PORTALNTT.COM, KUPANG – Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, bank kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Timur kini memasuki babak baru transformasi besar.
Dengan visi yang jelas, langkah yang taktis, dan strategi yang berani, Charlie menegaskan komitmennya untuk menjadikan Bank NTT sebagai lembaga keuangan yang kuat, modern, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat NTT.
“Kita ingin Bank NTT bukan sekadar bank daerah, tetapi menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat NTT. Setiap kebijakan yang kami ambil diarahkan untuk membawa perubahan nyata, meningkatkan efisiensi, dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan,” ujar Charlie Paulus optimistis usai dilantik Gubernur NTT bersama jajaran Direksi dan Komisaris Bank NTT periode 2025-2030 di Kantor Gubernur NTT, Kamis (13/11/2025)
Dalam arah kebijakannya, Charlie menegaskan bahwa penanganan kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) menjadi fokus utama. Ia menilai, keberhasilan mengatasi kredit bermasalah akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat kinerja keuangan dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap Bank NTT.
“Kredit bermasalah itu cukup besar sekarang. Saya akan membuat tax Force khusus untuk mengatasi yang bermasalah ini,” tegasnya.
Selain memperbaiki kualitas kredit, Charlie juga mendorong efisiensi internal dengan menekan berbagai hal yang dianggap boros. Menurutnya, efisiensi bukan berarti pengurangan semangat kerja, tetapi penataan ulang agar setiap sumber daya digunakan tepat sasaran dan menghasilkan kinerja optimal.
“Program-program penghematan. Tapi bidang-bidang yang mana saya mau perhatikan dulu. Yang boros-boros itu harus dikurangi. Itu aja kalau diperbaiki sudah bagus,” tandasnya.
Sebagai bagian dari restrukturisasi internal, ia menyampaikan langkah strategis untuk mengurangi jumlah pegawai di bidang administrasi dan meningkatkan jumlah tenaga profesional di bidang kredit dan pemasaran.
“Sekarang itu kalau kita lihat sebaran karyawan Bank NTT itu tidak balance. Di bagian-bagian administrasi operasional terlalu banyak. Sedangkan di bisnis-bisnis center seperti di perkreditan itu kurang. Bagusnya kalau yang di bisnis itu 70 persen dan di operasional 30 persen,” jelas Charlie.
Tak hanya itu, Bank NTT juga tengah mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi (IT) dalam setiap lini kerja. Melalui sistem digital yang terintegrasi, proses pelayanan akan menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien.
“Digitalisasi bukan pilihan, tapi keharusan. Kita sedang membangun fondasi IT yang kuat agar layanan Bank NTT bisa menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk yang berada di daerah terpencil,” imbuhnya.
Di sisi pengawasan, Charlie memastikan bahwa sistem pengendalian internal (internal control) akan terus diperkuat. Peningkatan sistem pengawasan ini bertujuan agar seluruh aktivitas operasional berjalan sesuai prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).
Untuk mempererat hubungan dengan masyarakat dan nasabah, Bank NTT akan menggelar customer gathering di setiap kabupaten. Melalui kegiatan ini, Bank NTT ingin mendengar langsung aspirasi nasabah, memperkenalkan produk-produk unggulan, serta memperkuat ikatan emosional antara bank dan masyarakat.
“Bank ini kan sekarang kreditnya banyak untuk konsumtif, kredit komersialnya kurang berkembang. Saya akan keliling. Kita kumpul semua pengusaha dan ajak mereka jadi nasabah bank NTT jangan jadi nasabah Bank lain. Tapi kan pelayanan harus bagus,” tegas Chatlie Paulus.
Lebih lanjut dikatakan Dirut Bank NTT, Langkah visioner lainnya adalah pemberdayaan perempuan pelaku UMKM di seluruh NTT. Charlie menegaskan bahwa Bank NTT akan terus mendorong pembinaan, pelatihan, dan akses pembiayaan bagi perempuan agar mereka semakin mandiri dan berdaya saing.
“Perempuan adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Kalau mereka diberdayakan, maka ekonomi daerah juga akan ikut tumbuh. Bank NTT hadir untuk memastikan mereka tidak berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama kami. Bunganya akan kita kasih paling murah,” ungkap Charlie penuh semangat.
Melalui berbagai langkah strategis ini, Charlie Paulus menunjukkan kepemimpinan yang visioner dan progresif. Transformasi yang tengah dijalankan bukan hanya soal perbaikan sistem, tetapi juga tentang membangun masa depan ekonomi NTT yang lebih kuat, berdaya saing, dan menyejahterakan masyarakatnya.







