Ensiklik Rerum Novarum dan Magnifica Humanitas: Konteks, Tantangan dan Musuh Berbeda, Prinsipnya sama

  • Whatsapp
Screenshot

Oleh: Drs. Fransiskus, Sili, M.Pd (Pengawas Ahli Madya Kementrian Agama Kota Manado)

1. Konteks Kelahiran: Dua Revolusi, Satu Tujuan

Konteks singkat Ensiklik Rerum Novarum 1891, adalah bahwa Eropa abad 19 diguncang Revolusi Industri. Pabrik asapmengepul di mana-mana, kerja buruh 12 jam, dengan upah kelaparan serta tanpa jaminan sosial yang memadai. Buruh tidak punya serikat, tidak punya hari istirahat. Di sisi lain muncul Sosialisme Marxis yang mau menghapus milik pribadi dan keluarga. Gereja waktu itu dituduh kuno karena diam. Paus Leo XIII memecah kebisuan, dengan mengeluarkan sikap Gereja. Beliau menulis ensiklik sosial pertama untuk “masuk ke pasar, ke pabrik, ke rumah buruh”: Ensiklik Rerum Novarum.

Konteks “Magnifica Humanitas” 2020-an. Hari ini pabriknya diganti jadi platform. Kita tidak kerja 16 jam di pabrik, tapi 16 jam scroll di layar. Saat ini kita menghadapi tantangannya: AI telah menggantikan banyak kerja kerja manusia, deepfake memanipulasi atau menukar wajah, suara dan gerakan seseorang dalam video atau audio sehingga terlihat secara nyata, membuat orang bingung benar-salah, asli atau manipulasi, algoritma membuat kita terkurung bubble karena ada gelembung notifikasi pesan di layar, yang mengundang kita membalas obrolan, dan relasi personal antarmanusia menjadi tipis. Paus Fransiskus menyebutnya “teknokrasi paradigmatik” dan “globalisasi ketidakpedulian”. Paus Leo XIV di 2025 juga sudah beberapa kali mengingatkan kita soal risiko AI untuk martabat manusia.

Dalam konteks ini kita bisa menarik benang merah: dalam Rerum Novarum, Paus Leo XIII melawan “eksploitasi tubuh di pabrik”. Paus Leo XIV, Paus di era digital melawan “eksploitasi data, perhatian, dan relasi di tangan”. Tampak bagi kita bahwa musuhnya memang beda, tapi prinsipnya sama: manusia di atas segalanya.

2. Isi Pokok: Apa Kata Kedua Ensiklik Ini

A. Rerum Novarum – Paus Leo XIII, 15 Mei 1891

Kalau membaca Ensiklik Rerum Novarum, jelas bagi kita bahwa Isi pokoknya bertumpu pada 3 pilar:

• Martabat Kerja dan upah kerja yang adil, kerja bukan komoditas semata. Buruh atau pekerja punya hak hidup layak. “Hendaknya upah buruh jangan sampai kurang, sehingga dengan upah itu ia dapat hidup hemat dan jujur. Bila buruh terpaksa menerima upah yang tidak cukup untuk penghidupannya karena kebutuhan atau takut dipecat, maka ia diperlakukan secara tidak adil; dalam hal ini negara wajib campur tangan”
• Hak Milik Pribadi. Milik pribadi dilindungi karena itu perluasan kepribadian dan jaminan kebebasan keluarga. Sosialisme yang menghapus milik pribadi saat itu ditolak keras. “Hak memiliki harta benda secara pribadi adalah hak kodrat manusia, dan melaksanakan hak ini, terutama dalam hidup bersama, sama sekali tidak boleh dilarang”.
• Peran Negara dan Serikat Buruh. Negara wajib melindungi yang lemah, tapi tidak boleh serakah dengan kuasanya. Serikat buruh diizinkan dan didorong, asal tujuannya adil.“Kaum pekerja harus bersatu membentuk serikat… Serikat semacam ini memberi keuntungan besar baik bagi pekerja maupun bagi pengusaha”

B. “Magnifica Humanitas” – Ajaran Paus Leo XIV tentang Teknologi & Martabat

Isi pokoknya juga bertumpu pada 3 pilar, sebagai “Rerum Novarum digital”:

• Manusia Bukan Algoritma. AI hebat, tapi tidak punya hati, hati nurani, relasi. Manusia tidak boleh direduksi jadi “data”. “Kecerdasan buatan tidak memiliki keintiman diri, tidak memiliki kasih, tidak memiliki panggilan. Manusia diciptakan menurut gambar Allah, bukan menurut gambar mesin” (Pesan Paus Fransiskus Hari KomSos 2024)
• Etika di atas kecepatan teknologi sifatnya menjadi netral. Yang menentukan baik-buruk adalah tujuan dan cara pakainya. Teknologi harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kebaikan bersama. “Teknologi tidak netral. Jika kita tidak menghendaki dunia tenggelam dalam ‘teknokrasi paradigmatik’, maka kita harus membentuk hati nurani yang mampu mengarahkan teknologi”
• Solidaritas dalam dunia digital memiliki pesan yang sama dengan Fratelli Tutti, Paus Fransiskus, bahwa dunia maya juga dapat menjadi ladang kasih. Maka tugas kita adalah melawan hoaks, ujaran kebencian, dan “cancel culture”.“Jaringan digital bisa menjadi tempat solidaritas… tetapi juga bisa menjadi tempat pembusukan relasi manusia”

Dengan demikian konteks Magnifica Humanitas 2026 – Paus Leo XIV Revolusi AI & Neuroteknologi. “Pabriknya” sekarang ada di HP. Tantangannya bukan “tubuh diperas”, tapi “jiwa dan perhatian dicuri”. Membaca Magnifica Humanitas, kita belajar3 hal:

•​“Manusia Agung karena diciptakan sebagai gambar Allah, Imago Dei. Inti ensiklik adalah: Menolak “reduksionisme”. Manusia tidak boleh direduksi jadi IQ, data, follower, atau “prompt engineer”. “Magnifica Humanitas: Manusia itu agung, bukan karena kecerdasannya menyaingi AI, tetapi karena ia mampu mengasihi seperti Allah mengasihi.” Paus menegaskan: AI boleh meniru kata, tapi tidak bisa meniru “mengapa” dan “untuk siapa”.“

•​Etika Sebelum Kecepatan ”Teknologi harus punya rem. 3 prinsip utama: Transparansi: Manusia berhak tahu kalau dia bicara dengan AI, bukan manusia. Akuntabilitas: Kalau AI salah, siapa yang tanggung jawab? Bukan “salahin algoritma”.Orientasi Kebaikan Bersama: Teknologi harus bikin yang lemah naik, bukan yang kuat makin kaya data.

•​“Komunitas, Bukan Konektivitas”Punya 5000 follower ≠ punya komunitas. Paus ingatkan: Gereja dipanggil jadi “rumah” di dunia digital. Makanya kita perlu lawan “budaya batal” = cancel culture, hoaks, ujaran kebencian.

3. Makna dan Kedudukan Magnifica Humanitas di Dunia & Teknologi Sekarang

Di era ChatGPT, TikTok, dan mobil tanpa sopir, ajaran tentang kemanusiaan yang agung ini punya 3 kedudukan penting:

• Sebagai kompas etis AI. Sebelum dunia mengeluarkan “AI Ethics”, Gereja sudah memegang sejumlah prisip dalam berbagai ajaran: transparansi, inklusi, tanggung jawab, keamanan, privasi, keandalan, martabat manusia. Ini dipakai Vatikan saat dialog dengan Microsoft, IBM, FAO di “Rome Call for AI Ethics” 2020. Paus Fransiskus menekankan  pentingnya moralitas, HAM dan perlindungan bagi kelompok rentan agar tidak menjadi kaum marginal oleh teknologi.
• Sebagai koreksi atas mitos kemajuan. Dunia beranggapan “teknologi pasti membuat hidup lebih baik”. Namun Magnifica Humanitas menegaskan: tergantung siapa yang pegang setir. Kalau teknologi membuat anak depresi, keluarga pecah, kebiasaan doa pribadi/keluarga ditinggalkan karena sibuk scroll, berarti itu bukan kemajuan namanya, tapi kemunduran. Karena sibuk scroll lalu  terlambat berangkat kerja, berarti ini kelemahan di tangan kita. “Kita tidak bisa mengharapkan bahwa kemajuan teknologi akan menyelesaikan segala sesuatu… justru diperlukan kemajuan etis, budaya dan spiritual”sebagai filter.
• Harapan Teknologi untuk Injil: Zoom untuk pelayanan misa bagi lansia, aplikasi Kitab Suci, menggerakkan donasi online untuk panti asuhan. Dengan kata lain, teknologi bisa “menggandakan roti” kalau, sekali lagi,kalau dipakai dengan semangat kasih dan solidaritas etis.
4. Tantangan Kemanusiaan dan Jawaban bagi Pendidikan dan Katekese Gereja

Sekarang kita menghadapi 4 tantangan terbesar 2026:

• Dehumanisasi Relasi: Anak SD lebih jago TikTok daripada ngobrol dengan Oma-opa. Apa yang terjadi? Empati kekeluargaan tergerus karena sibuk dengan layar di tangannya.
• Banjir Info dan hoaks: “Post-truth”. Perasaan lebih penting dari fakta. Sekarang kita sulit mengajarkan kebenaran, atau sulit menemukan kebenaran yang meyakinkan.
• Krisis perhatian: Konsentrasi 8 detik. Orang sulit punya waktu untuk membaca Alkitab 15 menit, susah hening 5 menit untuk refleksi dan bersyukur atas pengalaman dan perjanalan hidup. Sulit untuk tenang dan bertanya diri dengan kedalaman dan kejujuran nurani: apa hal baik yang sudah saya lakukan hari ini, apa saja yang salah secara moral atau sosial yang saya lakukan hari ini?
• Kesenjangan Digital: Anak di kota lancar Zoom, anak 3T tidak ada sinyal. Inilah kesenjangan baru. Kalau dulu ada perbedaan kualitas hidup antara kaum kapitalis atau pemilik modal dan kaum proletar atau para buruh. Sekarang kesenjangan akses antara di kota dan di pelosok atau area terpencil. Jangankan anak, mahasiswa di daerah susah jaringan juga mengalami hal serupa. Pernah satu mahasiswaku harus naik ke tinggian tempat  pengeringan kopra untuk bisa mendapatkan signal demi ikut tuweb dalam pembelajaran UT.
5. Jawaban Konkret di Dunia Pendidikan dan Katekese:
A. Dalam proses pembelajaran di Kelas bagi para guru:
• Membiasakan diri menidik “Literasi Digital Beretika”: Sebelum mengajar Canva, mengajar dulu “Pause-Think-Post”. Bertanya dulu kepada para siswa: “Postingan ini memanusiakan atau merendahkan?”
• Proyek “Teknologi untuk Sesama”: Tugas akhir Mapel PAKat, misalnya, siswa bukan buat video keren, tapi buat video tutorial baca-tulis untuk anak panti, misalnya. Jadi mengaplikasikan Rerum Novarum: ilmu harus untuk keadilan.
• Model “Guru Manusiawi”: Guru jangan jadi “YouTube”. Guru hadir di kelas nyata, menatap mata, mendengar suara, menyapa nama, menangkap reaksi wajah. Itu yang tidak bisa dibuat oleh AI. Jadi manusia konkret dalam kelas riil tetap diperlukan.
B. Di Katekese Gereja Katolik  Katekese 3 Dimensi:
• Guru/Katekis mengajarkan Credo ini. Hati = 1 jam adorasi tanpa HP tiap bulan. Tangan = aksi “cyber-caring”: grup WA OMK dipakai untuk doa dan bantu yang sakit, bukan gossip atau sekedar saling ucapkan selamat ulang tahun saja.
• “Detoks Digital Keluarga”: Gerakan “1 Jam keluarga tanpa HP” saat makan malam & doa rosario, atau nonton bareng di rumah. Inilah sarana Latihan keheningan. Kita belajar dari Yesus sendiri “putus koneksi”, menyepi untuk berdoa di gunung.
• Bentuk “Misionaris Digital”: Latih OMK jadi admin IG paroki yang menyebarkan konten positif, bukan hanya foto selfie. Katekese sekarang juga lewat Reels 30 detik.

Penutup

Dari “derak mesin uap Manchester” ke “bunyi notifikasi HP”, Gereja tetap pegang satu keyakinan: Homo, capax Dei. Ini adalah konsep teologis yang dicetuskan Santo Agustinus, bahwa manusia berkapasitas atau mampu menampung Allah atau memahami akan Allah. Bahwa manusia sebagai Imago Dei, memiliki kapasitas batiniah untuk mengenal,merindukan dan berelasi dengan Allah, Penciptanya. Rerum Novarum menyelamatkan tangan buruh dari mesin. Magnifica Humanitasmenyelamatkan hati manusia dari algoritma. Tugas kita sebagai Imam, guru, dan katekis sederhana tapi berat: Mencetak atau mendidik manusia, bukan mencetak nilai. Bukan sekedar manusia yang cerdas digital, tapi manusia yang punya jadwal hidup untuk  hening, berlutut dalam doa. Manusia yang melek AI, tapi lebih melek pesan Injil. “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?”

Catatan kecil ini mengajak kita bergerak di kedalaman dari Rerum Novarum ke Magnifica Humanitas: 135 Tahun Gereja Membela Martabat Manusia. 15 Mei 1891: Paus Leo XIII menulis Rerum Novarum untuk buruh pabrik. 25 Mei 2026: Paus Leo XIV menulis Magnifica Humanitas untuk “manusia digital”. 135 tahun jaraknya, tapi tetap punya satu benang merahnya: Gereja tidak pernah berhenti membela martabat manusia.***

Komentar Anda?

Related posts