BEM Unwira Minta Kampus Pastikan Hak Mahasiswa, Tolak Segala Bentuk Intimidasi

  • Whatsapp
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Sofronius Yafando Nono.

PORTALNTT.COM, KUPANG – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) menegaskan sikapnya menolak segala bentuk intimidasi, pelabelan, dan pembatasan terhadap kebebasan akademik di lingkungan kampus.

BEM mendesak pihak rektorat dan seluruh otoritas akademik untuk menjamin sepenuhnya kebebasan berpendapat sebagai hak mendasar mahasiswa.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Sofronius Yafando Nono yang juga menjabat sebagai kordinator isu lingkungan dan Agraria BEM Nusantara NTT menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk pembungkaman terhadap mahasiswa di lingkungan kampus.

Sofronius menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang intelektual yang bebas, tempat mahasiswa ditempa untuk berpikir kritis, menguji gagasan, dan melatih keberanian moral.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, di mana suara mahasiswa sering kali dianggap ancaman, kritik dipandang sebagai bentuk perlawanan, dan ruang gerak mahasiswa dalam menyampaikan pendapat semakin dipersempit.

Dalam pernyataannya, Sofronius menilai bahwa praktik pembungkaman ini sama saja dengan membunuh jantung demokrasi dan mengkhianati cita-cita pendidikan tinggi.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelajar yang duduk di ruang kelas, melainkan juga agen perubahan sosial yang wajib menyuarakan kebenaran dan melawan ketidakadilan. Kampus, tambahnya, tidak boleh berubah menjadi penjara intelektual yang mengekang gagasan, melainkan harus menjadi rumah yang memberi ruang aman bagi mahasiswa untuk berbicara dan berjuang.

Sofronius menegaskan bahwa BEM Unwira menolak keras segala bentuk intimidasi, pelabelan, dan pembatasan terhadap kebebasan akademik.

Ia mendesak pihak kampus agar menjamin sepenuhnya kebebasan berpendapat sebagai hak mendasar mahasiswa.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa mahasiswa Unwira akan terus bersuara demi keadilan, baik di dalam maupun di luar kampus, serta mengecam keras setiap upaya untuk mengecilkan peran gerakan mahasiswa.

“Unwira adalah milik mahasiswa, dan mahasiswa adalah denyut nadi bangsa. Tidak ada siapa pun yang berhak mematikan suara kami. Semakin ditekan, semakin lantang perlawanan akan bergema. Kami tidak akan diam, karena diam berarti pengkhianatan, sementara bersuara adalah keberanian,” tegas Sofronius.

Apakah kampus hanya ingin mencetak mahasiswa yang patuh tanpa daya kritis? Apakah Unwira hendak melahirkan lulusan yang hanya pandai tunduk pada otoritas, tetapi bisu terhadap ketidakadilan? Jika demikian, maka yang lahir bukanlah intelektual, melainkan robot-robot akademik tanpa nurani.

BEM Unwira melalui kepemimpinan Sofronius Yafando Nono berkomitmen untuk terus berdiri bersama rakyat, menjaga tradisi kritis mahasiswa, dan memastikan bahwa kampus tetap menjadi ruang demokratis yang melahirkan generasi intelektual berani dan berpihak pada kebenaran.

Komentar Anda?

Related posts