Home / Profil / Karakter Kepemimpinan Kristiani

Karakter Kepemimpinan Kristiani

545 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]
Opini
Fr. Yudel Neno (Mahasiswa Teologi Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang)
A. Karakter
KBBI mendefenisikan karakter sebagai berikut : tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak;
Karakter mengacu pada mental dan perilaku yang dibiasakan. Ada ungkapan mengatakan bahwa taburlah pemikiran maka anda akan menuai tindakan. Taburlah tindakan akan menuai kebiasaan. Taburlah kebiasaan anda akan menuai karakter. Taburlah karakter, anda akan menuai pribadi integral.
Pertanyaannya adalah mentalitas macam apa sehingga disebut berkarakter? Perilaku macam apa sehingga disebut berkarakter?
Dalam konteks sebagai mahasiswa, saya mengambil beberapa poin untuk menegaskan mentalitas yang berkarakter itu, terkait dengan akal budi yakni bersikap kritis, logis, sistematis dan radiks. Terkait dengan hati nurani, yaitu rendah hati, tekun, disiplin, komitmen, bertanggung jawab dan fokus.
Dengan demikian, dalam terang akal budi dan hati nurani, seorang mahasiswa atau mahasiswi ia harus bebas dari dan bebas untuk. Bebas dari segala tawaran hedonistik, konsumeristik dan individualistik. Dan ia pun bebas untuk melakukan hal dan tugas baik yang menjunjung tinggi martabat manusia dan kebaikan umum. Seorang yang berkarakter adalah ia yang bergerak dalam lingkaran prinsip umum moral yakni lakukanlah yang baik dan hindarilah yang jahat. Kalau demikian, maka layak kalau kita mengatakan manusia adalah makhluk pantas dikagumi dan layak dihormati.
B. Kepemimpinan
Pemimpin adalah orang yang mampu memberikan pengaruh kepada anggota dan sumber daya yang dipimpinnya secara efektif (berhasil guna; ada hasilnya) dan efisien (cara yang tepat untuk menghasilkan sesuatu tanpa buang-buang waktu) untuk mencapai tujuan.
Kepemimpinan berkaitan dengan cara dan situasi untuk memanfaatkan empat macam unsur yakni manusia, pendekatan, sarana dan tujuan.
Model-model kemimpinan :
Kepemimpinan otoriter (kuasa sebagai yang terutama), demokratis (manusia sebagai utama, dalam arti segala kebijakan untuk menunjang manusia), bebas (pemimpin pasif dan lebih banyak mencari-cari kompromi. ) dan situasional (situasi sebagai utama, komitmen lemah)
Kristiani
Sebutan kristiani mengacu pada para pengikut kristiani. Disebut pengikut kristiani karena mereka mengikuti Yesus Kristus sebagai tokoh telah, Sang Pemimpin Sejati, Sang Gembala Utama.
Kita telah melihat model kepemimpinan pada umumnya. Lantas bagaimana, model kepemimpinan Yesus? Kutipan teks Kitab Suci di bawah ini sekiranya membantu kita untuk memahami model kepemimpinan Yesus :
“Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu,hendaklah ia menjadi pelayanmu, danbarang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Markus 10:43-44).
Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu (Matius 23:10) Yang terbedar di antara kamu hendakalh ia menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan” (Lukas, 22:26)
Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Mat. 20:28, Mrk. 10:45), supaya dengan melayani dalam terang kasih, kamu semua memperoleh hidup dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10)
Dari kutipan-kutipan di atas ini, menjadi jelas bahwa memimpin ala Yesus berarti melayani. Memimpin berarti melayani. Karena itu, seorang pemimpin adalah seorang pelayan.
Model kepemimpinan Yesus :
Memimpin adalah melayani bukan dilayani
Hakekat melayani adalah sikap rendah hati. Hanyadengan sikap rendah hatilah yang dapat memungkinkan seorang pemimpin untuk turut berpartisipasi membersihkan sampah ketika rakyat sedang membersihkan sampah. Prinsip yang paling tepat dalam pelayanan ini adalah di depan memberikan teladan, di tengah sebagai saudara dan di belakang sebagai motivator atau pemberi motivasi.
Memimpin adalah tindakan bukan jabatan
Yesus adalah Raja. Kerajaan-Nya tidak berasal dari dunia ini. Mengapa demikian? Karena pada waktu itu dan bahkan hingga sekarang, kepemimpinan hanya berurusan dengan pemaksaan, penindasan, pemerasan dan pemerkosaan terhadap martabat manusia. Jabatan yang dipangku digunakan sebagai momok untuk menakut-nakuti, mempersulit dan bahkan memperhambat.
Memimpin adalah tindakan bukan jabatan. Seorang pemimpin yang fanatik dengan jabatannya, ia akan memangku tangan dan kakinya sambil memerintahkan dan menyaksikan orang-orang yang dipimpinnya menanam pohon pisang di pekarangan kantor.
Kasih adalah semangat dasar kepemimpinan
Memimpin berarti melayani. Rendah hati adalah pintu untuk melayani dan kasih adalah kunci yang menggerakkan rendah hati. Kalau kasih menjiwa sikap rendah hati maka sikap munafik akan dihindari. Sebab banyak di kalangan para pemimpin, kelihatannya rendah hati pada munafik.
Berkorban adalah dimensi integral dalam kepemimpinan. Jangan katakan anda pemimpin, kalau sehari anda tiga kali makan sementara rakyatmu ada yang tidak makan. Jangan katakan anda pemimpin kalau rumahmu menjulang tinggi sambil mengejek-ejek rumah pendudukmu yang terancam roboh.
Seorang pemimpin karena ia dipilih, maka ia mesti mempertaruhkan kekuatan dan potensinya demi rakyat yang dipimpinnya.
Semangat solidaritas dalam kepemimpinan
Solidaritas kata lainnya adalah setia kawan. Setia kawan ini digerakkan oleh keyakinan bahwa siapapun dia, dia berharga di mata Allah. Karena itu sebagaimana kita menghormati diri kita sendiri, sedemikian itu, kita pun patut menghargai sesama. Aku adalah aku-aku yang lain. Aku-engkau-dia menyatu dalam kita. Kita adalah identitas yang senantiasa peduli satu sama lain, saling belajar dan saling melengkapi.
Semangat subsidiaritas dalam kepemimpinan
Subsidiaritas kata lainnya adalah saling membantu atau memberikan sokongan. Artinya pemimpin yang baik adalah ia yang membantu orang-orang yang dipimpinnya atas cara mereka sendiri. Jika ia minta ikan, berikanlah ia pancing, lalu ajar dia untuk cara pancing yang baik dan benar. Pemimpin yang baik, ia tidak meninabobokan rakyatnya dengan terlalu member sambil melemahkan daya juang orang-orang yang dipimpinnya.
Kasih mengandaikan sikap kritis
Yesus sangat peka terhadap ketaatan motif munafik. KritikanNya sangat tajam untuk kaum farisi karena munafik. Disebut munafik karena mereka omong lain buat lain. Di belakang A, di depan B.
Kasih tanpa kritis adalah sebuah kelemahan. Kritis tanpa kasih adalah sebuah kekerasan konseptual dan bisa berujung pada bahaya.

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]