Hilarius Tanu: Anggota Menunggak Tidak Layak Jadi Peserta RAT Kopdit Swasti Sari

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Polemik pemilihan pengurus Kopdit Swasti Sari terus menjadi perhatian publik pasca pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-37 Tahun Buku 2025 yang digelar di Harper Kupang pada Minggu, 26 April 2026.

Sejumlah peserta RAT, mantan pengurus, dan anggota koperasi menyoroti berbagai persoalan yang dinilai mencederai proses pemilihan pengurus, mulai dari tahapan administrasi calon, Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK), hingga dugaan keterlibatan peserta yang tidak memenuhi syarat sebagai utusan resmi cabang.

Salah satu anggota aktif dan loyal sekaligus mantan Pengurus Kopdit Swasti Sari, Hilarius Tanu, menegaskan bahwa peserta RAT seharusnya dipilih secara ketat dan hanya berasal dari anggota yang benar-benar memiliki rekam jejak loyal terhadap koperasi.

Menurut Hilarius, utusan RAT merupakan representasi terbaik dari setiap cabang. Mereka seharusnya telah mengikuti pra-RAT, dipilih secara resmi, serta memiliki catatan yang baik sebagai anggota.

“Anggota yang hadir ikut RAT harus loyal terhadap Kopdit Swasti Sari, tertib menyimpan, dan jika memiliki pinjaman harus disiplin mengangsur tepat waktu. Mereka yang seperti itu layak menjadi utusan cabang,” tegas Hilarius kepada media pada Minggu, 10 Mei 2026.

Ia menambahkan, keikutsertaan dalam RAT merupakan bentuk penghargaan dari lembaga kepada anggota-anggota yang telah menunjukkan komitmen dan loyalitas.

Namun, Hilarius mengaku prihatin setelah menerima informasi bahwa ada peserta yang diduga masih memiliki tunggakan, tetapi tetap diizinkan mengikuti forum tertinggi koperasi tersebut.

“Kalau ada anggota yang masih bermasalah tetapi tetap diberi ruang hadir, publik tentu bertanya apa kepentingannya. Jangan sampai ada peserta titipan untuk mengamankan kepentingan tertentu,” ujarnya.

Hilarius juga menyoroti kemungkinan adanya pergantian utusan cabang di tengah proses tanpa penjelasan yang jelas.

“Kalau sudah ditentukan dan diputuskan dalam Pra RAT lalu di tengah jalan diganti, tentu menjadi pertanyaan besar. Kenapa harus diganti dan siapa yang berkepentingan?” katanya.

Hilarius menilai polemik pemilihan pengurus Kopdit Swasti Sari sebenarnya telah muncul sejak proses pencalonan pada tahun sebelumnya.

Persoalan administrasi dan tahapan UKK disebut telah menimbulkan perdebatan panjang yang terus berlanjut hingga pelaksanaan RAT.

“Situasi RAT kemarin menunjukkan bahwa Swasti Sari memang sedang tidak baik-baik saja. Polemiknya sangat besar, terutama dalam proses pemilihan pengurus,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa koperasi sebesar Kopdit Swasti Sari tidak boleh dikelola berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

“Kopdit Swasti Sari adalah lembaga keuangan milik masyarakat kecil yang dibangun dengan semangat kebersamaan. Ini bukan milik segelintir orang,” tegasnya.

Hilarius menyatakan dukungannya terhadap peran media dalam mengawal transparansi dan akuntabilitas di tubuh koperasi.

“Saya sangat sepakat media menjalankan fungsi kontrol terhadap polemik ini. Persoalan yang berlarut-larut ini diduga bukan lagi murni demi kepentingan Kopdit Swasti Sari,” katanya.

Seorang pengurus yang hadir dalam RAT mengaku kecewa karena banyak peserta baru yang dinilai tidak memahami aturan forum namun aktif memicu dinamika dalam RAT. TB 2025.

“Sangat disayangkan mereka menunjukkan kehebatan di forum, padahal ada syarat khusus untuk hadir sebagai peserta RAT perwakilan cabang,” ujarnya, Minggu, 10 Mei 2026.

Menurutnya, RAT membutuhkan biaya besar sehingga prosesnya harus berlangsung efektif demi menjaga kepercayaan anggota.

“Kita gelar RAT dengan biaya besar. Ego pribadi bisa membuat lembaga runtuh jika tidak dikendalikan,” katanya.

Sementara itu, seorang anggota peserta RAT, Jefri Tapobali juga mengaku, telah mempertanyakan keabsahan sejumlah peserta sejak awal forum, namun tidak mendapat penjelasan terbuka dari manajemen.

“Jangan sampai ada peserta siluman hadir dengan misi berbeda,” tegasnya.

Polemik ini kini terus menjadi perhatian anggota dan masyarakat luas.

Banyak pihak berharap pembenahan dilakukan secara transparan dan profesional agar kepercayaan publik terhadap Kopdit Swasti Sari tetap terjaga.

Sebagai salah satu koperasi kredit terbesar di Indonesia, Kopdit Swasti Sari diharapkan mampu menyelesaikan seluruh persoalan internal secara terbuka, sesuai prinsip-prinsip koperasi dan semangat kebersamaan yang diwariskan para pendirinya (para Leluhur- red).

Hingga berita ini ditayangkan untuk kepentingan publik, awak media terus berupaya membuka ruang klarifikasi terhadap pihak lembaga untuk mendapkan kejelasan.

Komentar Anda?

Related posts