Home / Daerah / Kisah Paulus Adu, Warga Desa Lentera Yang 17 Tahun Hidup Dalam Gubuk Sederhana

Kisah Paulus Adu, Warga Desa Lentera Yang 17 Tahun Hidup Dalam Gubuk Sederhana

1202 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

PORTALNTT.COM, ROTE NDAO – Adalah Paulus Adu, warga Dusun Mbalo, Desa Lentera, Kec. Rote Barat Daya yang sudah 17 tahun hidup dalam gubuk sederhananya ini bisa dikatakan luput dari perhatian Pemerintah setempat.

Sebab rumah yang sudah tidak layak huni yang kini di tempati oleh Paulus Adu dan keluarganya, kondisi fisik rumah itu sudah sangat memprihatinkan sejak tahun 2003 lalu.

Seperti saat dikunjungi oleh media ini di kediamannya, di Dusun Mbalo, Desa Lentera. Rumah yang terlihat bagaikan sebuah gubuk derita ini tampak sangat menyedihkan dan menyayat hati setiap mata yang melihatnya.

Mulai dari kondisi lantai yang masih beralaskan tanah, dinding rumah yang dibuat dari pelepah kelapa dan papan yang juga sudah lapuk dan berlubang akibat dimakan rayap hingga atap yang beralaskan daun lontar yang sudah rusak parah dan bahkan selalu bocor jika diguyur hujan.

Kepada media ini, Paulus Adu mengungkapkan bahwa dirinya juga tidak pernah memaksa pemerintah untuk memberikan bantuan padanya, sebab dia juga beranggapan bahwa mungkin masih ada yang jauh lebih parah dari kondisinya yang perlu diperhatikan oleh pemerintah juga.

“Kami tidak memaksa, mungkin masih ada yang lain yang lebih layak untuk dibantu oleh pemerintah. Karna bagi saya, berkat Tuhan selalu ada,”

ungkap Paulus Adu.

Namun Paulus Adu juga mengungkapkan bahwa benar selama ini sudah sangat sering, hampir setiap tahuh selalu saja ada perangkat desa yang mendata dan memfoto rumahnya dengan janji bahwa akan di beri bantuan rumah. Tapi sampai detik ini bantuan itu tidak pernah tiba.

Bahkan Paulus Adu juga menjelaskan bahwa waktu musyawarah dusun Mbalo pada sekitar bulan Agustus lalu namanya sudah terpilih atas kesepakatan masyarakat Dusun Mbalo untuk menjadi prioritas penerima Bantuan Rumah Layak Huni yang anggarannya berasal dari Dana Desa Lentera Tahun 2021. Tapi entah kenapa, sampai di musyawarah tingkat Desa, namanya justru diganti oleh seorang warga lainnya yang baru berumah tangga dan baru membangun sebuah rumah sederhana juga pada sekitar bulan Maret tahun 2020 ini.

“Waktu musyawarah di dusun, masyarakat sepakat untuk nama saya masuk sebagai penerima bantuan RLH tahun 2021. Tapi sampai di musyawarah Desa, nama saya sudah diganti dengan orang lain,” ungkap Paulus Adu.

Menelusuri polemik penetapan daftar nama calon penerima Bantuan RLH di Desa Lentera untuk tahun 2021. Media ini pun menghubungi Nipjono B.B. Nalle yang waktu musdes lalu masih menjabat sebagai Pj Kades Lentera.

Nipjono mengungkapkan bahwa waktu penetapan calon penerima RLH Desa Lentera untuk tahun 2021, dirinya juga belum tau jelas hasil musdus di Mbalo.

“Waktu itu khusus untuk Dusun Mbalo masih belum di tentukan siapa penerimanya. Jadi coba tanya ke Sekretaris Desa atau Pj Kades yang sekarang,” ungkap Nipjono.

Sementara itu, Asri B.M Luttu selaku Sekretaris Desa Lentera saat dikonfirmasi media ini melalui sambungan selular pada, Senin (7/12/2020) menjelaskan bahwa memang awalnya hasil musdus di Mbalo sepakat untuk Paulus Adu sebagai calon penerima bantuan RLH Desa Lentera Tahun 2021. Tapi saat di Musdes, di ganti ke Yosi Adu atas usulan dari Kepala Dusun Mbalo dan Bendahara Desa Lentera.

“Memang benar di Musdus sepakat nama Paulus Adu yang masuk sebagai calon penerima RLH, tapi Kepala Dusun Mbalo (Yermias Nalle) dan Bendahara Desa Lentera (Anton Nalle) yang minta digantikan ke Yosi Adu,”

ungkap Asri Luttu.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pemerintahan Desa (Kabid Pemdes) Dinas PMD Kab. Rote Ndao, Maria Dolorosa Bria, S.PI, MEnv.Sc saat dimintai tanggapannya oleh media ini melalui sambungan selular pada Senin sore (7/12/2020) menjelaskan bahwa harusnya pihak desa sudah punya data akurat terkait rumah-rumah warganya yang masih tidak layak huni, agar bisa tau jelas mana yang harusnya di prioritaskan lebih dulu.

“Harusnya Kades sudah punya data rumah warga yang tidak layak huni. Atas dasar data itulah baru pilah lagi mana yang lebih di prioritaskan, dalam hal dilihat dari tingkat kerusakan atau ketidaklayakan rumah, mereka yang harusnya dikasih bantuan RLH lebih dulu. Jangan yang baru nikah atau yang KK gantung dikasih bantuan sedangkan masih ada warga lain yang rumahnya sudah lama rusak tapi di abaikan,” jelas Maria Bria.

Sementara itu Pj Kades Lentera, Ronald Haning,SH belum berhasil dikonfirmasi, karna saat dihubungi media ini melalui sambungan selular pada Senin (7/12/2020) yang bersangkutan mengaku masih sibuk dan akan konfirmasi lagi dengan media ini.

 

Penulis: Daniel Timu

Editor: Jefri Tapobali

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]