Akankah Sabu Raijua Jadi Pusat Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal?

  • Whatsapp

Oleh Frits R Dimu Heo,SH.MSi *)

Kabupaten Sabu Raijua hanya terdiri dari 2 pulau pulau kecil di selatan Nusa Tenggara Timur. Lautnya biru jernih, garamnya putih seperti salju, budayanya unik, dan tanahnya menyimpan banyak cerita. Tapi sayang, kemajuan di sini berjalan pelan, bahkan kadang terasa jalan di tempat.

Kalau kita lihat lebih dekat, sebenarnya ada tiga “sekat” besar yang menghambat:

1. BBM langka dan mahal karena rantai distribusi yang rumit, bahkan kadang ada permainan harga.

2. Tanah ulayat yang membuat pendatang sulit membeli lahan, hanya bisa sewa dengan aturan adat yang ketat.

3. Bandara Tardamu dengan landasan 900 meter, yang cuma bisa didarati pesawat kecil, membuat konektivitas orang dan barang terbatas.

1. Soal BBM: Jangan Sampai Energi Jadi Barang Mewah

Bayangkan, untuk dapat satu liter bensin kadang harus antre panjang dan bayar mahal. OmbudsmanNTT (2024) pernah catat harga Pertalite bisa tembus Rp30–35 ribu per botol di Sabu Raijua. Walaupun  telah dibangun 4 unit SPBU pada kecamatan berbeda.

Keterangan foto : di Kampung adat NAMATA.

Menurut Bank Dunia, biaya logistik di Indonesia Timur memang tinggi karena jalur transportasi terbatas. Kalau energi mahal, harga semua barang ikut naik, dari beras sampai ongkos ojek.

Solusinya:

Distribusi BBM pakai sistem QR Code berbasis NIK seperti di Papua untuk mencegah penimbunan.

Tambah energi alternatif seperti PLTS komunal, supaya usaha kecil tidak bergantung sepenuhnya pada BBM.

2. Soal Tanah: Menyatukan Adat dan Investasi

Di Sabu Raijua, tanah banyak berstatus tanah ulayat milik Masyarakat Hukum Adat. Perda No. 8/2022 dan aturan Kementerian ATR/BPN terbaru menegaskan tanah adat itu sah dan harus dijaga. Artinya, orang dari luar pulau umumnya tidak bisa beli, hanya bisa sewa dengan persetujuan adat.

Keterangan foto : di Gua Na Horo.

Menurut pakar hukum agraria, Maria S.W. Sumardjono, kepastian hukum tanah adalah kunci sukses masuknya investasi. Tapi di wilayah adat, kepastian itu harus dibangun lewat dialog dan kesepakatan dengan masyarakat.

Solusinya:

Buat perjanjian sewa jangka panjang 20–30 tahun dengan sistem bagi hasil.

Bentuk pusat mediasi adat–investor di bawah Pemda, supaya kesepakatan jelas dan saling menguntungkan.

3. Soal Bandara: Perpanjang Sayap Konektivitas

Bandara Tardamu hanya punya landasan 900 meter, jadi yang mendarat hanya pesawat kecil seperti TwinOtter seperti Susi Air atau Caravan. Kapasitasnya terbatas, harga tiket sering lebih mahal, dan barang pun susah keluar masuk.

Keterangan foto : di wisata alam Kalabba Madja.

Menurut ekonom transportasi, Prof. Taufik Hidayat, konektivitas adalah “urat nadi” pertumbuhan daerah. Tanpa akses cepat, biaya ekonomi akan selalu tinggi.

Solusinya:

Perpanjang landasan pacu Bandara Tardamu atau relokasi bandara agar ATR-42 bisa masuk.

Subsidi rute perintis dan integrasikan jadwal kapal cepat dengan penerbangan.

4. Potensi yang Bisa Jadi Mesin Ekonomi

Kalau tiga sekat tadi dibuka, Sabu Raijua punya modal besar:

Garam Premium seperti yang dikelola PT NatagaRaihawu Industri – Produksi bisa mencapai 300 ribu ton/tahun dengan kualitas NaCl 98%, setara garam impor. Bisa jadi bahan ekspor, industri pangan, sampai industri kosmetik seperti spa.

Wisata Adat – Kelabba Madja, Kampung adat Namata dan festival budaya bisa jadi magnet turis.

Laut Kaya Ikan – Perikanan tangkap dan rumput laut bisa dikembangkan jadi produk olahan bernilai tinggiseperti membangun pabrik ikan kaleng dan pabrik rumput laut.

Pertanian Lahan Kering – Jagung, sorgum, dan lontar bisa tumbuh baik.

Sistem Pertanian Terpadu ala Kibbutz Israel – Model pertanian kolektif, hemat air, dan berbasis komunitas. Di Israel, sistem kibbutz bisa menghemat air 12% dan hasil panen naik 26%.

Pada sistem ini, negara membangun kawasan pertanian modern—menanam padi, beternak, membuat kolam ikan, dan memberdayakan masyarakat setempat sebagai pekerja, petani, dan pemilik bersama hasil panennya dan selanjutnya dikelola koperasi pertanian terpadu yang menggabungkan lahan, teknologi, dan pemasaran bersama.

5. Jalan ke Depan

Belum ada kata terlambat, membangun Sabu Raijuabutuh langkah yang realistis:

1. BBM transparan + energi alternatif.

2. Skema lahan inklusif antara adat dan investor.

3. Bandara dan pelabuhan terhubung.

4. Garam premium jadi ikon ekspor.

5. Wisata adat dan budaya untuk branding daerah.

6. Pertanian terpadu dengan teknologi modern.

Kalau ini dijalankan, Kabupaten Sabu Raijua bisa melompat dari kabupaten yang tertinggal jadi pusat ekonomi berbasis kearifan lokal.

Semoga tulisan ini menjadi kado ulang tahun RI ke80 untuk Kabupaten SARAI.

Referensi Bacaan :

1. Ombudsman NTT. (2024). Kelangkaan BBM di Sabu Raijua.

2. Bank Dunia. (2023). High Logistics Costs in Eastern Indonesia.

3. Perda Kabupaten Sabu Raijua No. 8/2022 tentang Lembaga Adat dan MHA.

4. Permen ATR/BPN No. 14/2024 tentang Administrasi Tanah Ulayat.

5. Antara News. (2024). Produksi Garam SabuRaijua Berkualitas Ekspor.

6. Tama Kibbutz Industries. (2022). Farming in theKibbutz Style.

7. Sumardjono, M.S.W. (2014). Tanah Ulayat dan Investasi di Indonesia.

 

*) CV PENULIS :

Penulis adalah lulusan S1 Hukum dan S2 Program Pasca Sarjana Study Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Bekerja di Bank NTT selama 30 Tahun dan sekarang memilih menjadi pemerhati masalah sosial dan hukum.

Tinggal di Kota Kupang NTT menikmati hidup bersama keluarga (slow living).

Komentar Anda?

Related posts