PORTALNTT.COM, KUPANG – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Universitas Nusa Cendana (Undana) terasa berbeda. Di tengah semangat memperingati kemerdekaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undana melangkah lebih jauh dengan menyiapkan ruang bagi lahirnya generasi baru: mahasiswa yang tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan.
Langkah itu ditandai dengan pelantikan Dekan FEB Undana yang baru, sekaligus peluncuran Inkubator Bisnis FEB Undana, Senin (17/8/2026).
Bagi Rektor Undana, Prof. Jefri S. Bale, momentum tersebut bukan sekadar seremoni. Inkubator bisnis diharapkan menjadi bagian penting dari upaya universitas membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan kampus.
“Bisnis yang penting adalah kecakapan. Bagi kita, ini mendorong terciptanya kualitas lulusan yang memiliki semangat kewirausahaan. Ini menjadi hal yang sangat penting,” ujar Prof Jefri.
Menurut dia, keberadaan inkubator bisnis tidak boleh berhenti pada sebuah ruangan yang diresmikan dan kemudian sepi dari aktivitas. Ruang tersebut harus hidup melalui kegiatan mahasiswa, dosen, dan masyarakat.
“Semoga hari ini bukan saja kita memasuki ruangan yang bagus, tetapi ke depan kita bisa melihat aktivitas dan kegiatan. Mahasiswa menjadi wirausaha yang jauh lebih berkualitas,” katanya.
Prof Jefri menegaskan, pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik. Undana juga ingin memastikan lulusan memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri, membangun usaha, bahkan menciptakan lapangan kerja.
Karena itu, inkubator bisnis diarahkan untuk mendukung pencapaian indikator kinerja utama universitas, terutama dalam mendorong lulusan agar mampu langsung bekerja.
“Bukan hanya melanjutkan studi, bukan hanya menjadi pegawai di pemerintahan, dunia usaha maupun dunia industri. Melalui inkubator ini, mereka mampu memiliki usaha sendiri,” kata Prof Jefri.
Lebih jauh, ia berharap hasil penelitian yang selama ini lahir di kampus tidak berhenti di ruang akademik atau hanya menjadi laporan penelitian. Hasil riset harus memiliki jalan menuju masyarakat dan pasar.
Menurut dia, produk-produk yang lahir dari kolaborasi mahasiswa, dosen dan masyarakat dapat dikembangkan dalam skala lebih besar sehingga memberikan manfaat ekonomi yang nyata.
“Kalau kita mampu menghasilkan lulusan yang menjawab langsung apa yang menjadi cita-cita tercapainya generasi maju Indonesia tahun 2045, saya kira ini yang paling utama,” ujarnya.
Kepemimpinan yang Melayani
Momentum pelantikan Dekan FEB Undana juga menjadi kesempatan bagi Rektor Jefri untuk menitipkan pesan tentang arah kepemimpinan di lingkungan universitas.
Ia berharap para pimpinan tidak menjadikan jabatan semata-mata sebagai posisi struktural, tetapi sebagai ruang untuk melayani.
Menurut Prof Jefri, seorang pemimpin harus memiliki arah kinerja yang jelas, terukur dan berkelanjutan. Pemimpin juga dituntut mampu beradaptasi, berani mengakui kesalahan, memperbaiki diri, serta mau mendengar.
“Ke depan kita menjadi pemimpin yang memiliki semangat melayani. Kepemimpinan itu harus memiliki arah kinerja yang terukur dan berkelanjutan,” katanya.
Pesan itu sekaligus menjadi fondasi bagi kepemimpinan baru di FEB Undana.
Roland Fanggidae: Bukan Berjalan Sendiri
Dekan FEB Undana yang baru, Doktor Roland Fanggidae, menyambut amanah tersebut dengan menekankan pentingnya kebersamaan.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Rektor dan jajaran pimpinan universitas serta seluruh sivitas akademika FEB Undana yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.
“Tidak mungkin saya berjalan sendiri. Saya membutuhkan dukungan dari seluruh sivitas Fakultas Ekonomi dan Bisnis,” ujar Doktor Roland.
Ia mengatakan, FEB Undana akan berusaha menerjemahkan visi besar universitas melalui bidang keilmuan yang dimiliki fakultas.
Salah satu langkah konkret yang mulai dijalankan adalah menghadirkan inkubator bisnis.
“Kita berusaha untuk mendukung upaya universitas menghadirkan entrepreneur university,” katanya.
Menurut Doktor Roland, inkubator bisnis tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa. Masyarakat umum dan pelaku UMKM juga akan diberi ruang untuk mendapatkan pendampingan.
Setelah usaha yang dibangun dinilai mampu berdiri secara mandiri, FEB Undana akan membantu membuka akses agar produk tersebut dapat masuk ke pasar.
Dari Riset ke Pasar
Ketua Inkubator Bisnis FEB Undana, Clarche S. Maak, menjelaskan bahwa inkubator tersebut dirancang sebagai jembatan antara dunia akademik dan dunia usaha.
Produk yang dikembangkan berasal dari mahasiswa maupun hasil kolaborasi dosen, mahasiswa dan masyarakat.
“Kami berusaha membawa dari hulu ke hilir. Hasil penelitian dari dosen, hilirnya ke inkubator, sehingga ada hasilnya dan dihidupkan sebagai wadah menghasilkan mahasiswa dan masyarakat wirausaha,” jelas Clarche.
Untuk tahap awal, sudah terdapat empat produk yang dihasilkan melalui skema tersebut.
Produk-produk itu diharapkan tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat dikembangkan, dikemas, dipasarkan dan pada akhirnya menjadi usaha yang memberikan nilai ekonomi.
Clarche mengatakan, pihaknya juga akan membuka ruang kolaborasi dengan fakultas lain, termasuk dengan program studi yang berkaitan dengan produk lokal seperti tenun ikat.
Kesempatan tersebut juga akan dibuka bagi alumni.
“Kami akan membuka kesempatan. Jadi bukan hanya mahasiswa aktif, tetapi alumni juga bisa terlibat,” katanya.
Kemerdekaan yang Melahirkan Kemandirian
Peluncuran Inkubator Bisnis FEB Undana pada 17 Agustus memberi makna tersendiri. Di tengah perayaan 81 tahun Indonesia merdeka, kampus memilih merayakannya dengan menanam benih kemandirian ekonomi.
Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kemampuan generasi muda untuk menentukan masa depannya sendiri.
Di ruang inkubator itu, gagasan mahasiswa akan diuji. Riset akan dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat. Produk akan dipertemukan dengan pasar. Dan dari sana, diharapkan tumbuh wirausaha-wirausaha muda Nusa Tenggara Timur yang mampu menciptakan lapangan kerja.
Bagi Undana, inilah salah satu cara menerjemahkan semangat kemerdekaan ke dalam dunia pendidikan: membentuk lulusan yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi berani menciptakan pekerjaan dan memberi manfaat bagi masyarakat.







