Home / Daerah / Memberi Makna Menerima Baptisan (Mrk. 2:1-12)

Memberi Makna Menerima Baptisan (Mrk. 2:1-12)

101 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

Oleh: Drs. Fransiskus Sili, MPd

Dua orang penumpang duduk berdampingan dalam sebuah bis umum. Mereka tidak saling kenal sebelumnya, namun panjangnya perjalanan dan melelahkan membuat keduanya berkenalan dan terlibat dalam suatu percakapan yang hangat. Melibatkan  atau terlibat adalah kata biasa yang sebenarnya tak punya makna istimewa. Namun sering berubah makna karena pengalaman atau peristiwa tertentu.

Bagaimanapun sering nada kata ini menimbulkan rasa ngeri atau momok bagi banyak orang, misalnya mereka terlibat dalam gerakan terlarang; suatu kenyataan yang yang dapat dipungkiri ialah bahwa  semua orang terlibat  dalam hidup bersama orang lain. Itulah konsekuensi sosialitas manusia. Para pemenang Pilkada serentak yang menerima hasil pemilihan rakyat, pada waktunya akan dilantik dan diambil sumpah sebagai calon pemimpin. Melalui pelantikan dan sumpah itu mereka ingin melibatkan diri dalam  kepentingan banyak orang, khususnya warga masyarakat pemilih, entah yang sebelumnya ikuut memilihnya atau tidak. Demi mensukseskan keterlibatan itu ia bersumpah/berjanji dengan meletakkan tangan di atas kitab suci, bahwa ia akan menjalakan tugas kepemimpinan dengan baik, tidak korupsi dan manipulasi dan sejenisnya yang bertentangan dengan hukum dan moral. Sasaran keterlibatannya adalah kepentingan jasmani dan rohani seluruh rakyatnya.

Kalau pada awal tahun pelajaran banyak calon siswa dan mahasiswa lulus tes masuk dan diterima, itu berarti mereka hendak melibatkan diri di sekolah atau kampus itu demi mencapai tujuan hidupnya. Itulah sebabnya kadar atau mutu keterlibatan seseorang merupakan faktor penentu keberhasilan hidup atau keberhasilan suatu kepemimpinan dalam organisasi atau kelompok tertentu.

Keterlibatan dimana semua pihak  menunjukkan rasa tanggungjawab yang tinggi, partisipasi aktif dan produktif dalam segala kegiatan bersama, memelihara disiplin atau tata tertib, punya kepekaan terhadap kesulitan sesama, mengakui kelebihan orang lain, menerima dan menghargai diri dan orang lain apa adanya. Singkatnya,lebih memberikan sumbangan kepada organisasi/kelompok daripada melulu menuntut. Kalau semua anggota  hanya menuntut tanpa memenuhi pasti tujuan kelompok tak akan tercapai dan organisasi atau kelompok itu bakal hancur secara perlahan.

Injil pada Hari Minggu Pesta Pembaptisan Tuhan ini mengisahkan awal keterlibatan Yesus dalam suka duka umat manusia sebagai Imam, Nabi dan Raja. Kepada orang banyak Yohanes Pembaptis berkata: Sesudah aku, akan datang Dia yang lebih berkuasa daripadaku, membungkuk dan membuka tali kasutNya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Dia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”. Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nasareth di tanah Galilea dan Ia dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Pada saat Ia keluar dari air, ia melihat langit terbuka dan Roh seperti burung merpati turun ke atasNya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Putera KesayanganKu, Engkau berkenan di hatiKu”.

Penginjil Markus membatasi diri pada usaha meyakinkan para pembacanya akan ke-Allah-an Yesus Kristus, menceritakan peristiwa pembaptisan Yesus dengan sangat singkat. Penginjil Mateus menceritakannya lebih panjang dengan mengetengahkan dialog antara Yohanes dengan Yesus (Mat. 3:13-17).

Peristiwa yang sama dikisahkan oleh Injil Yohanes dan Lukas. Kenapa ketiga Injil Synoptik dan Injil Yohanes menceritakan kisah ini bersamaan meski dengan versi berbeda? Kiranya mau menunjukkan bahwa  peristiwa pembaptisan Yesus sangat penting. Bahwa Yesus, Mesias terjanji mengawali tugas perutusanNya dengan pengangkatan dan pelantikan  oleh BapaNya yang kemudian dikukuhkan lagi di atas gunung Tabor pada peristiwa tranfigurasi, dengan ucapan: “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk. 9:35).

Hal yang menarik dari peristiwa  ini adalah bahwa Yesus dibaptis pada umur 30 tahun, suatu usia seorang manusia dewasa. Tentu bukannya tanpa alasan. Peristiwa pembaptisan memiliki hubungan erat dengan panggilan dan perutusan. Selanjutnya bahwa pembaptisan ini dirayakan dalam masa Natal dan sekaligusnya mengakhirinya. Jadi alasannya adalah karena pembaptisan punya hubungan dengan misteri inkarnasi, Allah menjelma menjadi Manusia.

Jelasnya, pembaptisan adalah  awal dari inkarnasi Allah dengan dunia. Allah senantiasa peduli dan terlibat dengan suka duka manusia. Manusia diciptakanNya dan karyaNya itu diperbaharui. Ia dilahirkan sebagai manusia, disunat dan diberi nama pada, pada umur 12 tahun sudah mulai terlibat dalam soal jawab dengan  para pemimpin agama, terlibat dalam kebodohan dan kemiskinan manusia, dalam sakit dan penderitaanNya. Itu semua mendorongNya untuk mengajar dan menyembuhkan  dalam penderitaan batin orang berdosa. Ia membiarkan kakiNya dioles dengan minyak oleh perempuan berdosa yang mengeringkannya dengan rambut kepalanya.  Puncak dari keterliabatan itu ialah Ia menyerahkan DiriNya mati di salib. Semua keterlibatanNya itu menunjukkan  kepada manusia  bagaiaman seharusnya manusia harus hidup sesuai dengan martabatnya dan tugas panggilannya untuk terlibat dengan hidup rakyatnya, anak didiknya, para karyawannya, anggota keluarga atau komunitas hidup yang menjadi bagian hidupnya.

Keterlibatan Yesus dengan Yohanes Pembaptis dan sebaliknya Yohanes dengan Yesus memperlihatkan dua Pribadi yang sungguh mengagumkan. Yohanes mengenal dirinya dan karena itu ia tahu pula menempatkan posisi dan peranannya. Dengan jujur ia mengakui bahwa dia bukan Mesias, bahwa yang datang sesudah dia adalah lebih besar daripadanya, bahkan membungkuk dan membuka tali kasutNya pula dia tidak layak. Ia pun tidak berkecil hati melihat para muridNya menggabungkan diri dengan kelompok Yesus, dia hanyalah suara orang yang berseru-seru di padang gurun; dia bukanlah apa-apa. Malah dia mengatakan. Lebih dari itu ia mengatakan: “Inilah sukacitaku dan sekarang sukacitaku menjadi penuh. Dia harus menjadi semakin besar dan aku harus semakin kecil” (Yoh. 2:29-30). Dari pihak Yesus, memuji Yohanes dengan mengatakan: “Dan semua orang yang dilahirkan dari wanita tak seorangpun yang sama besar seperti Yohanes Pembaptis” (Luk. 7:28).

Pembaptisan tidak hanya memberikan seseorang kesempatan untuk memperoleh keselamatan tetapi juga dan terutama melibatkan diri dalam seluruh karya keselamatan Yesus. Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus kini dilanjutkan oleh Gereja. Maka juga berarti kerelaan melibatkan diri dengan karya pewartaan Gereja. Jelasnnya, lewat keterlibatan itu dia memperoleh keselamatan.

Keterlibatan itu menimbulkan rasa tanggungjawab dan setiap tanggungjawab mendorong dia untuk berpartisipasi secara aktif, dan seperti kita kenal, dalam Gereja ada dua jenis pewartaan, pewartaan verbal dan pewartaan kesaksian. Sebagai awam misalnya, dia boleh berpartisipasi dalam pewartaan dan kerasulan ke dalam yang diperankan oleh kaum hirarki, dan sebagai kesaksian dia menjadi saksi yang hidup lewat berbagai keterlibatannya dalam dunia sekular. Dia dipanggil untuk menjiwai keterlibatannya  dengan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kebenaran dan cinta kasih kristiani. Pengangkatan dan pelantikan dirinya merupakan awal karya Tuhan yang memanggil dan mengutusnya. Karena itu tak jarang terjadi pelantikan seorang pejabat publik selalu menghadirkan  petugas Gereja untuk menunjukkan bahwa bagaimanapun dia tetap menjalankan karya perutusan Gereja di tengah tata dunia.

Apa makna Pembaptisan Yesus bagi kita para muridNya? Kita semua yang telah dibaptis sebagai tanda iman akan Yesus? Permandian yang kita terima menjadikan  kita bukan sekedar menunjukkan bahwa kita telah bergabung dengan kelompok  murid Yesus, tetapi permandian kita adalah juga suatu permulaan  hidup baru.

Hidup kita yang lama penuh dosa dilenyapkan dan kita semua menerima hidup baru lewat kesediaan kita bertemu dengan Yesus  dalam sakramen permandian. Permandian kita mengakibatkan juga suatu kelahiran baru. Dan Roh kudus yang kita terima sejak permandian itulah yang menjadikan kita anak-anak Allah (Rom. 8:15). Secara permandian  memungkinkan kita  bersatu dengan hidup Kristus. Inilah suatu persatuan istimewa yang harus kita baharui terus-menerus.

Dengan demikian merayakan Pesta pembaptisan Tuhan serentak membaharui permandian kita masing-masing untuk hidup sebagai anak Allah dan anggota Gereja yang dipanggil dan diutus untuk terlibat dalam hidup dunia dan memberikan kesaksian yang khas.  Serentak kita diharapkan agar tetap percaya dan siap melanjutkan hidup dalam terang keyakinan iman. Meski belum tahu apa yang akan terjadi di sepanjang tahun baru ini, kita yakin Ia tetap menyertai setiap perjuangan kita.

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]