Rektor Undana: Visi Kabupaten Kupang Emas Harus Dibuktikan dengan Implementasi Nyata

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Upaya mewujudkan visi “Kabupaten Kupang Emas” tidak bisa hanya berhenti pada konsep di atas kertas. Hal ini mengemuka dalam diskusi publik yang digelar Pemerintah Kabupaten Kupang bertajuk “Menuju Kabupaten Kupang Emas: Dari Visi ke Implementasi Nyata” di Aula Elpida International Schools, Desa Mata Air, Selasa (17/3/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Prof. Dr. Ir. Jefri Samuel Bale, S.T., M.Eng., bersama akademisi Dr. Pius Rengka sebagai narasumber.

Dalam paparannya, Prof. Jefri Bale menegaskan pentingnya peran akademisi dalam mengawal arah pembangunan daerah agar visi dan misi pemerintah benar-benar terimplementasi dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Dari sisi akademis, kami memberikan masukan berbasis data agar implementasi visi dan misi tidak hanya menjadi dokumen, tetapi mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.

Prof. Jefri mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan analisis kritis terhadap dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kupang.

Dari hasil kajian tersebut, ditemukan sejumlah poin yang perlu diperbaiki agar target pembangunan dapat tercapai secara efektif.

Ia menekankan bahwa perencanaan pembangunan harus berbasis data yang akurat dan disertai strategi implementasi yang terukur.

Selain itu, Undana juga telah menjalin kerja sama resmi dengan Pemerintah Kabupaten Kupang melalui nota kesepahaman (MoU).

Dalam implementasinya, Undana turut terlibat dalam berbagai program strategis, seperti kajian, pendampingan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Fokus intervensi meliputi sektor pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan, serta pengembangan ekonomi kreatif.

Meski menunjukkan tren pertumbuhan, perekonomian Kabupaten Kupang dinilai belum sepenuhnya menghasilkan transformasi ekonomi maupun pemerataan pembangunan.

“Pertumbuhan ekonomi memang ada, tetapi belum otomatis diikuti transformasi dan pemerataan. Ini menjadi tantangan besar,” jelas Prof. Jefri.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak diiringi pemerataan akses terhadap layanan dasar justru berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.

Dalam aspek sumber daya manusia, persoalan stunting menjadi sorotan serius. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 dalam RPJMD, angka masalah gizi balita mencapai 39,5 persen, dengan prevalensi stunting sebesar 30,4 persen dan kategori sangat pendek 9,1 persen.

Menurut Prof. Jefri, stunting merupakan ancaman besar bagi masa depan daerah.

“Stunting bukan sekadar isu kesehatan, tetapi menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan. Ini harus ditangani secara lintas sektor,” tegasnya.

Selain itu, sektor pendidikan juga menghadapi tantangan, terutama di wilayah terpencil Kabupaten Kupang.

Berdasarkan data RPJMD, hanya sekitar 40 persen sekolah di daerah terpencil yang memiliki fasilitas lengkap seperti perpustakaan dan laboratorium.

Kondisi ini dinilai dapat menghambat peningkatan kualitas pendidikan serta memperlebar kesenjangan antarwilayah.

Menutup paparannya, Prof. Jefri Bale menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan Kabupaten Kupang Emas.

Dengan perencanaan yang tepat, implementasi yang konsisten, serta dukungan lintas sektor, visi besar tersebut diyakini dapat dicapai secara bertahap dan berkelanjutan.

Komentar Anda?

Related posts