PORTALNTT.COM, KUPANG – Bukit Kasih Ministry NTT menggelar Ceramah Revolusioner 2026 sebanyak lima gelombang dalam kurun waktu lima minggu, yakni pada tanggal 20 September, 27 September, 11 Oktober, 18 Oktober, dan 25 Oktober 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Strategi Belajar dan Hidup di Perguruan Tinggi” yang bertujuan untuk membentuk pola pikir dan strategi hidup mahasiswa di perguruan tinggi.
Kegiatan yang diikuti 2.117 peserta tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Kupang dan sekitarnya. Peserta berasal dari UNDANA, POLITEKNIK KUPANG, UNWIRA, IAKN, UKAW, STIKES MARANATHA, UCB, MUHAMMADIYAH, UPG, STIKOM UYELINDO, UNDHARMA, SAN PEDRO, POLITANI, POLTEKKES, STIMIK serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Ceramah Revolusioner merupakan salah satu program pembinaan generasi muda yang secara konsisten dijalankan Bukit Kasih Ministry NTT selama kurang lebih 33 tahun. Organisasi ini didirikan pada 1993 oleh almarhum Pdt. Jasamen Sipayung, S.H., LL.M., bersama Pdt. Nurma Naibaho, S.H., yang pada awalnya bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Kota Kupang.
Menurut latar belakang pendiriannya, Bukit Kasih Ministry lahir dari keprihatinan saat melihat banyak mahasiswa/i yang melakukan kumpul kebo, sex bebas, prostitusi, pesta pora, pesta minuman keras yang merusak diri dan menghambat perkuliahan bahkan tidak bisa menyelesaikan studi (Drop Out).
Selama kurang lebih 33 tahun, Bukit Kasih Ministry NTT terus berupaya memberikan pembinaan melalui pendekatan rohani, pendidikan moral, dan penyampaian informasi mengenai berbagai persoalan sosial yang dihadapi generasi muda. Melalui Ceramah Revolusioner, mahasiswa diajak mengevaluasi pola pergaulan, membangun disiplin, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab demi masa depan dan keberhasilan pendidikan mereka.
Pendiri sekaligus pembicara tunggal Ceramah Revolusioner, Pdt. Nurma Naibaho, S.H., mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya preventif untuk membantu mahasiswa menghadapi tantangan kehidupan di lingkungan perguruan tinggi.
“Seperti yang kami ketahui, banyak mahasiswa yang mengalami drop out atau terlambat menyelesaikan kuliah hingga 14 semester karena pergaulan buruk selama berkuliah di Kota Kupang. Di kampung baik-baik, tetapi setelah masuk ke kota mulai mengenal seks bebas, vape, merokok, pacaran sembarangan, dan lain-lain yang sudah pasti dapat memengaruhi perkuliahan mereka. Oleh karena itu, setidaknya ada usaha preventif dari kami,” ujar Pdt. Nurma.
Dalam pemaparannya, Pdt. Nurma, yang juga merupakan Gembala Gereja Bukit Kasih Ministry NTT, menekankan bahwa perubahan hidup harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar keinginan atau motivasi sesaat.
Ia menyampaikan lima langkah yang perlu diterapkan mahasiswa, yaitu menemukan komunitas rohani yang saling mendukung, belajar dengan sungguh-sungguh, tidak menunda pengerjaan tugas, mendekatkan diri kepada Tuhan disertai pertobatan dari keterikatan pada dosa, serta senantiasa mengingat pengorbanan orang tua yang telah bekerja keras membesarkan dan membiayai pendidikan mereka.
Selain pembinaan moral dan rohani, materi Ceramah Revolusioner juga mencakup strategi belajar yang efektif, kiat menghadapi ujian, teknik membaca cepat dan tepat, cara mengatasi kebiasaan menunda pekerjaan, serta strategi menyelesaikan studi secara efisien dengan target prestasi akademik yang baik.
Ketua Pelaksana Ceramah Revolusioner 2026, Yosafat Sipayung, S.H., menyebut kegiatan tahun ini sebagai pelaksanaan dengan jumlah gelombang dan peserta terbanyak sepanjang sejarah Bukit Kasih Ministry NTT. Capaian tersebut menjadi hal yang istimewa karena proses sosialisasi dan perekrutan peserta dilakukan oleh tim yang relatif kecil yaitu 16 orang dari tim perekrut dan 40 orang volunter. Sementara itu, jumlah peserta yang terdaftar mencapai 2.814 orang dan peserta yang hadir selama lima gelombang mencapai 2.117 orang.
“Di luar ekspektasi. Semuanya ini semata-mata karena anugerah Tuhan. Kalau dengan kekuatan manusia, ini tidak dapat terjadi. Semoga melalui kegiatan ini membawa berkat dan dampak bagi banyak orang,” ujar Yosafat.
Ia berharap Ceramah Revolusioner tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi juga menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan mahasiswa.
Sebagai bagian dari kegiatan, setiap peserta memperoleh sertifikat fisik, makanan ringan, minuman, serta buku berjudul Pesan Moral: Bahaya Pergaulan Bebas, Free Sex, HIV/AIDS, Sunat Sifon, dan Lain-lain.
Melalui penyelenggaraan Ceramah Revolusioner 2026, Bukit Kasih Ministry NTT menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembinaan generasi muda agar mampu menjalani kehidupan yang lebih bertanggung jawab, mengembangkan potensi akademik, serta mempersiapkan diri untuk meraih masa depan yang lebih baik.






