Oleh : dr. Litry Y.A Messakh, Dokter umum di UPTD Puskesmas Batutua, Kabupaten Rote Ndao
PORTALNTT.COM, ROTE NDAO – Pengeluaran belanja untuk rokok lebih tinggi dari belanja untuk makanan bergizi. Kebiasaan merokok hampir tidak bisa lepas dari masyarakat Indonesia kapanpun dan dimanapun.
Menurut Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021, Prevalensi (Jumlah Keseluruhan Kasus Penyakit) dari merokok, penduduk dewasa di Indonesia sebesar 33,5%, dimana pada laki-laki didapatkan prevalensi sebesar 64,7% sementara pada perempuan 2,3%. Survei Sosial Ekonomi Nasional menunjukkan bahwa persentasi merokok pada penduduk di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2021 adalah 27,22% dimana angka tersebut naik 1,08% dari tahun 2020 yang persentasinya adalah 26,14%.
Hal ini sangat disayangkan karena merokok dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup seseorang.
Komplikasi yang ditimbulkan akibat merokok disebabkan oleh kandungan yang terdapat pada rokok, diantaranya adalah : Karbon Monoksida, Nikotin, Tar, Hidrogen Sianida, Benzene, Formaldehida, Arsenik, Kadmium, Amonia, dan masih banyak kandungan pada rokok yang efeknya dapat merusak organ tubuh perokok.
Salah satu komplikasi yang disebabkan oleh merokok adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). PPOK umumnya merupakan kombinasi dari dua penyakit pernapasan yaitu bronkitis kronis dan emfisema. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa PPOK merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia yang mengakibatkan 3,23 juta kematian di tahun 2019.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi PPOK di Indonesia mencapai 3,7%, dimana Nusa Tenggara Timur menempati urutan pertama prevalensi terbanyak PPOK dengan persentasi 10%. Ketika partikel-partikel berbahaya yang terdapat pada rokok terhirup bersama dengan udara akan memasuki saluran pernapasan dan mengendap hingga terakumulasi yang kemudian menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan. Peradangan pada saluran pernapasan tersebut mengakibatkan produksi mukus (lendir) yang berlebihan dan menimbulkan infeksi serta menghambat proses penyembuhan. Kondisi inilah yang disebut sebagai bronkitis kronis.
Selain itu, dampak lain yang ditimbulkan akibat masuknya partikel-partikel berbahaya ke dalam saluran pernapasan adalah terjadinya kerusakan pada kantung-kantung udara paru-paru yang terjadi secara bertahap dan ireversibel. Kondisi inilah yang disebut sebagai emfisema.
Gejala yang paling sering dikeluhkan pada penderita PPOK adalah batuk yang tidak kunjung sembuh dan dapat disertai dahak, sesak napas, serta mudah lelah, dimana gejala tersebut bersifat menetap dan progresif sehingga sangat mengganggu kualitas hidup penderita dan dapat menyebabkan kematian.
Hingga saat ini PPOK belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Tatalaksana yang diberikan pada penderita PPOK bertujuan untuk mengendalikan gejala agar mencegah perburukan dan memperbaiki kualitas hidup penderita tersebut.
PPOK merupakan penyakit yang dapat dicegah. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan berhenti merokok atau menghindari asap rokok.







