PORTALNTT.COM, KUPANG – Pagi di Manusak selalu dimulai dengan bunyi air yang mengalir pelan di pematang. Matahari belum tinggi, ketika kaki-kaki petani sudah menjejak lumpur, menanam harapan yang sederhana: panen yang cukup, beras yang cukup, hidup yang lebih layak.
Di antara mereka, pagi itu, berdiri Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena. Ia tak hanya datang untuk membuka Gerakan Tanam Padi Serentak se-Provinsi NTT. Ia turun, menyapa, dan memegang bibit padi yang sama dengan yang digenggam para petani.
Di tepi sawah itulah, ia menyebut satu nama dengan nada berbeda, penuh penghargaan: Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Jefri Bale.
“Kampus tidak boleh hanya bicara teori. Undana sudah menunjukkan, ilmu itu harus hadir di sawah,” kata Melki, suaranya menyatu dengan riuh tawa dan percikan air di kaki para petani, Senin (16/2/2026).
Ilmu yang Tak Lagi Berjarak
Di NTT, sawah bukan sekadar lahan produksi. Ia adalah ruang hidup. Di situlah orang tua menyekolahkan anaknya, membangun rumah, dan menjaga martabat keluarga.
Melki memahami betul, swasembada pangan bukan hanya soal target tonase. Ia soal harga diri daerah. Karena itu, ketika kampus turun tangan, ia melihatnya sebagai pergeseran penting: ilmu tidak lagi berjarak dari rakyat.
Menurutnya, Undana tidak sekadar mengirim mahasiswa untuk praktik lapangan. Kampus hadir sebagai mitra berpikir dan bekerja. Dari pemilihan benih, pola tanam yang menyesuaikan iklim NTT yang keras, hingga pendampingan teknis yang konsisten, semuanya menjadi bukti bahwa ruang kelas bisa bersambung langsung dengan lumpur sawah.
Di Manusak, teori tak lagi terdengar rumit. Ia menjadi cara menanam yang lebih rapi, cara mengairi yang lebih efisien, dan cara memanen yang lebih pasti.
Dari Angka ke Cerita
Data memang memberi optimisme. Produksi gabah kering panen NTT pada 2025 mencapai sekitar 567 ribu ton, melonjak lebih dari 35 persen dibanding tahun sebelumnya. Kabupaten Kupang ikut menyumbang kenaikan itu.
Namun di balik angka, ada cerita yang lebih penting: wajah petani yang mulai percaya diri. Ada keyakinan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
“Keberlanjutan lebih penting daripada euforia,” ujar Melki. Baginya, peningkatan produksi bukan perayaan sesaat, tetapi fondasi jangka panjang. Ia ingin setiap musim tanam membawa perbaikan, bukan hanya pada hasil, tetapi juga pada pengetahuan petani.
Kolaborasi yang Membumi
Melki menyebut petani sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan itu bukan basa-basi. Ia sadar, tanpa sawah yang terurus, persoalan kemiskinan ekstrem dan stunting akan terus menjadi lingkaran.
Karena itu, kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah menyediakan alat dan mesin pertanian, benih, dan kebijakan. Kampus menghadirkan ilmu dan inovasi. Petani memberi tenaga dan ketekunan. Semua bertemu di satu titik: tanah yang sama.
Ia pun mengajak pemerintah kabupaten/kota dan perguruan tinggi menjadikan aktivitas menanam sebagai budaya, bukan seremoni musiman. Ketahanan pangan, katanya, adalah pondasi ekonomi NTT.
Harapan yang Ditanam Bersama
Di akhir kegiatan, bibit-bibit padi itu berdiri rapi, separuh terendam air. Tidak ada yang tahu persis bagaimana cuaca beberapa bulan ke depan. Tetapi pagi itu, ada sesuatu yang tumbuh selain padi: rasa percaya.
Bahwa kampus dan sawah tidak lagi berdiri sendiri-sendiri. Bahwa kebijakan dan kerja lapangan bisa berjalan seiring. Bahwa swasembada pangan bukan sekadar slogan.
Apresiasi Melki kepada Rektor Undana, Prof. Jefri Bale, bukan hanya kalimat pujian di podium. Ia adalah pengakuan bahwa masa depan NTT sedang ditanam bersama dengan tangan petani, dengan ilmu pengetahuan, dan dengan keyakinan bahwa perubahan selalu dimulai dari tanah yang digarap dengan hati.







