Merenungkan Kembali Dogma Marialis

  • Whatsapp

Suatu Catatan Ringan bagi Para Pembelajar, Dirangkum dariBerbagai Sumber

Drs. Fransiskus, Sili, M.Pd (Pengawas Ahli Madya Kementrian Agama Kota Manado)

Pengantar

2 pertanyaan yang diajukan di awal bagian ini adalah: Apa itu Dogma? Mengapa Gereja menetapkan Dogma?

Pengertian Dogma

Kata ‘dogma’ dari kata dokéō (Yunani) berarti meyakini, perihal sikap percaya. Istilah Latin docēre berarti mengajar. Bagi Gereja Katolik, Dogma merupakan ajaran resmi tentangIman dan Moral yang diterima oleh seluruh Gereja, karenadiyakini benar berdasarkan wahyu ilahi, dan karena itu tidakdapat sesat.

Pengaruh dunia hukum dalam kultur Romawi: dalamsebuah tatanan perlu suatu keyakinan yang terdokumentasi, semacam dekrit yang tertulis secara gmablang, bersifatmengikat, berlaku bagi komunitas tertentu. Orang yang maumasuk dalam komunitas Gereja, bersedia taat pada norma yang diyakini Gereja itu, dengan menyatakan ‘Aku Percaya’ (Credo).

Ajaran dogmatis dihasilkan dari Magisterium Gereja (Paus bersama para Uskup). Ketika seorang Paus memproklamirkansebuah Dogma, kebenaran Dogma itu telah diteliti secaramendalam sebelumnya bersama semua Uskup dan para ahli.

Bermula dari Litani Santa Perawan Maria dan Terus Berkembang

Dogma bermula dari praktik devosi-devosi umat, dan darisana banyak Gelar Bunda Maria yang dikenal melalui DoaLitani Santa Maria. Litani Maria dalam Gereja Latin dipengaruhi oleh tradisi seruan doa dari Gereja Ortodoks Yunani di abad ke-6, yang disebut Akathistos, yaitu himnepujian kepada Yesus dan Maria, khususnya pengangkatannyake surga. Doa semi-liturgis di sekitar tahun 1130, berupauntaian Mazmur yang digabungkan dengan seruan kepadaPerawan Maria.  Doa Mazmur itu dibawakan dalam tujuhhari, dan diselingi antifon. Dalam perkembangannya, Mazmurdigantikan dengan doa Salam Maria sebanyak 150 kali (dibagidalam 3 group limapuluh) yang disebut Rosarium.

Litani Maria mula-mula merupakan bagian dari LitaniPara Kudus. Dalam perjalanan, kemudian dipisahkan karena banyak gelar yang diberikan kepada Maria. Dua versi awal Liatani Bunda Maria: Versi Loreto dan Venezia. Disebut versi Venezia karena bermula di Basilika St. Markus – Venezia (Italia).  Litani Loreto: bermula di Loreto-Italia di akhir abad ke XIII dan diresmikan oleh Paus Sixtus ke V pada tahun 1587. Versi awal Litani Loreto memiliki 73 seruan/ gelar bagi Maria, dan kemudian ditambah, dikurangi, atau diganti oleh beberapa Paus.

Litani muncul bersamaan dengan himne utama Maria seperti Salve Regina (dikaitkan denga Bernardus Clairvaux) dan Alma Redemptoris Mater (Hermanus Contractus). Paus Klemens ke XIII memberi gelar ‘Bunda tak Bernoda’ (Mater Immaculata) pada tahun 1768 jauh sebelum diproklamirkan Dogma Maria Immaculata pada tahun 1854 oleh Pius IX. Paus Leo XIII pada tahun 1903 memberi gelar ‘Bunda Penasihatyang Baik’ (Mater boni Consilii).                                                                                                              

                                                                                                                                                                                                                  Empat Dogma tentang Maria

Dalam Gereja sejak awal sampai sekarang, ada empat Dogma tentang Maria.

1. Maria Bunda Allah (Theotókos, Mater Dei) yangditetapkan Konsili Efesus pada tahun 431;

2.  Maria selalu dan tetap Perawan (Semper virgo ante partum, in partu et post partum) ditetapkan Konsili Nikea I (325), Konstantinopel I (381), Efesus 341, Kalsedon 451, Konstantinopel II (553);

3. Maria Terkandung tanpa noda dosa (Immaculata Conceptio) ditetapkan oleh Paus Pius IX († 1878) pada tahun 1854;

4. Maria diangkat ke Surga dengan segenap jiwa dan raganya (Maria Assumpta) ditetapkan Paus Pius XII pada 15 Agustus 1950.

Peranan Maria dalam Misteri Keselamatan

Sebelum melanjutkan permenungan tentang Dogma Marialis, perlu ditegaska beberapa hal berikut:

 Dogma Kristologi tak dapat dimengerti tanpa Dogma Mariologi.

 Per Mariam ad Jesum, dan sebaliknya juga Per Jesum ad Mariam.

 Gelar ‘Bunda Allah’ pada Maria bermakna karenamengungkapkan kesatuan personal Yesus Kristus, yaitu bahwa Ia sungguh Allah dan sungguh manusia.

Dari rumusan Credo Nikea-Konstantinopel terdapatrumusan “Kami percaya akan satu Allah Bapa Yang Mahakuasa, …dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal; Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, terangdari terang, Allah benar dari Allah benar, dilahirkan bukandijadikan, sehakikat dengan Bapa…..”

 

1. Dogma Maria Bunda Allah (Theotokos)

“Siapakah aku ini sampai Ibu Tuhanku datangmengunjungi aku”? (Luk 1: 43). Kata ‘Tuhan’ dalam teks ini sejajar dengan nama YHWH, yaitu gelar untuk Allah yang biasa digunakan dalam Perjanjian Lama.

Paralel antara kunjungan Elisabet kepada Maria dengankedatangan Tabut Perjanjian kepada Daud (2 Sam. 6: 9-22). Daud menari-nari kegembiraan, dan bertanya: ‘bagaimanatabut Tuhan dapat sampai kepadaku’? Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom. Lalu Daud pergimengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed- Edom ke kotaDaud dengan sukacita.

Beberapa teks lain dapat ditunjuk di sini. Yesus adalah‘Anak Allah’ (Luk 1: 35). Oleh sebab itu, Maria bukan hanyaBunda Kristus, melainkan juga, dan pertama-tama adalahBunda Allah atau Ibu Tuhan (Theotókos).

Beberapa teks lain dengan jelas mengidentikkan Maria sebagai ‘ibu Yesus’ (bdk. Mat. 2:13, 20; Luk. 1:31; 2:34; Kis.1:14) dan sebagai ‘ibu dari Anak Allah’ (bdk. Luk. 1:35; Gal. 4:4). Sebagai Bunda Tuhan Maria menjadi pribadi istimewa dan karenanya ia menjadi Bunda yang Patut dikagumi.

Ajaran dari Para Bapa Gereja Timur

✓ Klemens dari Aleksandria († 215). Bunda Maria Perawan sekaligus Ibu penuh kasih. Maria menjadi model Gereja.

✓ Origenes († 253). Iman yang utuh akan Yesus terungkap dalam keyakinan akan Maria sebagai Bunda Allah.

✓ Aleksander dari Aleksandria (†328). Untuk Pertama kali menggunakan istilah Theotókos secara eksplisit.

Masih menurut Origenes  dari  Alexandria  († 253), “Mereka yang percaya pada Yesus …., tetapi tidak percaya bahwa Ia lahir dari Perawan Maria, tampaknya percaya namun sebenarnya tidak percaya pada Pribadi Ilahi yang sama”.Artinya: percaya kepada Yesus tanpa percaya pada Maria adalah kepercayaan yang tidak utuh. Maka mengutip kata-kata Santo Paulus: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4: 4). Origenes menekankanfrase lahir dari seorang perempuan (born of a woman), bukanlahir melalui seorang perempuan (born through a woman).

Ajaran dari Para Bapa Gereja

Ambrosius dari Milan († 397). Mengakui Maria sebagai Bunda Allah adalah konsekuensi dari iman akan Yesus Kristus yang sungguh Allah sungguh manusia. Kedua tak terpisahkan.“Tidak ada perbedaan antara Dia yang datang dari Bapa dan yang lahir dari sang Perawan, tidak; Dia adalah Pribadi yang sama, yang datang dari Bapa maupun yang lahir dari Perawan” “Sebagaimana kita mayakini bahwa Ia (Yesus) lahir dari Bapa, hendaknya kita mengamini pula kelahiran-Nya dari Maria, agar iman kita menjadi utuh”

Agustinus Hippo († 430). Kepantasan Maria dilihat darisudut pandang rahmat Allah, namun tidak mengurangikebebasan Maria. Maria bukan sekedar alat di tangan Tuhan.“Karena ia telah mengucapkan kaul kemurnian, dan suaminyatidak merusak kesehajaannya, melainkan menjadi penjaganya[…] maka ketika Malaikat memberi kabar kepadanya, iaberkata:

‘Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belumbersuami?’ Seandainya ia (Maria) memang memiliki niatmengenal seorang pria, dia tidak tertarik pada kata-kata Malaikat itu. Ketertarikan Maria adalah sebuah tanda kaul” (Sermon, 255, 2; PL 36).

Pernyataan Dogmatis Konsili Efesus Thn 431

«Karena itu kita mengakui bahwa Tuhan kita Yesus, anaktunggal Allah, adalah sungguh Tuhan dan sungguh manusia, memiliki jiwa serta tubuh; lahir dari Bapa sebelum segala abadmenurut keilahian, lahir, untuk kita dan untuk keselamatan kita, pada masa akhir dari perawan Maria menurut kemanusiaan; yang sekodrat dengan Bapa menurut keilahian, dan sekodratdengan kita menurut keinsanian, sehingga terjadi penyatuandua kodrat. Oleh karena itu kami mengakui satu Kristus, satuAnak, satu Tuhan. Dengan menegaskan kesatuan ini, kami mengakui bahwa perawan suci adalah Bunda Allah, sebabSabda Allah telah berinkarnasi dan menjadi manusia, dan telahbersatu dalam dirinya sejak dikandung, bait suci yang tampakolehnya».

Masih tentang pernyataan Dogmatis Konsili Efesus: “Para bapa yang kudus selalu menghormati Perawan kudus Theotókos, bukan dalam pengertian bahwa asal- mula kodratilahi Sabda adalah dari Perawan kudus, melainkan dalampengertian bahwa Ia mengambil bentuk tubuh nan suci yang sudah disertai dengan jiwa yang murni dari dia (Maria). Mengingat bahwa Sabda telah menjadi satu pribadi dalamtubuh-Nya, maka orang dapat mengatakan bahwa Ia sungguhlahir menurut daging” (Cyril. Epist. 4, PG 77).

2. Dogma Maria Perawan (Semper Virgo)

Pendasaran Biblis

“Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandungdan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akanmenamakan Dia Imanuel” (Yes. 7: 14). Para eksegetsependapat bahwa kata ’almah dalam bahasa Ibrani juga berarti’perawan’.

Dari kisah Injil, kita membaca “Malaikat Gabriel menjumpai seorang perawan yang bertunangan dengan seorangbernama Yusuf. Nama perawan itu Maria” (Luk. 1: 26-27).Pertanyaan Maria: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karenaaku belum bersuami?” (Luk. 1: 34). “Belum bersuami”, indikasi keperawanan Maria. Selanjutnya, dalam suratnya St. Paulus berbicara tentang Kristus dengan mengacu pada Maria. “Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorangperempuan…” (Gal. 4:4-5).

Penafsiran Teologis

Maria perawan sebelum melahirkan, ketika melahirkan, setelah melahirkan Yesus (ante partum, in partu, post partum). Istilah “saudara Yesus” (Mat. 12: 46; Mrk. 6: 3; Yoh. 7: 3) di Gereja Barat dimengerti sebagai kekerabatan, mungkin sepupu, bukan saudara kandung.

St. Agustinus Hippo (†430) dan St. Zeno dari Verona (†371) meyakni bahwa Maria mengandung sebagai perawan, melahirkan sebagai perawan, dan setelah melahirkan ia hidupselamanya sebagai perawan (virgo concepit, virgo peperit, virgo permanist).

Prawan sebelum melahirkan: Maria mengandung dari Roh Kudus, bukan pria insani. Perawan waktu melahirkan: rahimMaria disucikan oleh Yesus yang lahir darinya. Perawanansesudah melahirkan: Maria tidak bersetubuh lagi dengan Yusuf.“Kristus adalah Pribadi Ilahi yang sempurna. Karena itukelahiran-Nya dari rahim Maria tak menyebabkannya ternoda, melainkan memurnikan dan mengangkatnya kepada tingkatkeluhuran yang lebih tinggi” [Gagliardi. La Verità è Sintetica, 469-472]. Keperawanan ternoda ketika terjadi hubungan intimatau hal lain yang berkaitan dengannya, bukan hanya soalrusaknya selaput darah. Maria mengandung dari Roh Kudus. Kelahiran Yesus ‘membuka Rahim’ Maria tanpa menodainya(Graef. Mary, 12-13).

Ajaran Teologis

Beberapa Konsili telah menetapkan dan menegaskan dogma keperawanan Maria. Misalnya Nikea I (325), Konstantinopel I (381), Efesus (431), Kalsedon (451), Lateran IV (1215), Lion II (1274). Kredo Nicea-Konstantinopel: “Iaturun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatankita, dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dan lahir dariperawan Maria, dan menjadi manusia; …[DS 150]. SinodeLateran, 31 Oktober 649, menggunakan istilah absque semine(Latin), senza seme (Italia) yang berarti tanpa benih: […] Maria mengandung dari Ro Kudus, tanpa benih seorang pria…” [DS 503].

3. Dogma Maria Dikantung Tanpa Noda Dosa (Immaculata Conceptio)

Pendasaran Biblis

 Teks Kej. 3: 15: cikal-bakal Kabar Sukacita (Proto- Evangelium) keselamatan. Kutukan terhadap ular dirangkai dengan janji ilahi: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Maria adalah ”Eva baru”.

Rahmat Allah yang diterima Maria adalah kabar sukacita keselamatan yang terpenuhi dalam Yesus Kristus, gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan; Dia yang ada terlebihdahulu dari segala sesuatu dan segala segala sesuatu ada di dalam Dia” (bdk. Kol. 1: 15,17).

Penafsiran Teologis

Efrem dari Siria († sekitar 306-373) melukiskan Maria sebagai mata, di mana “terdapat terang yang mendiaminya, yang memurnikan rohnya, membersihkan pikirannya, menguduskan batinnya serta mentrasfigurasikan keperawanannya” . Gregorius dari Nazianze berbicara tentang purifikasi yang terjadi dalam diri Maria oleh daya rahmat Allah yang khusus. “Ia (Tuhan) telah dikandung oleh Perawan yang jiwa dan tubuhnya telah dimurnikan oleh Roh Kudus; wajarlah bahwa yang melahirkan anak memperoleh pula kehormatan, maka terjadilah bahwa dia yang tetap perawan menerima kehormatan yang lebih besar” (Sermon 38, 13).

Yohanes Damaskus († sekitar 750). Dalam Khotbah-khotbanya menulis: “Anna mengandung Perawan Theotókos.… Telah terjadi bahwa Perawan Theotókos terlahir dari Anna, artinya yang kodrati tak dapat mendahului benih rahmat, melainkan tetap tak berbuah sampai rahmat Tuhan menghasilkan buah” (Khotbah Natal 2).

“O pinggang Yohakim yang terberkati, yang darinyasemua benih murni dicurahkan. O rahim Anna yang luhur, yang di dalamnya janin yang terkudus bertumbuh dan terbentuk, bertumbuh dalam diam! O rahim yang telahmengandung surga yang hidup, yang lebih luas daripada langityang luas” (Khotbah Natal 2).

 

Belajar dari Argumen Duns Scotus

Beato Yohanes Duns Scotus († 1308) digelari juga ‘Doctor Marianus’. Sintesi argumennya ialah penekanan bahwa”oleh karena Yesus, Maria dapat, patut, dan karena ituterjadilah keajaiban dalam dirinya” (potuit, decuit, ergo fecit).

Preservative redemption: Maria diselamatkan oleh jasaYesus Kristus, dan karena itu ia terlindung/tercegah dari dosa asal. Oleh karena jasa Yesus Kristus, Maria dianugerahi rahmatpenyucian. “Lebih luhur lah jasa melindungi seseorang darikuasa dosa, dari pada membiarkannya jatuh dalam dosa, lalumemulihkannya”.

Bulla Ineffabilis Deus, 8 Desember 1854, Paus Pius IX memproklmairkan pernyataan dogmatis: “Demi kemuliaanAllah Tritunggal yang Esa, demi kemuliaan dan perhiasanindah Perawan Bunda Allah, demi menjunjung tinggi Iman Katolik serta peningkatan agama Kristiani, dengan otoritasTuhan Yesus Kristus, para Rasul kudus, Petrus dan Paulus, dan oleh Kami sendiri, kami memproklamirkan, menyatakan, dan menetapkan secara definitif doktrin yang menetapkan bahwaPerawan Maria yang terberkati sejak saat ia dikandung, telahdilindungi agar murni dari segala noda dosa oleh rahmat yang khusus dan istimewa dari Allah Mahakuasa, berkat jasa YesusKristus, Penyelamat umat manusia, sebagaimana telahdiwahyukan oleh Allah, dan ini harus dipercaya teguh dan tetapoleh semua umat beriman” (DH 2803).

Ajaran Dogmatis

Ensiklik Fulgens Corona (Mahkota Emas) Pius XII. Diproklamirkan pada 8 September 1953, bertepatan denganperingatan 100 tahun dogma Maria Immaculata.

“Jika kita mengakui kasih Allah yang berkobar-kobar dan manis, yang dengannya Ia telah mengasihi dan terus mengasihiBunda dari Putra tunggal-Nya, bagaimana mungkin kita masihmencurigai jangan-jangan ia pada suatu saat pernah dosa sehingga berada di luar daya rahmat ilahi”? (DH. 3908).

Dengan mengacu pada teks Kej. 3: 15 Paus Pius XII jugamenulis: “Seandainya pernah ada suatu saat tertentu Santa Perawan Maria berada di luar rahmat ilahi, karenaterkontaminasi dosa warisan pada saat ia dikandung, maka takbenar bahwa antara ia dan ular akan terjadi permusuhan abadisebagaimana dikatakan sejak dari tradisi paling antik sampaipada saat pernyataan meriah tentang keperawanannya.” [DH. 3909].

 

4. Dogma Maria Diangkat ke Surga dengan jiwadan raga (Maria Asumpta)

Pendasaran Biblis

Why. 11: 19; 12: 1-17. Teks Why. 12 menarik perhatianpara penafsir karena di sana dilukiskan figur seorangperempuan anonim. Para Bapa Gereja mengaitkan figur perempuan itu dengan Maria Bunda Gereja.

Lukisan Kitab Wahyu tentang perempuan dan naga yang hendak menyerangnya ditafsirkan sebagai kepenuhan nubuat Kej. 3: 15 perihal perempuan yang keturunannya akan meremukkan kepala ular. Naga yang mati dalam pertempuran dengan malaikat Mikhael dan dilemparkan ke bawah (Why 12: 9) menyimbolkan kekalahan Ibilis di akhir zaman karena kuasa ilahi.

Para ekseget Katolik pada umumnya berpandangan bahwateks Kej 3: 15 dan Why 12 bersifat profetik dan mesianik. 1 Kor. 15: 20-26. Bunda Maria, dan semua pengikut Kristus, mati dan bangkit untuk bersatu dengan Kristus.

Kesaksian Tradisional

“Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kis 1: 13-14).

Kesaksian abad ke II: Maria mengakhiri hidupnya di Yerusalem, di sebuah rumah, di mana terdapat ‘ruang atas’ tempat Perjamuan Akhir. Kematian Maria diperkirakan terjadisekitar satu tahun setelah kebangkitan Yesus (mungkin sekitartahun 34). Menjelang kematian Maria, Malaikat Gabriel datang, membawa kabar gembira bahwa Maria akan segeraberjumpa dengan Putranya. Setelah kematiannya ia dibawaoleh para rasulmenuju wilayah sekitar lemba Kedron. Setelahtiga hari, Yesus datang mengambil tubuh Maria, membawanyake surga, diiring para rasul dan malaikat surgawi.

Gereja Timur: Dogma Maria diangkat ke surga dikaitkandengan tidur panjang Maria (Dormitio Mariae) dalam sebuahistirahat atau mimpi menjelang diangkat ke surga. Tradisi Gereja Katolik Roma: Maria benar-benar mengalami kematian seperti dialami manusia, meksipun bukan kematian akibat hukuman atas dosa.

Kesaksian Abad VI-VII

Santo Gregorius dari Tours (538-594) dalam De gloria beatorum Martyrum [4] :

“Akhirnya, ketika Perawan Yang Terberkati akan menyelesaikan perjalanan hidupnya di bumi, menjelang saat ia dipanggil dari dunia ini, berkumpullah di rumahnya semua Rasul yang datang dari berbagai daerah yang berbeda. Ketika mereka mendengar bahwa dia akan meninggalkan dunia, mereka berjaga bersama dengannya. Ketika itu juga datanglah Tuhan Yesus disertai malaikat-malaikat-Nya, mengambil jiwanya lalu memberikannya kepada malaikat Agung Mikhael dan pergi. Pada waktu subuh para rasul membaringkan tubuhnya, lalu meletakkannya di di atas sebuah kubur dan menjaganya, sambil menanti kedatangan Tuhan. Maka Tuhan menampakkan diri-Nya sekali lagi kepada mereka, mengambil tubuh suci dan memerintahkan agar tubuhnya dibawa dengan iringan awan-awan menuju Firdaus, di mana jiwanya diangkat, mulia bersama para pilihan, masuk dalam hidup kekal yang tak akan berakhir”.

Kesaksikan Yohanes Damaskus (†749) dalam Encomium in Dormitionem Dei Genitricis Semperque Virginis Mariae [II, 14]:

“Niscaya bahwa dia yang ketika melahirkan tetap menjagakeperawanannya, juga menjaga tubuhnya dari ketercelaanapapun pada saat kematiannya. Niscaya bahwa dia yang telahmengandung dalam rahimnya Sang Penebus yang menjadibayi, tinggal dalam tabut suci. Niscaya bahwa pengantin Allah Bapa tinggal di langit surgawi.

Niscaya bahwa dia yang telah melihat Putranya di salib, ibarat menerima pedang yang menusuk, yang telah melahirkanDia namun tetap murni, sekarang memandang Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Niscaya bahwa Ibu Tuhan turutmengalami apa yang dialami Putra, dan hendaknya segenapciptaan memujinya sebagai Ibu dan Hamba Allah”.

Ajaran Dogmatis

Dalam pernyataan dogmatis Munificentissimus Deus, Paus mengatakan antara lain demikian:

“Oleh karena itu, […] demi kemuliaan Allah Yang Mahakuasa, yang mencurahkan kepada Maria perawankebajikan yang istimewa demi menghormati Putranya, Raja segala abad dan pemenang atas dosa dan maut, demi kemuliaanyang besar dari ibu-Nya yang luhur dan demi sukacita dan kegembiraan seluruh Gereja, dengan kuasa Tuhan kita YesusKristus, para Rasul kudus Petrus dan Paulus dan otoritas Kami, kita mengumumkan, menyatakan, dan menetapkan sebagaidogma yang diwahyukan Allah, bahwa Maria, Bunda Allah yang tak bernoda, yang selalu perawan, setelah menyelesaikanperjalanan hidupanya di dunia, terangkat ke dalam kemuliaansurgawi dengan tubuh dan jiwanya” (DH 3903).

CATATAN AKHIR

1. “Dalam Gereja Santa Perawan Maria disapa dengangelar pembela, pembantu, penolong, perantara. Akan tetapi, itudiartikan sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi, pun tidak menambah martabat serta daya guna Kristus satu-satunyaPengantara.” (LG. 62)

2. Kebaktian itu hendaknya membuat orang semakinmemuliakan Yesus Kristus, dan semakin setia melaksanakanperintah-Nya.

3. Devosi yang terlalu lahiriah cenderung menjadi cultus privatus, yang menjerumuskan orang padan pendewian Bunda Maria.

4. Devosi kepada Maria adalah soal naluri iman

umat, bukan penjelasan teologis-rasional.

5. Kecintaan kepada Maria tidak mengurangi imanakan Yesus Kristus sebagai Pengantara Tunggal kepada Allah Bapa.

6. Dasar dan tujuan iman ialah Tindakan Allah, bukantertuju kepada Maria sendiri.

7. Devosi yang sehat akan terungkap dan teruji dalamsikap hidup orang yang berdevosi: Semakin mendalam devosi, semakin jelas tindakan kasih dan solidaritas bagi sesama.

Dogma Mariologis merupakan bagian integral dari dogma Kristologi danTrinitas.  Per Mariamad Jesum, dansebaliknya juga Per Jesum ad Mariam.

Maria adalah Putri Allah Bapa, Bunda Allah Putra danMempelai AllahRohKudus. Devosi kepada Maria bermaknakarana ditempatkandalamseluruhsejarah keselamatanAllahbagiumat manusia.

Catatan Akhir

“Dengan segenap hati dan tak terhalang oleh dosa, iamerangkum kehendak penyelamatan Allah, dan sebagai hamba Tuhan ia menyerahkan diri seluruhnya kepada pribadi sertakarya Anaknya, dan dengan demikian ia mengabdi kepadamisteri penebusan di bawah Dia dan bersama dengan-Nya dalam rahmat Allah yang Mahakuasa” (Konsili Vatikan II, LG. 59).Bagaimanapun berbagai renungan tentang Maria akhirnyabagaikan suatu mosaic yang memperkaya iman kita dan memperkuat berbagai praktik devosional kita***

Komentar Anda?

Related posts