Penulis: Daniel Timu
Editor: Jefri Tapobali
PORTALNTT.COM, ROTE NDAO – Antrean kendaraan bermotor kembali mengular di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, akibat kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Fenomena tahunan yang selalu menghantui masyarakat ini kembali terjadi, seolah menjadi “ritual wajib” setiap kali cuaca buruk dan kapal tanker terlambat sandar.
Pantauan media ini, antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bahkan berlangsung hingga jam makan siang. Sopir angkutan, nelayan, hingga masyarakat biasa harus rela membuang waktu berjam-jam demi setetes solar dan bensin yang kini jadi barang mewah.
“Semua aktivitas lumpuh total. Kami sudah berjam-jam di sini hanya untuk bisa beli BBM. Sangat miris,” keluh Mantho Pello, warga Rote Ndao, Jumat (29/8/2025). Ia mendesak pemerintah dan Pertamina segera mencari solusi agar persoalan klasik ini tidak terus berulang.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperindag Rote Ndao, Johni Manafe, menegaskan bahwa stok BBM baru saja masuk melalui kapal SPOB Ineeke 1 yang dikirim PT. Arlin Jaya Dinamika. Pasokan tersebut terdiri dari Pertamax, Pertalite, dan Bio Solar dengan total volume 182.725 liter untuk dua SPBU di wilayah Rote Ndao.
“Bio Solar itu jelas untuk kebutuhan masyarakat. Itu solar subsidi, bukan untuk industri. Jangan sampai ada permainan distribusi!” tegas Johni Manafe.
Sesuai dengan data yang diperoleh media ini, rincian distribusi pasokan BBM yang masuk ke Rote pada, Jumat (29/8/2025) adalah sebagai berikut;
Untuk SPBU Sanggoen, Pertalite 70.000 liter, Bio Solar 20.000 liter, dan Pertamax 40.000 liter. Sedangkan untuk SPBU Sedeoen, Pertalite 30.000 liter, Bio Solar 10.000 liter, Pertamax 10.000 liter. Diketahui pula bahwa tidak ada stok Pertamina Dex yang masuk.







