Launching Siber Sehat NTT, UNDANA dan Pemprov NTT Nyatakan Perang terhadap Adiksi Digital Anak

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Fenomena kecanduan gawai dan media sosial pada anak-anak kini menjadi perhatian serius Universitas Nusa Cendana bersama Pemerintah Provinsi NTT.

Melalui peluncuran Kampanye Siber Sehat NTT, pemerintah dan kalangan akademisi sepakat bahwa adiksi digital bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan mental generasi muda.

Rektor Undana, Prof. Jefri S. Bale, menegaskan penggunaan gawai yang tidak terkendali dapat memicu pelepasan dopamin di otak, serupa dengan mekanisme kecanduan rokok maupun alkohol.

“Setiap notifikasi dan aktivitas scroll di media sosial memberikan rasa senang sesaat yang membuat otak terus menuntut lebih. Akibatnya, anak-anak kehilangan fokus, gelisah ketika jauh dari koneksi internet, bahkan menjadikan gawai sebagai pelarian dari masalah di dunia nyata,” ungkap Rektor dalam sambutannya saat launching Siber Sehat NTT di arena CFD, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut sudah masuk dalam kategori krisis kesehatan mental yang harus segera ditangani secara serius, terukur, dan melibatkan semua pihak.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program Pemerintah Provinsi NTT, Undana hadir sebagai mitra strategis melalui pendekatan ilmiah dan psikologis lewat Layanan Psikologi Terpadu Undana.

Dalam program tersebut, Undana menyiapkan tiga langkah utama untuk mendukung Kampanye Siber Sehat NTT.

Pertama, penyusunan alat ukur deteksi adiksi digital guna memetakan tingkat paparan kecanduan gawai di tengah masyarakat.

Kedua, penyediaan materi edukasi kampanye berbasis kajian psikologi agar lebih mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ketiga, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) layanan psikologis bagi masyarakat yang telah mengalami kecanduan digital berat dan membutuhkan penanganan profesional.

Tidak hanya berhenti pada konsep akademik, kata Rektor, Undana juga menerjunkan langsung puluhan mahasiswa relawan ke tengah masyarakat.

“Sebanyak 60 mahasiswa dari Program Studi Psikologi Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Unit Kegiatan Mahasiswa Kehumasan Undana turun ke ruang-ruang publik untuk memberikan edukasi langsung mengenai bahaya adiksi digital,” jelas Rektor.

Para relawan mengampanyekan sejumlah langkah sederhana yang bisa diterapkan di lingkungan keluarga, seperti menciptakan zona bebas telepon genggam di rumah, khususnya di meja makan dan kamar tidur.

Masyarakat juga diajak untuk menghindari penggunaan telepon seluler selama 30 menit pertama setelah bangun tidur serta mulai mengganti kebiasaan menatap layar dengan aktivitas positif seperti olahraga, berkebun, membaca buku, hingga membangun komunikasi tatap muka bersama keluarga.

Undana menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk nyata konsep “Kampus Tanpa Dinding”, di mana perguruan tinggi hadir langsung di tengah masyarakat untuk menjawab persoalan sosial yang nyata.

“NTT tidak hanya harus maju secara teknologi, tetapi juga harus melahirkan manusia-manusia yang sehat mental, tangguh, dan mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi,” tegas Rektor Undana.

Sementara itu, Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyoroti bagaimana telepon genggam perlahan telah menggantikan banyak aktivitas kehidupan manusia.

Menurut Melki, jika penggunaan teknologi tidak diatur dengan baik, maka algoritma media digital akan mengambil alih cara berpikir masyarakat.

“Negara tidak boleh kalah oleh algoritma. Algoritma menentukan apa yang menjadi keinginan dan kehendak kita, bahkan perlahan mengambil kebebasan berpikir manusia. Kalau begitu, apa bedanya dengan narkoba?” tegas Melki.

Ia mengungkapkan, pemerintah pusat telah menerbitkan berbagai regulasi untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif ruang digital, termasuk Peraturan Pemerintah tentang perlindungan anak di ruang digital yang telah ditandatangani Presiden Prabowo Subianto.

Selain itu, pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan dari Kementerian Komunikasi dan Digital serta didukung Peraturan Gubernur NTT tentang jam belajar masyarakat.

“Kita arahkan dan kendalikan agar ruang siber di NTT benar-benar sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Kita berharap ruang digital di NTT menjadi lebih sehat dan mampu membentuk masyarakat yang cerdas serta bijak dalam menggunakan teknologi,” ujarnya.

Melalui Kampanye Siber Sehat NTT, Pemerintah Provinsi NTT bersama Undana berharap masyarakat tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menjaga kesehatan mental serta tetap merdeka dalam berpikir di tengah derasnya arus digitalisasi.

Komentar Anda?

Related posts