Drs. Fransiskus, Sili, M.Pd (Pengawas Ahli Madya Kementrian Agama Kota Manado)
Belajar, berbuat, berkembang, learn, do and grow. Motto ini menekankan pentingnya belajar dari setiap pengalamanhidup, dengan tekun melakukan tindakan dan karya untukmencapai tujuan, dan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Karena tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil, tidak ada pengalaman yang sia-sia. Orang siap untuk belajardan berkembang dalam pekerjaan apa saja dengan keyakinanbahwa kerja keras hari ini, masa depan yang cerah menanti diesok hari.
Adakah orang muda yang menlajani hidup dengan insipirasi ini? Setidaknya ada anak muda yang memenuhi kriteria hidup di atas.
Namanya Rendy Sangga. Lahir di Tombatu, MinahasaTenggara, 15 Agustus 1995. Yang seluruh hidupnya sampai saat ini dihabiskan untuk belajar mencoba agar punya pengalaman. Dalam percakapan dengannya, Rendy mengakui bahwa ia berasal dari keluarga sederhana.
“Jujur, saya berasaldari keluarga sederhana, ayahku seorang buruh bangunan, dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Meski hidup sederhana, mereka punya cita-cita. Anaknya (saya, red) harus punya cita-cita untuk memperbaiki hidup. Dan tidak ada jalan untukmewujudkan cita-cita demi memperbaiki hidup selain melaluisekolah, belajar…”, ujarnya merendah.
Rangkaian pengalaman belajar di sekolah menjadi jalankecil untuk merintis jalan hidup yang lebih bermakna. Setelah tamat SD Silian, 2007, ia melanjutkan studi di SMP Negeri 4 Toluan dan tamat tahun 2010. Ketika merenung untuk memilik masuk SMA atau SMK, Rendy akhirnya memutuskan masuk SMK PPN Kalasey, dan tamat tahun 2013. Memilih masuk SMK lebih karena keinginan orangtuanya.
Rendy mengakui bahwa waktu sekolah di SD kelas 1-kelas 3 ada banyak hal menarik meski tak bisa diungkapkan.
“Ketika masuk SD kelas 4 saya bersekolah di kampung saya sampai SMP ada hal menarik yang bisa didapatkan di kampungnya, di antaranya membantu orangtua mengelola perkebunan pengolahan aren hingga captikus”, kisahnya.
Setelah masuk SMK ada hal menarik pula yang diperolehnya.
“Di kalangan siswa, kata-kata makian sepertinya menjadi makanan harian teman-temannya”, tuturnya merendah.
Menurutnya, pendidikan adalah proses transfer nilai karakter, bukan sekadar transfer ilmu dan hanya bisa terjadi jika ada hubungan emosional yang positif sebagai tanda hubungan itu lebih berharga daripada kesalahan yang terjadi untuk mengajarkan murid tentang rekonsiliasi dan kedewasaan, juga bentuk pengokohan eksistensi guru sebagai cermin bagi muridnya yang mengajarkan keteladanan sekaligus empati secara nyata di berbagai situasi yang terjadi. Ketegasan seorang guru tidak boleh hilang guna mendisiplinkan disertai dengan bahasa yang membangun sebuah harga diri agar peserta didik belajar di jalan menuju kedewasaan.
Perjalanan studi di bangku kuliah tidaklah ringan. Jalannya makin sulit. Meski demikian tekadnya adalaha menjadikan setiap kesulitan sebagai sarana merawat dan mengembangkan diri agar matang menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Itulah yang mendorongnya dalam belajar dan kuliahnya selesai tahun 2021. Cita-citanya adalah masuk Fakultas Teknik Arsitektur, namun karena ada tawaran beasiswa bagi sekolah, dia mendapatkan kesempatan itu.Waktu kuliah, lanjutnya, ada banyak kesan.
“Tetapi ada 1 dosen yg membuat saya terkesan oleh karena kebaikan dan bimbingan yang bisa membantu saya bisa menyelesaikan studi praktek saya. Saya tak bisa sebut namanya tapi selalusaya ingat beliau…”katanya mengingat.
Sebelum selesai kuliah, Rendy, demikian biasanya dipanggil, bahkan sudah punya pengalaman kerja. Di tahun 2019 akhir dan 2020 awal bekerja di PT Kenos, bergerak di bidang KUR dan Koperasi Raewaya yang bertempat di Bolmut, bergerak di bidang pertanian.
Peristiwa kehilangan ibunya mendatangkan pengalaman tersendiri. Tetapi ia yakin Tuhan punya rencana tersendiri.
“Menempatkan Tuhan dalam hidup saya tetap senantiasa selalu bersyukur bekerja dan berdoa, juga untuk keselamatan mama”, katanya.
Pada tahun 2022, menerima tawaran kerja dan ikut saudara belajar bekerja tentang kelistrikan dan teknisi AC. Akhir tahun lalu ketika mendengar informasi ada lowongan kerja di Kantor Kementrian Agama Kota Manado, Rendy menangkap peluang itu. Dan sejak Januari tahun ini bertugas sebagai cleanning service (CS).
Dengan ijazah sarjana di tangan rela menerima tugassebagai CS? “Motivasi hidup saya sederhana: setiappencapaian di awali dari keputusan untuk mencoba. Saya menerima dan menekuni tugas sebagai CS karena yakinbahwa setiap pekerjaan apa pun kalau dijalani dengan tekun, jujur dan semangat, akan ada hasil dan rezeki. Karena selalu mengandalkan Tuhan, yakinlah saya bahwa Tuhan akanmenyelesaikan apa yang menjadi rencanaNya bagi saya. Tugas saya adalah melakukan apapun yang boleh sayakerjakan. Selebihnya Tuhan yang tahu…”, ujarnya yakin. Tugas pokoknya memang CS tapi apa saja yang bisa dibantuuntuk melayani, Rendy siap sedia.
Setiap kali melakukan tugas atau pekerjaan layanan, lanjutnya, Rendy yang punya hobi mancing ini menemukannilai-nilai hidup. “Kalau tugas saya sekarang berkaitan dengantanggungjawab kebersihan. Kebersihan adalah cerminan daridiri seseorang, dan untuk saya tiap kali saya lakukan selaludisertai dengan tekad tulus dan kuat untuk menjadi lebih baiklagi”, tuturnya.
Akhirnya, masih menurutnya, segala jenis pekerjaan dan tugas kalau dilakukan dengan sepenuh hati diliputi rasa syukur, pasti mendatangkan hasil yang luar biasa. Meskidemikian yang luar biasa selalu dimulai dari yang biasa-biasasaja. ***







