Penulis: Daniel Timu
PORTALNTT.COM, ROTE NDAO — Potret pelayanan kesehatan di Kabupaten Rote Ndao kembali memantik pertanyaan serius tentang arah kebijakan anggaran daerah. Di tengah kondisi ambulans Puskesmas Sonimanu, Kecamatan Pantai Baru, yang disebut warga kerap rusak dan tidak mampu melayani penjemputan pasien bersalin, Pemerintah Daerah justru menganggarkan sekitar Rp514 juta untuk pengadaan mobil hibah bagi Kejaksaan Negeri Rote Ndao.
Situasi ini memunculkan ironi yang menyakitkan. Ketika warga di pelosok berjibaku menyelamatkan nyawa ibu hamil menggunakan mobil pickup seadanya, pemerintah justru dinilai lebih sigap menyediakan kendaraan baru untuk lembaga lain dibanding memastikan ambulans puskesmas tetap layak beroperasi.
Sejumlah warga mengaku kecewa karena kerusakan ambulans bukan persoalan baru di Puskesmas Sonimanu. Kondisi itu disebut berulang kali terjadi hingga keluarga pasien terpaksa mengambil langkah darurat dengan mengantar sendiri pasien bersalin menggunakan kendaraan pribadi bahkan mobil bak terbuka.
“Kalau ambulans rusak terus, masyarakat mau berharap ke siapa? Orang melahirkan itu bukan tunggu kendaraan diperbaiki dulu,” ungkap salah satu warga Pantai Baru dengan nada kesal.
Kekecewaan masyarakat makin membesar karena persoalan ini menyangkut pelayanan dasar yang seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Di wilayah dengan akses kesehatan terbatas, ambulans bukan sekadar kendaraan operasional, tetapi penentu keselamatan nyawa warga.
Anggota Komisi II DPRD Rote Ndao, Feky Machiel Boelan, SE saat dimintai tanggapannya pada, Senin (11/5/2025) kepada media ini menegaskan bahwa pelayanan Ambulans adalah hal yang sangat urgent dan harus di prioritaskan.
“Bagaimanapun pelayanan ambulance adalah sangat urgent dan prioritas, jadi harus segera diperbaiki,” tegas Feky Boelan, SE, Anggota Komisi II DPRD Rote Ndao.
Feky Boelan juga meminta agar Pemda Rote Ndao bisa optimalkan dan maksimalkan anggaran yang ada untuk memperbaiki mobil Ambulans yang rusak di Puskesmas Sonimanu, juga di Puskesmas lainnya di wilayah Rote Ndao.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Rote Ndao, Maria Isabela,S.KM, MPH saat dikonfirmasi media ini melalui pesan WhatsApp pada, Senin (11/5/2026) mengakui bahwa pihaknya telah mendapatkan laporan dari Puskesmas Sonimanu.
“Kita sudah dapat laporan dari Puskesmas dan ada alternatif solusi dan ini perlu konsultasi ke pimpinan dulu,” singkat Maria Isabela, Plt. Kadis Kesehatan Rote Ndao.
Informasi diperoleh media ini dari sumber terpercaya menyebutkan bahwa jika keadaan pasien darurat dan harus rujuk ke RSUD Ba’a, maka pihak Puskesmas Sonimanu kerap kali meminta bantuan mobil ambulans dari Puskesmas Korbafo untuk merujuk pasien. Mungkin inilah yang dimaksud dengan solusi alternatif dari pihak pemerintah. Kendati demikian, hal tersebut masih belum cukup menjawab persoalan yang ada, bagaimana jika disaat yang sama Puskesmas Sonimanu dan Puskesmas Korbafo punya pasien yang harus dirujuk ke RSUD Ba’a ?
Parahnya lagi, di wilayah kerjanya Puskesmas Sonimanu, yakni wilayah Pantai Baru selatan itu mayoritas infrastruktur jalan rusak parah. Hal tersebut juga bisa berdampak fatal bagi pasien yang hendak bersalin yang “terpaksa” naik mobil pickup ke fasilitas kesehatan.
Publik kini mulai mempertanyakan sensitivitas pemerintah dalam menentukan skala prioritas anggaran. Di satu sisi, fasilitas kesehatan di tingkat puskesmas masih terseok-seok akibat kendaraan operasional yang sering bermasalah. Namun di sisi lain, Pemda Rote Ndao malah anggarkan ratusan juta rupiah untuk mobil hibah ke Kejaksaan Negeri Rote Ndao yang sebenarnya sudah punya anggapan operasional sendiri dari Pemerintah Pusat. Hal ini dianggap membuka jurang ketimpangan antara kebutuhan riil masyarakat dengan kebijakan birokrasi di pemerintahan.
Persoalan ini juga menyoroti lemahnya perhatian pemerintah terhadap layanan kesehatan ibu dan anak di daerah terpencil. Keterlambatan penanganan pasien bersalin dapat berisiko fatal, apalagi jika kondisi darurat terjadi pada malam hari atau cuaca buruk.
Ironisnya, di tengah kampanye peningkatan pelayanan kesehatan dan keselamatan ibu melahirkan, fakta di lapangan justru menunjukkan warga masih dipaksa bertaruh nyawa di atas bak pickup karena ambulans puskesmas tak mampu beroperasi maksimal.
Satu hal yang pasti, bagi masyarakat kecil mobil ambulans bukanlah simbol proyek atau pencitraan. Tapi mobil Ambulans juga adalah harapan hidup.







