Jejak Musafir Pakistan di Kupang: Kisah Doa, Silaturahmi, dan Keberkahan yang Tak Terlupakan

  • Whatsapp

Penulis: Daniel Timu

PORTALNTT.COM, KUPANG — Tahun 1987 menjadi saksi sebuah kisah kemanusiaan dan spiritual yang hingga kini masih hidup dalam ingatan banyak warga Kupang. Pada bulan suci Ramadan tahun itu, seorang musafir asal Pakistan, Haji Malik Mahboob Ahmad, singgah di Kupang dengan niat melanjutkan perjalanan ke Australia. Tak disangka, persinggahan singkat itu justru menorehkan jejak panjang penuh makna bagi masyarakat setempat.

Di sebuah masjid sederhana, Haji Malik bertemu dengan Bapak Usman Siddin, sosok yang kemudian ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Kedekatan itu berlanjut ketika Pak Usman mengajak sang musafir meninggalkan Wisma Rahmat—tempat ia menginap—untuk tinggal di rumahnya. Ajakan itu lahir dari niat tulus agar ibadah puasa dan ibadah Ramadan Haji Malik dapat dijalani dengan khusyuk, tanpa gangguan, serta dilayani sepenuh hati.

Meski rumah Pak Usman sangat sederhana dan dihuni banyak anak, satu kamar disediakan khusus bagi tamu Allah tersebut. Sejak saat itu, suasana rumah Pak Usman perlahan berubah. Kabar tentang seorang musafir dari Pakistan yang dikenal alim, rendah hati, dan penuh kasih menyebar dari mulut ke mulut. Warga dari berbagai latar belakang mulai berdatangan—tanpa undangan, tanpa pungutan.

Mereka datang dengan berbagai hajat: memohon doa, meminta nasihat hidup, berkonsultasi tentang ikhtiar usaha, kesehatan, hingga pengobatan herbal dan terapi. Semua diterima dengan ketulusan. Tidak ada tarif, tidak ada janji berlebihan. Haji Malik selalu menegaskan bahwa dirinya hanyalah hamba Allah yang lemah, dan semua keberhasilan semata-mata datang dari Allah SWT melalui doa, ikhtiar, dan amal saleh sesuai syariat.

Salah satu kisah yang masih dikenang adalah pengalaman almarhum Bapak Lakatonde, seorang nelayan yang hampir setahun gagal melaut dan terlilit utang. Setelah berkonsultasi melalui perantaraan Pak Usman, ia mengikuti saran terkait waktu melaut, ibadah, serta amalan. Tak lama berselang, hasil tangkapan melimpah menghampirinya. Esok harinya, ia kembali dengan penuh syukur, membawa oleh-oleh sebagai tanda terima kasih.

Fenomena serupa dialami banyak orang: pejabat, pengusaha, masyarakat kecil, hingga mereka yang tengah diuji dalam kesehatan dan ekonomi. Rumah Pak Usman pun menjadi pusat silaturahmi dan doa. Rezeki mengalir bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga solidaritas sosial. Bahkan, beberapa warga asing yang mengalami overstay dibantu hingga dibelikan tiket kepulangan.

Ketika masa tinggal Haji Malik berakhir dan visanya tidak dapat diperpanjang, gelombang dukungan datang dari berbagai pihak. Banyak warga bersedia menjadi penjamin. Meski harus melalui prosedur imigrasi, termasuk penahanan sementara, ia akhirnya diberangkatkan dengan hormat dari Pelabuhan Tenau menuju Jakarta, bahkan dengan perhatian khusus dari berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh daerah.

Perjalanan hidup Haji Malik kemudian berlanjut sebagai pengusaha permadani rajutan tangan bernilai spiritual tinggi, berbahan halal dan thayyib, tanpa bahan kimia. Karyanya dikenal memiliki nilai seni, filosofi, dan energi positif. Tak heran, permadani tersebut dipercaya oleh para pemimpin dunia dan tokoh bangsa.

Enam Presiden Republik Indonesia dari masa ke masa pernah bersentuhan dengan karya dan doa beliau—mulai dari Gus Dur, BJ Habibie, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo Subianto. Bagi Haji Malik, semua itu bukanlah ramalan politik, melainkan doa, ikhtiar, dan keyakinan bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali Imran ayat 26.

Meski sering dikaitkan dengan berbagai peristiwa besar bangsa, Haji Malik tetap menjaga jarak dari politik praktis. Ia memilih berdoa dalam diam, mengirimkan pesan kebaikan melalui permadani dan silaturahmi, tanpa meminta fasilitas ataupun panggung.

Hingga kini, silaturahmi dengan keluarga Pak Usman dan masyarakat Kupang tetap terjaga. Banyak warga menjadi saksi bahwa setelah kepergian beliau, keberkahan tetap mengalir, tanpa rasa kehilangan. Kisah ini menjadi pengingat bahwa ketulusan, penghormatan kepada tamu, dan doa yang ikhlas mampu menghadirkan perubahan besar, bahkan melampaui batas ruang dan waktu.

Komentar Anda?

Related posts