PORTALNTT.COM, ENDE – Ketika tanah Flores berguncang dan warga berhadapan dengan rasa takut, kepedulian datang dari berbagai penjuru. Di tengah suasana duka dan kepanikan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7, Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Sugiono memilih hadir bukan hanya melalui pernyataan, tetapi dengan memberikan bantuan secara pribadi.
Sugiono memberikan bantuan Rp500 juta untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Bantuan itu diberikan sebagai bentuk kepedulian pribadi terhadap warga yang tengah menghadapi masa sulit akibat bencana. Nilainya mungkin tidak dapat mengembalikan rumah yang rusak atau menghapus trauma warga, tetapi menjadi pesan bahwa mereka tidak menghadapi bencana seorang diri.
Gempa yang mengguncang Flores pada, Sabtu (15/8/2026) menimbulkan dampak di sejumlah wilayah. Kerusakan bangunan, gangguan akses dan kepanikan warga menjadi bagian dari situasi yang harus segera ditangani.
Di tengah kondisi tersebut, Sugiono menginstruksikan jajaran Gerindra NTT untuk bergerak cepat dan memastikan bantuan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Instruksi itu kemudian dijalankan Sekretaris DPW Partai Gerindra NTT Fernando Jose Osorio Soares.
Fernando langsung turun ke lapangan. Perjalanan dimulai dari Maumere, Kabupaten Sikka, kemudian bergerak menuju Ende, dan terus menyisir wilayah terdampak hingga Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat.
Perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain itu menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kondisi masyarakat setelah gempa.
Bukan sekadar datang dan melihat, tetapi mendengar cerita warga yang kehilangan rasa aman, memeriksa kebutuhan yang paling mendesak, serta memastikan bantuan dapat diarahkan ke titik-titik yang membutuhkan.
Bagi warga terdampak bencana, kehadiran seperti itu memiliki arti tersendiri.
Sebab, setelah guncangan berhenti, persoalan baru justru dimulai. Warga harus memastikan keluarganya selamat, mencari tempat berlindung, mendapatkan makanan dan air bersih, serta memikirkan bagaimana menjalani hari berikutnya.
Di saat seperti itu, bantuan menjadi lebih dari sekadar barang atau uang.
Bantuan adalah tanda bahwa masih ada yang peduli.
Keputusan Sugiono memberikan bantuan menggunakan dana pribadi juga membawa pesan bahwa solidaritas terhadap korban bencana tidak harus menunggu instruksi panjang atau mekanisme yang rumit.
Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, yang paling dibutuhkan adalah kecepatan untuk bergerak.
Langkah tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa kepedulian dapat diwujudkan dengan cara sederhana: datang, melihat, mendengar, kemudian membantu.
Fernando dan jajaran Gerindra NTT pun diminta terus bergerak mengikuti perkembangan situasi di lapangan.
Dari Maumere hingga Labuan Bajo, perjalanan itu menjadi gambaran luasnya dampak bencana yang harus dihadapi masyarakat Flores.
Di balik angka magnitudo 7,7, ada rumah yang rusak, keluarga yang cemas, anak-anak yang kehilangan rasa nyaman, serta warga yang untuk sementara harus meninggalkan rumahnya.
Dan di balik semua itu, ada harapan yang harus dijaga.
Bantuan pribadi Rp500 juta dari Sugiono mungkin hanyalah satu bagian dari rangkaian bantuan yang dibutuhkan masyarakat Flores. Namun, kepedulian itu dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak pihak untuk melakukan hal serupa.
Sebab dalam situasi bencana, solidaritas tidak diukur hanya dari seberapa besar bantuan yang diberikan.
Yang lebih penting adalah seberapa cepat kita memilih untuk hadir ketika orang lain sedang membutuhkan.
Flores sedang berduka. Tetapi dari tengah duka itu, semangat untuk bangkit harus terus dinyalakan.
Dan bantuan Rp500 juta tersebut menjadi salah satu pesan bahwa ketika Flores terguncang, rasa kemanusiaan tidak boleh ikut runtuh.







