Saat Jeritan Warga Otogedu Terdengar, Fernando Soares Bergerak hingga Wakil Menteri Komdigi Turun Tangan

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Selama hampir dua bulan, warga Desa Otogedu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, hidup tanpa akses internet. Di tengah keterisolasian digital itu, mereka juga harus menghadapi jalan rusak, listrik yang kerap padam, hingga kekhawatiran apabila keadaan darurat datang tanpa bisa meminta pertolongan.

Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian setelah kisah warga tersebar melalui media sosial. Sebuah unggahan di akun Instagram @nbram, yang dikelola Nateal Bremana, Komisaris Daerah II PMKRI, menggambarkan secara langsung bagaimana masyarakat menjalani hari-hari tanpa jaringan komunikasi yang memadai.

Nateal menulis pengalamannya setelah berada selama tiga hari di Desa Otogedu. Ia menyebut akses internet telah terputus selama sekitar dua bulan. Situasi itu, menurutnya, tidak hanya menghambat komunikasi, tetapi juga memperbesar risiko bagi keselamatan masyarakat.

Ia menggambarkan bagaimana warga akan kesulitan menghubungi ambulans ketika ada ibu hamil yang hendak melahirkan, pasien yang membutuhkan pertolongan segera, maupun kondisi darurat lainnya. Di saat yang sama, jalan yang rusak dan pemadaman listrik yang berlangsung berhari-hari semakin memperberat kehidupan masyarakat.

Gangguan listrik juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Bahan pangan mudah rusak, sementara pelaku usaha kecil harus menanggung kerugian akibat terbatasnya aktivitas produksi dan perdagangan.

Unggahan tersebut kemudian mendapat perhatian Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT, Fernando Jose Osorio Soares. Tanpa menunggu lama, politisi Partai Gerindra itu langsung membangun komunikasi dengan Angga Raka Prabowo untuk menyampaikan kondisi yang dialami masyarakat Desa Otogedu.

Langkah cepat itu membuahkan respons dari pemerintah pusat. Melalui akun media sosial resminya, Angga Raka Prabowo menyampaikan bahwa laporan tersebut telah diterima dan segera ditindaklanjuti.

Tidak lama berselang, BAKTI Komdigi, lembaga di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital yang bertugas memperluas akses telekomunikasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), juga memberikan tanggapan. BAKTI memastikan akan mengirim tim ke Desa Otogedu untuk melakukan pengecekan lapangan sekaligus menindaklanjuti persoalan layanan telekomunikasi yang dikeluhkan warga.

Respons cepat tersebut menjadi secercah harapan bagi masyarakat Otogedu yang selama ini merasa terisolasi dari layanan komunikasi digital. Di tengah era ketika internet telah menjadi kebutuhan dasar untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, pemerintahan, hingga aktivitas ekonomi, hadirnya perhatian dari pemerintah diharapkan menjadi awal penyelesaian persoalan yang telah lama mereka rasakan.

Bagi warga Desa Otogedu, yang paling dinanti bukan sekadar hadirnya sinyal, melainkan kepastian bahwa mereka tidak lagi tertinggal dari daerah lain dalam memperoleh hak atas layanan publik dan konektivitas digital.

Komentar Anda?

Related posts