Dickson Haba Soroti Tingginya Kasus Kekerasan Anak di Sumba Timur, Asosiasi KDKMP NTT Turun Membantu

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Ketua Asosiasi KDKMP NTT, Dickson Xaverius Haba, menyoroti tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Kondisi tersebut mendorong Asosiasi KDKMP NTT turun tangan memberikan dukungan kemanusiaan bersama Yayasan Sabana Sumba.

Dickson mengatakan, keterlibatan organisasinya berawal dari proposal permohonan bantuan yang diajukan Yayasan Sabana Sumba terkait pendampingan anak-anak korban kekerasan seksual dan penelantaran.

“Kami tergerak karena banyak kasus kekerasan seksual dan penelantaran anak yang terjadi justru dilakukan oleh orang-orang terdekat korban. Ini persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama,” kata Dickson kepada media, Jumat (15/5/2026).

Menurut dia, Yayasan Sabana Sumba selama dua tahun terakhir aktif melakukan pendampingan terhadap anak-anak korban kekerasan melalui penyediaan rumah aman sementara di Kecamatan Pandawai, Sumba Timur.

Saat ini, yayasan tersebut mendampingi sedikitnya 24 anak korban kekerasan dan penelantaran. Sebanyak 12 anak tinggal di rumah aman, sementara 12 lainnya masih berada di lingkungan keluarga.

Kasus yang ditangani beragam, mulai dari kekerasan seksual oleh anggota keluarga, kekerasan oleh oknum tenaga pendidik, kekerasan dalam rumah tangga, hingga penelantaran anak.

“Anak-anak ini membutuhkan perlindungan hukum, pendampingan psikologis, dukungan pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan dasar secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dickson yang juga Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih itu menegaskan, dukungan Asosiasi KDKMP NTT tidak hanya sebatas bantuan fisik, tetapi juga mendorong perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum agar kasus-kasus kekerasan terhadap anak dapat ditangani secara serius.

Ia mengungkapkan, sebagian kasus memang sudah diproses hukum. Namun, masih banyak korban yang membutuhkan pendampingan lanjutan, termasuk kebutuhan biaya pemeriksaan dan tes DNA untuk pembuktian perkara.

Di sisi lain, Yayasan Sabana Sumba masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam menjalankan pelayanan. Rumah aman yang tersedia hanya memiliki dua kamar, sementara kebutuhan operasional dan tenaga pendamping profesional masih sangat terbatas.

Ketua Yayasan Sabana Sumba, Rambu Dai Mami, mengatakan pihaknya hadir untuk mendampingi anak-anak korban kekerasan agar tetap memiliki harapan hidup dan masa depan yang lebih baik.

“Kami hadir untuk berjalan bersama mereka, mendengar tanpa menghakimi, dan membantu mereka bangkit dari trauma,” ujarnya.

Untuk menjaga keberlangsungan pelayanan, para relawan yayasan selama ini menjalankan usaha mandiri seperti menjual kain tenun lokal, makanan tradisional, nasi kuning, hingga usaha kecil lainnya.

Meski demikian, hasil usaha tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pendampingan anak-anak korban kekerasan.

Yayasan Sabana Sumba saat ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, baik dalam bentuk bantuan dana, pakaian layak pakai, buku bacaan, perlengkapan sekolah, maupun kebutuhan bayi.

Dickson berharap semakin banyak pihak yang peduli terhadap persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumba Timur.

“Persoalan ini tidak bisa dibiarkan. Semua pihak harus hadir agar anak-anak korban mendapatkan perlindungan dan masa depan yang lebih baik,” tutupnya.

Komentar Anda?

Related posts