Oleh : Frits Robert Dimu Heo,SH.MSi
Selama tiga dekade bekerja di Bank NTT, hidup saya dipenuhi tantangan dan tekanan. Dunia perbankan, khususnya di bidang pemasaran, selalu menuntut pencapaian target. Setiap hari adalah perlombaan dengan waktu, angka, dan ekspektasi. Tidak jarang rasa lelah, stres, bahkan kehilangan waktu berharga bersama keluarga menjadi konsekuensi dari karier yang panjang itu. Namun, ada kebanggaan yang menyertai: saya telah selesai mengabdi selama 30 tahun dengan penuh dedikasi.
Anehnya, justru setelah pensiun, saya menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada pencapaian target hidup yang lebih santai, penuh syukur, dan berkelimpahan. Hidup yang saya sebut sebagai slowliving sejati.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11:28
Menemukan Ketenangan Setelah Pensiun
Saat masa kerja berakhir, banyak orang takut kehilangan “kesibukan” atau “status”. Namun, pengalaman saya justru sebaliknya. Pensiun membawa saya semakin dekat dengan Tuhan Yesus. Dalam doa dan perenungan, saya menyadari bahwa hidup bukan hanya soal angka, pencapaian, atau target, melainkan tentang menikmati perjalanan dengan hati penuh syukur.
Hidup sederhana tanpa tekanan ternyata membuka ruang baru untuk kebahagiaan sejati. Ada waktu untuk keluarga, ada ruang untuk menulis, dan ada kesempatan untuk berkarya tanpa beban. Saya tidak lagi dikejar target, melainkan dikuatkan oleh firman Tuhan yang membawa damai sejahtera.
“Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.” Mazmur 23:1-2
Berkelimpahan Tanpa Tekanan
Siapa sangka, ketika saya menjalani hidup dengan santai dan percaya penuh kepada Tuhan, berkat justru mengalir tanpa henti. Saya belajar bahwa berkelimpahan bukan semata-mata hasil kerja keras yang penuh tekanan, tetapi juga buah dari kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan.
Kini, saya bisa berpikir lebih jernih, merencanakan bisnis dengan hati yang ringan, serta menulis untuk membagikan pengalaman hidup dan kepedulian kepada sesama. Inilah wujud kemenangan yang sejatihidup dalam kelimpahan kasih Tuhan.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”Matius 6:33
Slow Living, Slow Thinking, True Happiness
Hidup slow living bukan berarti berhenti berkarya. Justru sebaliknya, ia memberi ruang bagi pikiran dan jiwa untuk menemukan kreativitas baru. Tanpa tekanan, saya bisa menulis, mengerjakan usaha, dan membangun relasi dengan orang lain dengan hati yang tulus.
Bagi saya, slow living adalah pilihan hidup: sederhana, penuh syukur, dan selalu dekat dengan Tuhan. Inilah gaya hidup yang melahirkan kebahagiaan tanpa syarat.
“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Yohanes 10:10b.
Harapan ke Depan
Jika Tuhan masih mengizinkan saya berkarya melalui Koperasi Bank NTT, tentu saya akan menjalaninya dengan sukacita. Namun, bagi saya yang terpenting adalah hidup bahagia bersama keluarga, menjaga kesehatan, serta terus menulis dan peduli kepada sesama.
Pensiun bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru yang penuh kedamaian. Dengan slow living, saya belajar bahwa hidup sejati adalah ketika kita menyerahkan segalanya kepada Tuhan, menikmati setiap detik tanpa terburu-buru, dan tetap berkemenangan dalam kasih-Nya.
> “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:13.
Tuhan Yesus Memberkati kita dalam menjalani hidup dibawah kolong langit ini. Amin.
Medio 25 Agustus 2025, Rumah Sakit Umum WZ Yohanes Kupang.
CV PENULIS :
Penulis adalah lulusan S1 Hukum dan S2 Program Pasca Sarjana Study Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Bekerja di Bank NTT selama 30 Tahun dan sekarang memilih menjadi pemerhati masalah sosial dan hukum.
Tinggal di Kota Kupang NTT menikmati hidup bersama keluarga (slow living).(*)







