PORTALNTT.COM, KUPANG – Koordinator Daerah BEM Nusantara Nusa Tenggara Timur, Andhy Umbu Sanjaya, mempertanyakan sikap dan respons Pengurus Pusat BEM Nusantara terhadap bencana gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Menurut Andhy, ketika masyarakat Flores sedang menghadapi kehilangan, kerusakan rumah, trauma, keterbatasan akses, serta kebutuhan mendesak pascabencana, organisasi mahasiswa nasional seharusnya tidak memilih untuk diam.
“Kami mempertanyakan, di mana sikap Pengurus Pusat BEM Nusantara ketika NTT sedang berduka? Di mana solidaritas nasional ketika masyarakat Flores membutuhkan suara mahasiswa?” tegas Andhy Umbu Sanjaya.
Ia menilai, diamnya organisasi mahasiswa dalam situasi kemanusiaan seperti ini bukan semata-mata persoalan komunikasi internal, melainkan menyangkut keberpihakan moral dan tanggung jawab organisasi terhadap rakyat.
“BEM Nusantara dibangun bukan hanya untuk memiliki struktur, jabatan, forum, dan dokumentasi kegiatan. Organisasi mahasiswa seharusnya menjadi mata, telinga, dan suara rakyat. Justru ketika rakyat berada dalam situasi paling sulit, di situlah keberadaan dan keberpihakan organisasi mahasiswa diuji,” ujar Andhy.
Andhy menegaskan bahwa solidaritas tidak boleh berhenti pada ucapan belasungkawa atau unggahan di media sosial. Menurutnya, solidaritas harus diwujudkan melalui langkah konkret, seperti pernyataan resmi organisasi, penggalangan bantuan, koordinasi kemanusiaan, pendampingan korban, serta advokasi terhadap kebutuhan masyarakat terdampak.
“Solidaritas tidak cukup hanya dengan mengatakan turut berduka. Kalau benar kita mengaku sebagai gerakan mahasiswa yang berpihak kepada rakyat, maka keberpihakan itu harus terlihat dalam tindakan. Rakyat tidak membutuhkan simpati yang berhenti di kata-kata,”katanya.
Ia juga mengingatkan Pengurus Pusat BEM Nusantara agar tidak menjadikan persoalan bencana sebagai urusan pemerintah semata.
“Memang pemerintah memiliki tanggung jawab utama dalam penanganan bencana. Tetapi mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai kekuatan masyarakat sipil, sebagai kontrol sosial, dan sebagai bagian dari kekuatan rakyat. Ketika masyarakat mengalami penderitaan, mahasiswa tidak boleh berdiri sebagai penonton,” tegasnya.
Menurut Andhy, organisasi mahasiswa akan kehilangan makna perjuangannya apabila hanya aktif dan lantang ketika sebuah isu sedang menjadi perhatian publik, tetapi kehilangan suara ketika masyarakat benar-benar membutuhkan keberpihakan.
“Jangan sampai organisasi mahasiswa hanya lantang ketika kamera menyala dan isu sedang ramai. Tetapi ketika rakyat terluka, justru memilih diam. Kalau pada saat rakyat tertimpa bencana saja kita tidak mampu menunjukkan sikap, lalu untuk apa kita menyebut diri sebagai gerakan mahasiswa yang mengabdi kepada rakyat?”
Lebih lanjut, Korda BEM Nusantara NTT mendesak Pengurus Pusat BEM Nusantara untuk segera mengambil sikap resmi dan melakukan langkah konkret terhadap bencana yang terjadi di Flores.
“Kami di daerah tidak sedang meminta Pengurus Pusat datang membawa janji besar. Kami juga tidak meminta mereka menjadi pahlawan. Yang kami tuntut jauh lebih sederhana: sikap. Sikap yang jelas, sikap yang berpihak, dan sikap yang menunjukkan bahwa penderitaan masyarakat NTT bukan persoalan daerah semata, tetapi persoalan kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab moral kita bersama,” ungkap Andhy.
Ia menegaskan bahwa BEM Nusantara tidak boleh menjadi organisasi yang hanya hadir dalam momentum tertentu.
BEM Nusantara bukan organisasi yang boleh memilih-milih momentum untuk berpihak kepada rakyat. Ketika rakyat membutuhkan suara, mahasiswa harus bersuara. Ketika rakyat membutuhkan bantuan, mahasiswa harus bergerak. Dan ketika rakyat terluka, mahasiswa harus hadir,”tegasnya.
Andhy menutup pernyataannya dengan menyerukan agar seluruh elemen BEM Nusantara, baik di tingkat pusat maupun daerah, menjadikan bencana Flores sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa masih memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap persoalan rakyat.
Jangan hanya hadir ketika kamera menyala. Hadirlah ketika rakyat sedang terluka. Karena ukuran keberpihakan bukan seberapa sering kita berbicara tentang rakyat, tetapi seberapa jauh kita hadir ketika rakyat benar-benar membutuhkan kita.”
Korda BEM Nusantara NTT Pertanyakan Sikap Pengurus Pusat: “Di Mana Suara BEM Nusantara Ketika NTT,Flores Berduka?







