APINDO Salurkan Rp50 Juta ke PMI NTT, Perkuat Respons Hadapi Ancaman Kekeringan

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Ketika musim kemarau mulai menekan sumber-sumber air di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur, dukungan dari dunia usaha kembali mengalir. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPN APINDO) menyerahkan bantuan dana Rp50 juta kepada Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi NTT untuk memperkuat penanganan kekeringan, terutama di wilayah daratan Timor.

Bantuan tersebut diserahkan Ketua DPP APINDO NTT, Bobby Pitoby, kepada Ketua PMI Provinsi NTT, Ir. Alfridus Bria Seran, di Markas PMI NTT, Kupang, Senin (24/8/2026).

Penyerahan bantuan turut dihadiri Sekretaris Umum DPP APINDO NTT Toni Dima dan Bendahara Umum DPP APINDO NTT Rudy Rikony. Sementara dari PMI NTT hadir Sekretaris PMI NTT George Hadjo dan Wakil Ketua PMI NTT Agustinus Nahak.

Bagi APINDO, bantuan tersebut bukan sekadar dukungan finansial. Ada kekhawatiran yang lebih besar di baliknya: ancaman kekeringan yang diperkirakan semakin berat ketika NTT memasuki puncak musim kemarau pada September dan Oktober.

Keterbatasan air bersih berpotensi merembet ke berbagai sisi kehidupan masyarakat, mulai dari kebutuhan rumah tangga, kesehatan dan sanitasi hingga ketahanan pangan serta aktivitas ekonomi.

Bobby mengatakan, APINDO memilih memberikan dukungan lebih awal agar PMI memiliki tambahan kekuatan dalam menjalankan operasi kemanusiaan di wilayah yang mulai mengalami tekanan akibat kekeringan.

“Dana bantuan DPN APINDO ini diberikan sebagai kontribusi APINDO terhadap PMI NTT yang telah melakukan kegiatan penanggulangan kekeringan, terutama di daratan Timor,” kata Bobby.

Menurut dia, kekeringan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai persoalan berkurangnya persediaan air. Ketika sumber air mengering, masyarakat dapat menghadapi persoalan berantai yang menyentuh kebutuhan pangan, kesehatan, peternakan hingga kondisi sosial.

“Kekeringan yang mulai dan akan melanda NTT, terutama pada puncak musim kemarau di bulan September dan Oktober, perlu diantisipasi sehingga dapat mengurangi dampak yang lebih besar kepada masyarakat, terutama krisis air bersih, ketahanan pangan dan masalah sosial lainnya,” ujarnya.

Karena itu, Bobby menilai penanganan kekeringan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Organisasi kemanusiaan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat juga memiliki peran dalam memastikan bantuan menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Ketua PMI NTT Alfridus Bria Seran menyambut baik dukungan tersebut. Ia mengatakan bantuan APINDO akan membantu PMI mempertahankan sekaligus memperkuat kegiatan penanggulangan kekeringan di tengah kebutuhan kemanusiaan yang terus berkembang.

“Kami bersyukur dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada APINDO yang telah memberikan sumbangan. Bantuan ini tentunya sangat membantu PMI NTT untuk dapat terus melakukan kegiatan penanggulangan kekeringan di NTT,” kata Alfridus.

Menurut Alfridus, persoalan kemanusiaan di NTT membutuhkan semangat gotong royong. Keterbatasan sumber daya membuat kolaborasi menjadi salah satu kunci agar respons kemanusiaan dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.

“Saya kira kalau semua kita, terutama stakeholders yang ada di NTT, bergandengan tangan, kita dapat mengatasi segala masalah,” ujarnya.

Respons Kekeringan Berjalan di Tengah Penanganan Gempa

PMI NTT sebenarnya telah memulai operasi penanggulangan kekeringan sejak pertengahan Juli 2026 dengan dukungan dana dari PMI Pusat.

Namun, respons tersebut menghadapi tantangan ketika gempa bumi Flores terjadi. Perhatian dan sumber daya PMI kemudian terkonsentrasi pada penanganan masyarakat terdampak gempa, mulai dari pengerahan personel, distribusi logistik hingga pelayanan kemanusiaan di lapangan.

Situasi itu membuat penanganan kekeringan sempat terhenti. Setelah respons gempa mulai lebih terorganisasi, PMI kembali memperkuat perhatian terhadap ancaman kekeringan yang masih membayangi sejumlah wilayah NTT.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bencana di NTT dapat datang bersamaan. Ketika satu wilayah membutuhkan penanganan akibat gempa, wilayah lain pada saat yang sama menghadapi ancaman kekurangan air.

Saat ini, operasi penanggulangan kekeringan PMI NTT berlangsung di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sikka.

Daratan Timor menjadi salah satu perhatian utama karena musim kemarau panjang dapat memberikan tekanan serius terhadap sumber air masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan untuk kebutuhan minum dan memasak, tetapi juga sanitasi, peternakan serta aktivitas ekonomi rumah tangga.

Sementara di Sikka, respons PMI menunjukkan bahwa persoalan kekeringan juga perlu diantisipasi di wilayah Flores. Penanganan dilakukan berdasarkan kondisi dan tingkat kebutuhan masyarakat di lapangan.

Bukan Sekadar Soal Air

Krisis air bersih kerap menjadi wajah paling terlihat dari kekeringan. Namun, persoalan sesungguhnya jauh lebih luas.

Ketika sumber air semakin sulit diperoleh, masyarakat harus menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga untuk mendapatkan air. Pada saat yang sama, kebutuhan pangan, kesehatan, kebersihan, ternak, dan aktivitas ekonomi tetap harus dipenuhi.

Karena itu, respons terhadap kekeringan tidak cukup hanya dengan mendistribusikan air bersih. Penanganan juga perlu memperhatikan ketahanan pangan, kesehatan, sanitasi, serta kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak kemarau panjang.

Dalam kondisi sumber daya yang terbatas, PMI harus menentukan wilayah prioritas berdasarkan tingkat kebutuhan. Dukungan dari berbagai pihak menjadi penting agar operasi kemanusiaan tidak berhenti ketika kebutuhan masyarakat justru meningkat.

Bantuan Rp50 juta dari APINDO menjadi bagian dari upaya tersebut.

Nilainya mungkin tidak besar dibandingkan luasnya wilayah NTT dan kompleksitas persoalan kekeringan. Namun, bagi operasi kemanusiaan di lapangan, dukungan tersebut dapat menjadi tambahan tenaga untuk menjaga respons tetap bergerak.

Memasuki September dan Oktober, ketika puncak musim kemarau diperkirakan terjadi, kebutuhan masyarakat berpotensi meningkat.

Karena itu, langkah antisipasi yang dilakukan sejak sekarang menjadi penting. Bukan hanya untuk memastikan masyarakat memperoleh air bersih, tetapi juga untuk mencegah kekeringan berkembang menjadi persoalan kemanusiaan yang lebih besar.

Dari Markas PMI NTT di Kupang, bantuan APINDO menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang menunjukkan bahwa menghadapi kekeringan tidak cukup dengan menunggu krisis datang.

Ketika pemerintah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama, persoalan yang berat sekalipun memiliki peluang lebih besar untuk ditangani sebelum dampaknya semakin meluas. (SP)

Komentar Anda?

Related posts