PORTALNTT.COM, KUPANG – Pagi ini, Aula Lantai 2 FKIP Universitas Nusa Cendana, dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Total 1.077 guru menanti detik-detik pengukuhan sebagai guru profesional, sebuah momen yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan pengabdian mereka.
Sebagian hadir langsung di aula, dengan senyum tak tersembunyi. Sebagian lainnya mengikuti prosesi secara daring dari daerah masing-masing. Meski terpisah jarak, suasana haru dan khidmat terasa sama, menyatukan mereka dalam satu semangat: menjadi pendidik yang lebih bermakna bagi generasi bangsa.
Mereka datang dari 23 provinsi. Satu momen penting dalam hidup: diakui sebagai pendidik profesional setelah menuntaskan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu Tahap 3 Tahun 2025.
Namun pagi itu, yang paling membekas bukan sekadar sumpah jabatan atau tepuk tangan meriah. Melainkan satu pertanyaan sederhana yang menggantung di udara.
“Seberapa sering kita mengecek isi hati anak didik kita?”
Pertanyaan itu dilontarkan Rektor Undana, Prof. Jefri S. Bale dalam sambutannya. Suaranya tenang, tetapi menghentak kesadaran. Ruangan yang semula riuh perlahan hening. Para guru yang baru saja resmi menyandang predikat profesional diajak menengok ke dalam diri.
Menurut Rektor, menjadi guru bukan hanya soal mengajar, menyelesaikan silabus, atau mengejar nilai ujian. Lebih dari itu, guru adalah orang dewasa yang hadir paling dekat dengan anak-anak di luar rumah.
Di balik seragam rapi dan senyum ceria, bisa jadi ada murid yang sedang memikul beban berat. Mungkin ada yang menjadi korban perundungan. Mungkin ada yang tertekan oleh tugas dan tuntutan. Atau mungkin ada yang setiap hari datang ke sekolah dengan perut kosong, menyembunyikan kesulitan ekonomi keluarga.
“Jangan sampai kita menjadi orang asing bagi anak didik kita,” ujarnya tegas.
Ia mengingatkan, banyak anak memilih diam. Bukan karena mereka kuat, tetapi karena takut merepotkan guru dan orangtua. Mereka belajar menyembunyikan luka, menutupi kesedihan dengan tawa.
Di situlah, kata Rektor, makna profesional diuji. Profesional bukan hanya soal kompetensi dan sertifikat. Tetapi tentang empati.
“Jadilah rumah yang aman,” pesannya.
Rumah yang aman bukan berarti tanpa aturan. Tetapi tempat anak-anak merasa diterima, didengar, dan tidak dihakimi. Tempat mereka tahu, seberat apa pun masalahnya, mereka bisa kembali dan menemukan pelukan, bukan penolakan.
Rektor juga mengajak para guru mengingat kembali wajah-wajah di kelas. Adakah yang seragamnya mulai lusuh? Adakah yang berasal dari keluarga sulit, hanya untuk makan?
“Jangan sampai kita baru peduli setelah viral. Kepedulian kita bisa menyelamatkan nyawa,” katanya, mengingatkan bahwa kehadiran guru bisa menjadi penentu antara putus asa dan harapan.
Baginya, guru hebat bukan diukur dari berapa banyak muridnya juara lomba. Tetapi dari berapa banyak harapan yang berhasil ia hidupkan kembali. Dari berapa banyak anak yang kembali percaya bahwa hidup ini layak diperjuangkan.
Di kesempatan yang sama, Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Drs. Malkisedek Taneo, M.Si., menegaskan bahwa 1.077 guru yang dikukuhkan hari ini memikul amanah besar.
“Kualitas pendidikan Indonesia kami letakkan di bahu dan hati Bapak Ibu yang dikukuhkan hari ini,” ujarnya.
Ia menyebut profesi guru sebagai panggilan pelayanan. Murid bukan sekadar peserta didik, tetapi anak sendiri yang harus dijaga, dibimbing, dan disayangi. Dari tangan para guru inilah akan lahir generasi yang kelak memimpin dan membangun bangsa.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang sejak 2013 terus mempercayakan Undana sebagai penyelenggara PPG, serta kepada pimpinan universitas yang konsisten mendukung program tersebut.
Pelantikan itu akhirnya bukan hanya tentang gelar dan legalitas. Ia menjadi peneguhan komitmen moral. Di tangan 1.077 guru ini, masa depan ribuan anak dititipkan.
Dan mungkin, seperti yang disampaikan Rektor pagi itu, dunia pendidikan tidak selalu membutuhkan guru yang paling pintar. Dunia lebih membutuhkan guru yang mau berhenti sejenak, menatap mata muridnya, dan bertanya dengan tulus:
“Kamu baik-baik saja?”







