Mama Peni, Orang Miskin di Kota Kupang Akhirnya Terdaftar Sebagai Peserta BPJS

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KOTA KUPANG – Vinsensius Peni Baun (54) atau akrab disapa Mama Peni akhirnya bernafas lega. Kecemasan yang selama ini menghantui kehidupannya akhirnya terjawab juga.

Mama Peni bersama suami Hendrikus Hengki Homuen dan anaknya Ester Homuen akhirnya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan jalur Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibayarkan oleh pemerintah.

Hidup sebagai keluarga yang kurang mampu, Mama Peni meresa semakin terbeban karena mereka tidak memiliki kartu BPJS. Alhasil ketika sakit itu datang, Mama Peni berjuang seadanya tanpa harus bisa ke fasilitas kesehatan. Mama Peni orang Miskin di Kota Kupang yang “Dilarang Sakit”.

Mirisnya, gubuk yang ditempati Mama Peni persis di samping RS Carolus Baromeus. Tapi bagi Mama Peni, Rumah Sakit ataupun fasilitas kesehatan lainnya merupakan sebuah tempat mewah yang tak bisa mereka gapai. Semua itu hanya karena ketidaksanggupan membayar biaya pengobatan.

Namun Tuhan akhirnya menjawab doa Mama Peni dan keluarga. Mereka akhirnya bisa memiliki kartu BPJS sehingga kini mereka tak perlu takut lagi ketika sakit.

Kadis Sosial Kota Kupang, Lodiwyk Djungu Lape, S.Sos, mengatakan pada media ini, setelah melewati tahapan dan proses, Mama Peni dan keluarga akhirnya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan jalur Penerima Bantuan Iuran (PBI).

“Ester Homuen dan Hendrikus Hengki Homuen tersaftar sebagai PBI APBD Kota Kupang. Sedangkan Vinsensia Peni Buan terdaftar sebagai PBI APBD Provinsi NTT, TMT 01 April 2023,” jelas Kadis Sosial Kota Kupang pada media ini, Jumat 31 Maret 2023.

Selanjutnya kata Lodiwyk, Mama Peni dan keluarga bisa melakukan pengobatan di Fasilitas Kesehatan hanya dengan membawa KTP.

“Untuk kartu tidak di cetak lagi. Sakit cuma bawah KTP/KK. Sekarang sistem by NIK,” jelasnya.

Untuk diketahui, Mama Peni adalah tulang punggung keluarganya. Suami dan anak-anaknya mengalami gangguan mental dan kejiawaan. Bahkan suaminya pernah menjalani perawatan di RS Jiwa Naimata. Anaknya menjadi korban human trafficking, lalu pulang dalam keadaan hamil setelah menjadi korban sex trafficking di Medan, Sumatra Utara. Kini telah memiliki 2 orang anak.

Untuk menopang keluarganya, Mama Peni dengan kondisi kaki yang pincang harus bekerja serabutan. Ia mengerjakan apa saja agar suami, anak dan cucunya tidak lapar dan haus.

Ia berkebun; menanam jagung di kebun orang lain. Memelihara ternak; babi, kambing dan bebek milik orang lain yang dititipkan di kandangnya. Ia akan diupahi setelah ternak-ternak yang dipeliharanya terjual.

Rutinitas itu telah Mama Peni lakoni sejak dulu hingga saat ini, demi menghidupi keluarganya yang berjumlah 6 (enam) orang termasuk dirinya. (Jefri Tapobali)

Komentar Anda?

Related posts