PORTALNTT.COM, KUPANG – Kisah pilu yang dialami Rini (nama samaran), mahasiswi Universitas Nusa Cendana (Undana), terus bergulir. Setelah sebelumnya mengaku dilecehkan oleh seorang dosen yang menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Undana, kini Rini menceritakan pengalaman kelamnya secara lebih mendalam. Ia mengaku tindakan tidak pantas itu terjadi berulang kali di ruang kerja sang dosen.
“Beta berulang kali dilecehkan di ruangan itu,” tutur Rini lirih saat ditemui PORTALNTT.COM di Kupang, Sabtu (1/11/2025).
“Dia pegang-pegang pipi, hidung, dagu, lalu bilang beta manis,” sambungnya.
Menurut Rini, perbuatan itu tidak terjadi hanya sekali. Setiap kali ia mendapat tugas dari sang dosen untuk membantu di ruang LP2M, situasi yang tidak nyaman selalu terulang.
“Dia bilang ada kotoran di beta pung muka, beta sudah lap tapi dia masih saja bilang masih ada. Jadi beta berdiri dan lihat ke kaca yang ada di ruangan itu, tapi sonde ada apa-apa. Pas beta duduk, dia bilang masih ada, lalu dia pegang lagi beta pung dagu,” kisahnya.
Suatu siang, Rini kembali dipanggil ke ruang LP2M. Ia disuruh membersihkan ruangan dan merapikan dokumen di meja kerja dosen tersebut. Setelah menyelesaikan tugasnya, Rini diminta menunggu karena dosen itu sedang mengajar di ruangan sebelah.
“Waktu dia datang, dia duduk dan panggil beta mendekat. Dia tarik beta pung tangan, lalu tangan dia mulai meraba dari belakang sampai ke depan,” ujar Rini dengan suara bergetar.
Rini yang merasa ketakutan berusaha menyingkirkan tangan dosen itu dan menjauh. Namun tindakan sang dosen tidak berhenti di situ. Ia malah mencoba menyuap Rini dengan uang Rp50 ribu.
“Dia ambil uang dari kantong celana, kasih ke beta, bilang untuk isi pulsa. Tapi beta sonde mau. Dia paksa terus, tapi beta tetap tolak dan langsung keluar dari ruangan. Waktu itu sudah sore, semua teman-teman sudah pulang,” lanjutnya.
Pola yang Sama: Dipanggil Masuk dan Diberi Alasan Tugas
Rini mengatakan, pelecehan sering terjadi dengan pola yang sama. Ia dipanggil ke ruangan sang dosen dengan berbagai alasan, mengetik tugas, membantu administrasi, atau menjaga absen mahasiswa KKN.
“Selalu saja dia panggil masuk ke dia punya ruangan. Pernah dia minta beta ketik tugas Excel di dalam ruangan, tapi beta tolak dan bilang mau kerjakan di rumah saja,” kata Rini.
Ia mengaku menolak halus setiap kali dosen tersebut mencoba mendekat. Namun, karena statusnya sebagai mahasiswa dan posisi dosen yang berpengaruh di kampus, Rini merasa serba salah.
“Beta takut, karena dia dosen besar, apalagi Ketua LP2M. Beta hanya bisa diam dan cari cara supaya sonde sendiri dengan dia,” ucapnya pelan.
Trauma dan Ketakutan
Sejak peristiwa itu, Rini mengaku mengalami ketakutan setiap kali berada di area LP2M. Ia berusaha menghindari interaksi langsung dengan pelaku dan memilih menyelesaikan urusannya melalui teman atau staf lain.
“Setiap kali lewat depan ruangan itu, beta rasa gemetar. Beta sonde bisa lupa apa yang dia buat,” katanya.
Kasus ini kini menjadi perhatian banyak pihak di lingkungan kampus Undana. Beberapa mahasiswa dan aktivis kampus menghubungi PortalNTT, mereka ingin mendesak pihak universitas untuk segera membentuk tim investigasi independen guna menyelidiki dugaan pelecehan yang dialami Rini.
Laporan Rini memperlihatkan pola pelecehan sistematis di ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat aman bagi mahasiswa. Ia berharap keberaniannya membuka suara bisa mencegah kejadian serupa menimpa korban lain.
“Beta hanya mau keadilan. Supaya sonde ada lagi yang alami hal sama,” tutup Rini dengan mata berkaca-kaca. (Bersambung)







