKS, tetapi aktivitas mereka selama magang di sekolah juga dapat dikonversi menjadi minimal 10 SKS melalui rekognisi sejumlah mata kuliah yang relevan.

Dengan pola itu, pengalaman praktik di sekolah terintegrasi langsung dengan capaian pembelajaran di perguruan tinggi sehingga proses pendidikan calon guru menjadi lebih efektif dan kontekstual.

Usai penandatanganan PKS, FKIP Undana juga menggelar bimbingan teknis bagi kepala sekolah dan guru pamong sebagai persiapan pendampingan mahasiswa selama menjalani PLP Domisili.

Prof. Taneo berharap program tersebut menjadi model baru pendidikan guru yang mampu memberikan manfaat nyata, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi sekolah dan masyarakat.

“Melalui PLP Domisili, mahasiswa tidak hanya belajar menjadi guru, tetapi juga hadir memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu pendidikan di daerah asalnya. Ini merupakan implementasi nyata Merdeka Belajar sekaligus penguatan kolaborasi antara FKIP Undana dan pemerintah daerah,” tegasnya.

Melalui inovasi ini, FKIP Undana menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang berdampak, sekaligus melahirkan guru-guru profesional yang memahami karakteristik daerah dan siap menjadi penggerak peningkatan kualitas pendidikan di Nusa Tenggara Timur.

Komentar Anda?

Related posts