Penulis: Daniel Timu
Editor: Jefri Tapobali
ROTE NDAO – Suasana di depan Mapolres Rote Ndao kembali memanas. Selasa (9/9/2025), ratusan massa dari Ikatan Mahasiswa Nusa Lontar (IKMAR-NTT) turun ke jalan pada hari kedua aksi mereka, mendesak aparat segera membebaskan Erasmus Frans Mandato yang kini mendekam di tahanan Polres Rote Ndao.
Mahasiswa menuding penahanan Erasmus sarat rekayasa dan menggunakan “pasal karet” yang mengaburkan keadilan.
“Ini bukan lagi soal hukum, tapi soal keberpihakan aparat: apakah bersama rakyat atau justru bersama korporasi?” teriak salah satu orator lantang dari atas mobil komando.
Massa bahkan menuding Kapolres Rote Ndao, AKBP Mardiono, gagal total melindungi kepentingan rakyat kecil dan lebih memilih berdiri di sisi perusahaan.
“Jika Kapolri tidak segera turun tangan, maka pesan yang sampai ke publik jelas: negara lebih memilih menjadi tameng korporasi daripada pelindung rakyatnya sendiri,” tegas seorang mahasiswa dalam orasinya.
Dalam aksi itu, nama besar Erasmus Frans Mandato kembali digaungkan. Ia dikenal sebagai mantan anggota DPRD dua periode, tokoh olahraga yang mengharumkan NTT di ajang PON, sekaligus penggerak pariwisata Rote Ndao.
“Dia bukan penjahat, dia pejuang. Apa yang diperjuangkan Erasmus adalah masa depan ekonomi lokal dan pariwisata Rote,” teriak massa, menolak cap kriminal yang disematkan padanya.
Tak hanya itu, massa bahkan menuntut Kapolri mencopot Kapolres AKBP Mardiono karena dinilai telah menunjukkan sikap buruk sebagai seorang pimpinan kepolisian.
Pantauan media, aksi yang berlangsung di depan Mapolres disertai pembakaran ban, dengan kawalan ketat aparat berseragam lengkap. Namun, situasi tak menyurutkan semangat mahasiswa yang terus melantangkan tuntutan.
Hingga berita ini diturunkan, demonstrasi masih berlangsung panas. Massa mengancam akan kembali mengepung Mapolres Rote Ndao hingga Erasmus Frans Mandato dibebaskan tanpa syarat.







