MeJa Rakyat Yang Tak Merakyat

  • Whatsapp
Gubernur NTT, Melki Laka Lena saat meresmikan sekretariat MeJa Rakyat. (Istimewa)

Ayo Bangun NTT Tanpa Meninggalkan Air Mata

PORTALNTT.COM, KUPANG – Sejak diluncurkan tanggal 14 Maret 2025, Ruang pengaduan MeJa Rakyat (Melki Johni Melayani Masyarakat) telah menerima 131 pengaduan berdasarkan data pada website Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi NTT.

Read More

Dari jumlah tersebut, 120 laporan telah ditindaklanjuti. Ada 3 laporan yang tidak dapat ditindaklanjuti karena 2 laporan bersifat pribadi, dan 1 berstatus data tidak lengkap. Ada juga yang masih berproses di Perangkat Daerah dan yang lainnya sedang melengkapi data dukung.

Dari semua pengaduan itu, ada satu pengaduan yang datang dari Ibu Margarita Lusi, Guru SMA Negeri 1 Rote Barat. Ia menjadi orang pertama yang secara langsung langsung mengadu di MeJa Rakyat, (17/3/2025).

Pahlawan tanpa tanda jasa itu menemui jalan buntu. Ia datang dengan segudang asa untuk mencari keadilan lantaran dipensiunkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT sebelum waktunya.

Namun perjuangannya harus berakhir tragis, lantaran titah penguasa tak bisa ditarik kembali. Ia yang sejak awal mengabdi sebagai seorang guru, dalam SK pensiun yang ditandatangani Gubernur NTT, Melki Laka Lena, hanya sebagai tenaga Fungsional Umum.

SK Pensiun Ibu Margarita Lusi, TMT Pensiun 1 Februari dan baru ditandatangani Gubernur NTT, Melki Laka Lena tertanggal 4 Maret 2025.

Mungkin terlihat aneh, tapi itulah realita yang terjadi di bumi Flobamorata. Rupanya pelesatan NTT sebagai Nasib Tak Tentu benar-benar dirasakan oleh Margarita Lusi.

Puluhan tahun mengabdikan diri, mendidik anak bangsa, mendapat tunjangan fungsional guru, dan sertifikasi guru, tidak menguatkan statusnya sebagai seorang guru. Para penguasa tak sedikitpun lunya nurani untuk melihat itu agar bisa ditinjau proses pensiun yang terkesan super kilat.

Sebagai Gubernur, Melki Laka Lena sudah memerintahkan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT dan Biro Hukum Setda Provinsi NTT untuk mencarikan solusi buat persoalan yang dihadapi Margarita Lusi.

Solusi yang mereka berikan adalah uang sepuluh juta rupiah dengan syarat Margarita Lusi tidak boleh lagi menuntut haknya terkait SK pensiun. Rupanya, uang masih menjadi senjata utama untuk membungkam mulut bagi pencari keadilan.

SK kenaikan gaji berkala Ibu Margarita Lusi yang ditandatangani Kadis P&K NTT.

Hal ini mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi Ibu Margarita Lusi karena kehilangan gaji selama masa kerja 2 tahun di tambah sertifikasi guru yang jumlahnya sebesar 1 x gaji pokok.

Jika dijumlahkan antara gaji pokok ditambah sertifikasi guru selama 2 tahun maka, Ibu Margarita Lusi kehilangan uang sebanyak Rp. 206.457.600 (gaji pokok 4.301.200 + sertifikasi 4.301.200 x 24 bulan).

Bahkan akibat dipensiunkan sebelum waktunya, Ibu Margarita Lusi masih memiliki angsuran di Bank yang jumlahnya masih Rp 118 juta. Hal itu tidak akan jadi beban jika pensiun di tahun 2027 karena sesuai perhitungan Bank setelah melakukan pemeriksaan administrasi SK dan pengecekan di sekolah tempat Ibu Margarita Lusi bekerja akan pensiun di tahun 2027.

Kasus yang dialami Margarita Lusi adalah cermin betapa kelabunya nasib orang kecil di negeri ini. Dia tak hanya dirugikan secara materi akibat dipensiunkan, tapi bathinnya sungguh terluka lantaran dia yang selalu mendidik seseorang menjadi manusia justru tak berguna kala nasibnya dipermainkan.

Dibantu Bayar Cicilan 1 Tahun, Tangis Margarita Lusi Pecah di Pangkuan Yushinta Nenobahan

Kisah pilu tentang nasib Margarita Lusi yang dipensiunkan dini oleh Pemprov NTT dan diberi imbalan 10 juta rupiah untuk tak lagi menuntut haknya, telah menggetarkan hati permpuan Timor yang telah sukses di Ibu Kota itu.

Ucie, sapaan akrab Yushinta Nenobahan mengatur semua keberangkatan Margarita Lusi pulang pergi Rote – Jakarta. Dia ingin berbagi kasih dari berkat yang dititipkan Tuhan baginya.

Sebagai anak yang lahir dari rahim seorang guru, Ucie merasa resah dan tidak tenang ketika ada guru yang diperlakukan tidak adil oleh sebauah kekuasaan. Semestinya, pemimpin harus mengayomi dan melindungi, bukan membungkam dan menciderai hak orang kecil.

Yusinta Nenobahan Syarief memberikan bantuan Rp 25juta kepada Ibu Margarita Lusi untuk membayar cicilan di Bank selama 1 tahun.

Itulah kenapa, ketika berita tentang nasib Margarita Lusi sampai ke telinga Yushinta nenobahan, dia lalu membuka hati dan tangannya untuk memeluk seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang sedang tak berdaya di ujung nasib.

Margarita Lusi tidak menyangka jika ada orang yang demikian perhatian dan memberi diri untuk menopangnya dalam waktu bimbang dan rapuh.

Dia telah ikhlas menerima apa yang telah menjadi takdirnya. Luka yang ditorehkan penguasa, dia bungkus dalam tangis dan doa malamnya. Bagi Margarita Lusi, menjahit luka sudah menjadi nasib orang kecil di negeri bernama Flobamora.

 

Bertemu Gubernur di Bandara Saat Hendak Pulang Ke Kupang, Margarita Lusi Enggan Temui Orang Nomor Satu di NTT

Saat hendak pulang ke Kupang, Rabu 23 April 2025, Ibu Margarita Lusi bertemu dengan Gubernur NTT, Melki Laka Lena bersama anggota DPRD Provinsi Muhammad Ansor di ruang tunggu bandara Seoekarno Hatta Jakarta.

Walaupun sudah bertemu secara langsung, Ibu Margarita Lusi enggan bertemu atau berjabat tangan dengan pemimpin yang dulu dipilihnya.

Margarita Lusi merasa diri, sekelas Gubernur tidak selevel bertemu dengan dirinya yang hanyalah rakyat biasa. Dia telah ikhlas menerima apa yang telah menjadi takdirnya.

Luka yang ditorehkan penguasa, dia bungkus dalam tangis dan doa malamnya. Bagi Margarita Lusi, menjahit luka sudah menjadi nasib orang kecil di negeri bernama Flobamora. Ayo Bangun NTT, Tanpa Meninggalkan Air Mata.

Komentar Anda?

Related posts