PORTALNTT.COM, KUPANG – Di sebuah sudut sunyi Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, duka itu terasa begitu pekat. Tangis tertahan, tatapan kosong, dan keheningan yang menyayat menyelimuti rumah sederhana tempat sebuah keluarga harus menerima kenyataan paling pahit: kehilangan seorang anak, seorang siswa sekolah dasar, yang seharusnya masih berlari dan tertawa menjemput masa depan.
Rabu, 4 Februari 2026, di tengah luka yang belum sempat mengering itu, negara hadir bukan dengan seragam kekuasaan, melainkan dengan empati. Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur datang membawa kepedulian, merangkul keluarga yang terpuruk dalam kesedihan mendalam.
Atas arahan langsung Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., Polda NTT menerjunkan Tim Psikologi dari Biro Sumber Daya Manusia untuk memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban. Langkah ini bukan sekadar prosedur, melainkan panggilan nurani.
Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa perhatian Kapolda NTT tertuju pada kondisi batin keluarga yang ditinggalkan.
“Bapak Kapolda memberikan atensi khusus agar keluarga korban tidak dibiarkan sendiri menghadapi duka sedalam ini. Kehadiran Tim Psikologi adalah wujud nyata Polri hadir untuk menguatkan, bukan menghakimi,” ujarnya lirih namun tegas.
Tim Psikologi Polda NTT dipimpin oleh Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan, didampingi Kasubbag Psipol Kompol Prasetyo Dwi Laksono serta Bripda Yoseph Alexander Rewo.
Setibanya di lokasi, mereka tidak datang dengan pertanyaan-pertanyaan kaku, tetapi dengan telinga yang mau mendengar, hati yang mau merasakan, dan kata-kata yang menenangkan.
Konseling, penguatan mental, dan terapi psikologis dilakukan secara perlahan dan penuh empati, menyesuaikan kondisi emosional keluarga yang masih diliputi shock dan kesedihan.
Pendekatan yang digunakan mengedepankan kemanusiaan: komunikasi yang menenangkan, sentuhan empatik, serta pendampingan intensif agar keluarga korban tidak merasa sendiri dalam menghadapi kehilangan yang begitu berat.
“Polri tidak hanya bertugas menegakkan hukum, tetapi juga hadir dalam misi kemanusiaan. Ini adalah bagian dari komitmen Kapolda NTT agar setiap anggota Polri selalu mengedepankan empati dan pelayanan kepada masyarakat,” jelas Kombes Henry.
Di tengah duka yang belum usai, kehadiran Tim Psikologi Polda NTT menjadi secercah cahaya—pengingat bahwa masih ada tangan yang terulur, masih ada bahu untuk bersandar.
Melalui pendampingan ini, Polda NTT berharap keluarga korban perlahan menemukan kembali kekuatan batin, ketenangan jiwa, dan keyakinan untuk melanjutkan hidup. Lebih dari itu, langkah ini menjadi refleksi komitmen Polda NTT di bawah kepemimpinan Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko dalam menghadirkan wajah Polri yang humanis, responsif, dan benar-benar hadir bersama masyarakat, terutama di saat-saat paling gelap dalam kehidupan.







