Undana Lantik 20 Dokter, Lulusan Diharapkan Mengabdi hingga Pelosok NTT

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menambah tenaga dokter melalui pelantikan dan pengambilan sumpah 20 dokter baru Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) periode ke-50, Kamis (5/11/2026).

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Aula Lantai III Gedung Rektorat Undana, Kupang, disaksikan para orang tua, keluarga, serta rohaniwan.

Wakil Rektor II Undana, Prof. Dr. Paul Gabriel Tamelan, M.Si., mengatakan, dengan pelantikan tersebut, jumlah dokter yang telah dihasilkan Undana mencapai 748 orang.

Ia berharap para lulusan tidak hanya berorientasi pada pelayanan kesehatan di perkotaan, tetapi juga bersedia mengabdikan diri di wilayah terpencil yang masih membutuhkan tenaga medis.

Menurut Paul, Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki sekitar 400 puskesmas yang tersebar di 22 kabupaten/kota. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Undana untuk berkontribusi dalam pemerataan tenaga dokter.

“Kalau dibandingkan dengan jumlah puskesmas di NTT yang kurang lebih 400, seharusnya setiap puskesmas sudah bisa mendapatkan dua dokter lulusan Undana,” ujarnya.

Karena itu, pihak universitas terus mendorong peningkatan jumlah mahasiswa kedokteran agar dapat menghasilkan lebih banyak dokter yang nantinya mampu menjangkau berbagai wilayah, termasuk desa-desa dan puskesmas terpencil.

Paul juga berpesan agar para dokter baru menjaga nama baik almamater serta menjalankan profesi dengan penuh tanggung jawab di mana pun mereka ditempatkan.

Ia menegaskan, pendidikan kedokteran di Undana tidak hanya bertujuan menghasilkan dokter yang unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki ketangguhan mental, kepekaan sosial, dan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya di daerah kepulauan.

Menurutnya, tantangan pelayanan kesehatan saat ini semakin kompleks. Seorang dokter tidak cukup hanya menguasai diagnosis dan terapi, tetapi juga harus memiliki empati, kemampuan komunikasi yang baik, serta kecakapan memanfaatkan teknologi secara bijak.

“Pelayanan kesehatan di era modern tidak hanya membutuhkan ketepatan diagnosis dan terapi, tetapi juga empati, komunikasi yang santun, serta pemanfaatan teknologi secara bijak,” katanya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah NTT, dr. Stefanus Dhe Soka, Sp.B., MKM., mengingatkan para dokter baru agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurut Stefanus, perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi profesi dokter. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Ia menjelaskan, teknologi dapat membantu proses diagnosis dan pengobatan. Namun, profesi dokter memiliki dimensi kemanusiaan yang tidak dapat digantikan begitu saja oleh mesin, terutama dalam hal kepedulian dan kemampuan merawat pasien.

“Teman-teman sejawat tidak perlu khawatir. Teknologi maupun AI tidak sederajat dengan kita sebagai manusia. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan literasi terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.

Stefanus juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi klinis agar dokter mampu melakukan tindakan medis secara tepat, presisi, dan sesuai dengan standar profesi.

Selain kemampuan medis, para dokter perlu memahami perkembangan hukum kesehatan. Hal ini penting karena masyarakat semakin mengetahui hak-haknya dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

Ia mengingatkan bahwa seorang dokter tidak dapat menjanjikan kesembuhan kepada pasien. Namun, dokter wajib memberikan upaya terbaik berdasarkan standar ilmu kedokteran dan kompetensi yang dimiliki.

“Kita tidak pernah menjanjikan sebuah kesembuhan. Yang kita janjikan adalah ikhtiar sungguh-sungguh dan komitmen untuk memberikan pelayanan kepada pasien dengan menggunakan standar tertinggi ilmu kedokteran yang kita miliki,” katanya.

Lebih lanjut, Stefanus menegaskan bahwa hakikat profesi dokter adalah pelayanan. Karena itu, setiap dokter harus mampu membangun komunikasi yang baik, bersikap rendah hati, dan memiliki kepedulian terhadap pasien.

Menurut dia, komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi medis, melainkan membangun hubungan dan kepercayaan antara dokter dengan pasien.

“Seorang pelayan harus mampu berkomunikasi dengan baik. Tidak boleh pelit bicara dan tidak boleh sombong,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan para dokter baru agar tidak membatasi wawasan hanya pada pelayanan di ruang praktik. Dokter harus memahami kesehatan masyarakat, pencegahan penyakit, rehabilitasi, hingga kebijakan kesehatan.

Selain itu, kolaborasi dengan sesama dokter dan tenaga kesehatan lainnya perlu diperkuat agar pelayanan kesehatan dapat berjalan secara menyeluruh.

“Kita tidak boleh hanya menjadi pion dalam sebuah tempat kerja. Kita juga bisa menjadi pengelola. Untuk itu, kita tidak boleh hanya terfokus pada lingkungan tempat praktik, tetapi harus mampu berkolaborasi dengan tenaga kesehatan dan sejawat lainnya,” pungkasnya.

Dengan bertambahnya 20 dokter baru, Undana diharapkan semakin berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan tenaga medis di NTT. Kehadiran para lulusan tersebut juga diharapkan dapat memperluas akses pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan.

Komentar Anda?

Related posts