PORTALNTT.COM, KUPANG – Koordinator Daerah BEM Nusantara Nusa Tenggara Timur, Andhy Sanjaya, mengeluarkan pernyataan keras yang penuh amarah terkait tragedi yang menimpa pengemudi ojek online (ojol) saat aksi di depan Gedung DPR RI, 28 Agustus di Jakarta.
Aksi damai yang sejatinya menjadi ruang demokratis bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi, justru berakhir dengan duka mendalam setelah adanya tindakan represif aparat kepolisian yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Bagi BEM Nusantara NTT, peristiwa ini bukan sekadar insiden, melainkan potret nyata dari negara yang sedang sakit, negara yang lebih memilih mempertahankan kekuasaan dengan cara menindas, bukan mendengar.
Andhy Sanjaya menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan yang mencoreng wajah demokrasi Indonesia. Ia menegaskan bahwa aparat kepolisian yang sejatinya digaji dari uang rakyat kini justru berubah menjadi mesin pemukul dan pembungkam suara rakyat.
Menurutnya, peristiwa ini adalah bukti telanjang bagaimana aparat telah kehilangan wajah kemanusiaannya.
“Apakah rakyat kecil pantas diperlakukan seperti binatang? Apakah menyuarakan aspirasi harus dibayar dengan nyawa? Jika benar demikian, maka rezim hari ini sedang memperlakukan rakyatnya sendiri sebagai musuh!” tegas Andhy dengan nada penuh amarah dalam release yang diterima PortalNTT.
Andhy Sanjaya juga menegaskan bahwa tragedi ini bukan hanya soal satu korban jiwa, melainkan soal masa depan demokrasi di Indonesia. Ia menilai bahwa setiap tindakan kekerasan aparat terhadap rakyat hanyalah cara lain untuk mengirimkan pesan takut: bahwa rakyat tidak boleh bersuara.
“Negara sedang berusaha membungkam kita semua. Jika hari ini ojol yang dipukul, ditindas, bahkan sampai mati, maka besok bisa siapa saja: buruh, petani, mahasiswa, bahkan rakyat kecil di pelosok. Inilah wajah otoritarianisme yang sebenarnya,” ujarnya.
Ia menuntut Kapolri bertanggung jawab penuh atas matinya rakyat kecil di tangan aparat. Menurutnya, tanggung jawab tidak bisa berhenti di level bawah, karena kekerasan semacam ini adalah bagian dari sistem yang terus direproduksi.
“Jika Kapolri tidak mampu mengendalikan institusi yang dipimpinnya, maka lebih baik mundur. Jangan jadikan darah rakyat sebagai korban pembenaran institusi yang gagal. Rakyat tidak butuh alasan, rakyat butuh keadilan!” tegasnya.
Selain itu, Andhy juga mendesak Presiden Republik Indonesia untuk tidak bersembunyi di balik janji-janji kosong dan retorika murahan. Baginya, setiap peluru, gas air mata, dan pentungan aparat adalah cermin kegagalan kepemimpinan nasional.
“Presiden tidak boleh diam, sebab diam sama saja dengan merestui. Jika negara membiarkan rakyat dipukul hingga mati, maka negara sedang bunuh diri terhadap konstitusi dan cita-cita reformasi,” tambahnya.
Tak lupa, ia juga menyindir DPR RI yang terus membentengi diri dengan pagar besi dan aparat bersenjata. Baginya, DPR RI bukan lagi rumah rakyat, melainkan benteng kekuasaan yang anti kritik.
“Jika kalian memang wakil rakyat, maka bukalah telinga. Dengarkan jeritan rakyat! Jangan bersembunyi di balik pagar tinggi, lalu membiarkan rakyat dipukuli sampai mati,” katanya.
BEM Nusantara NTT menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Mereka menolak segala bentuk impunitas dan tidak akan diam melihat rakyat menjadi korban kekerasan negara. Menurut Andhy, darah rakyat adalah harga yang terlalu mahal untuk dilupakan.
“Kami tegaskan, tragedi ini tidak akan kami biarkan dilupakan. Darah rakyat adalah darah bangsa. Rakyat bukan musuh negara, suara rakyat bukan kejahatan, dan mahasiswa tidak akan pernah tunduk pada kekuasaan yang menindas!” pungkas Andhy dengan lantang.
Bagi BEM Nusantara NTT, tragedi di depan DPR RI adalah peringatan keras bahwa demokrasi di negeri ini sedang berada di titik nadir. Jika negara terus melanggengkan kekerasan terhadap rakyat, maka yang lahir bukan lagi republik demokratis, melainkan rezim yang haus darah dan otoriter. Karena itu, perjuangan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan suara rakyat akan terus dikobarkan dari kampus hingga jalanan, dari NTT hingga seluruh pelosok negeri.
Koordinator BEM Nusantara NTT menyerukan perlawanan rakyat terhadap represi negara dan menegaskan mahasiswa tidak akan tunduk pada kekuasaan yang menindas.







