Kerajaan Allah: Proyek Allah Dalam Yesus

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh: Drs. Fransiskus Sili,MPd, (SMK Negeri 5 Manado)

Pendahuluan

Apakah Kerajaan Allah itu? Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga adalah pokok pewartaan Yesus (Mat. 4:17, Mrk. 1:15). Dan nilai-nilai Kerajaan Allah yang ditawarkan Yesus adalah nilai-nilai moral-sosial dasar yang melampaui batas Gereja, nilai yang merangkum semua manusia yang berkehendak baik.

Di zaman kita ini, kita menyaksikan gejala persatuan serta persaudaraan ke arah yang semakin meluas di antara bangsa manusia. Namun pada saat yang sama kita menyaksikan gejala-gejala hidup dalam masyarakat manusia yang sama, dan kita tak tutup mata terhadap dan menjadi sedih karenanya, karena adanya pelbagai kenyataan arus lawan, peperangan  dan pertentangan etnis,, suku, agama dan budaya.

Manusia hidup dalam budaya kematian. Masihkah nilai-nilai Kerajaan Allah yang sifatnya universal itu dapat menjadi sumber  inspirasi baru bagi kita umat Kristen dan juga bagi kalangan masyarakat manusia siapapun dia untuk mengusahakan damai, cinta kasih dan berbagai gerakan ke arah persatuan itu?
 
I. ARTI DASAR KERAJAAN ALLAH
Istilah “Kerajaan Allah” bukanlah ungkapan yang asing bagi para pengikut Yesus pada waktu itu, sebab istilah tersebut sudah ada pada zaman Perjanjian Lama (J. Banawiratma, Kerajaan Allah, dalam Frans Hardjawiyata, Yesus dan Situasi Zamannya, Kanisius, Yogyakarta, 2003, hal. 107)

Ia tidak berarti suatu wilayah dimana Allah menjadi Raja. Dalam ungkapan Kerajaan Allah terkandung suatu kepercayaan dalam pengharapan tertentu. Dalam bentuknya yang murni, ungkapan Kerajaaan Allah merangkum kepercayaan bahwa Tuhanlah yang menguasai hati manusia dan dunia ini. Allah meraja di hati manusia dan di dunia. Menurut Tom Jacobs, arti kata Kerajaan Allah  adalah Allah meraja atau Allah menyatakan diri sebagai raja. Maka kalau Yesus bersabda Kerajaan Allah sudah dekat,  maka yang dimaksud Allah sudah dekat untuk menyatakan pertolonganNya (Tom Jacobs, Imanuel, Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus, Kanisius,Yogyakarta, 2000, hal. 58).

Dari ungkapan kerajaan Allah diharapkan bahwa pada suatu ketika Tuhan hadir untuk mengusir ketidakadilan yang menjauhkan manusia dari perdamaian, dan kejahatan yang menggerogoti keutuhan ciptaan dan kehidupan manusia. Demikianlah bagi para nabi, paham Kerajaan Allah lebih mengungkapkan harapan dan kepercayaan akan daya kekuatan Allah yang menyelamatkan (Banawiratma, hal. 107).

Gambaran Kerajaan Allah seperti di atas dihubungkan dengan keyakinan dan pengharapan akan datangnya Mesias. Ketika bangsa Israel berada dalam berbagai penderitaan karena tidak setia pada imannya pada Allah, nabi Yesaya tampil untuk membangkitkan kembali harapan dan kepercayaan mereka kepada Allah. Nabi Yesaya mewartakan akan datanglah seorang Mesias untuk membebaskan dan menyelamatkan bangsa Israel. Mesias yang diharapkan itu sering dibayangkan seperti Raja Daud. “Seorang perempuan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah ia dinamai Imanuel, yang berarti Allah beserta kita” (Yes. 7:14).
 
II. KERAJAAN ALLAH: PROYEK ALLAH DALAM YESUS
 
Hidup dan Karya Publik Yesus
 
Menurut E. Martasudjita, (Mencintai Yesus Kristus, Kanisius, Yogyakarta, 2001, hal  73-77), sebelum tampil ke hadapan umum untuk mulai melaksanakan tugas perutusanNya, Yohanes Pembaptis diutus untuk mempersiapkan  jalan bagi kedatanganNya. Pada umur 30 tahun, Yohanes Pembaptis muncul sebagai nabi terakhir dari Perjanjian Lama.

Dia sudah mempersiapkan diri bagi tugas kenabiannya dengan berdoa dan bertapa di padang gurun (bdk. Luk. 3:2). (A. Bakker, Ajaran Iman Katolik 1, Kanisius, Yogyakarta,1988,  hal. 96) Semua Injil Synoptik termasuk Injil Yohanes mulai sejarah pewartaan Yesus dengan kisah mengenai permandian oleh Yohanes Pembaptis. Ia jelas tampil sebagai permulaan sejarah keselamatan Yesus. Hal ini amat kentara dalam Injil Markus yang dalam Mrk. 1:1 menggambarkan aktivitas Yohanes sebagai persiapan untuk kedatangan dan karya Yesus(Tom Jacobs, Siapakah Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru,hal. 199).

Dalam menyampaikan pewartaannya, Yohanes juga memaklumkan ancaman: “Hai kamu keturunan ular beludak, siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang. Jadi hasilkanlah buah sesuai dengan pertobatan”. Seruan ini akan muncul kembali dalam pewartaan Yesus: Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa…” (Luk. 13,3,5).

Dari pewartaan Yohanes, orang berbondong-bondong datang untuk memberi diri dibaptis. Yesus  juga merelakan diriNya untuk menerima baptisan itu sebagai ungkapan kerelaanNya untuk memulai karya penyelamatan di depan umum sampai menjadi abdi dan Anak Domba. Meskipun demikian tugas itu bukan dilaksanakan tanpa tantangan. Sebelum menjalankan tugasNya, Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun di Yudea, di sana Ia merenungkan dalam doa dan puasaNya sebagai Mesias dan Iblis hendak menyelewengkan Dia dari tugas mesiasNya itu.

Hubungan itu tampak ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mrk. 1:9-11 dan par), dan saat Yesus mulai memberitakan Injil, yakni: “Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea untuk memberitakan Injil Allah” (Mrk. 1:14).  Isi iman akan keterlibatan Yohanes ini sesuai dengan  nubuat nabi: “Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagiMu; ada suara yang berseru-seru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagiNya “ (Mrk. 1:2-3, bdk. Mal. 3:1, Yes. 40:3). Meskipun demikian, Yohanes tak pernah melihat dirinya sebagai tokoh penting, ia tetaplah pribadi yang lemah lembut dan rendah hati, bahkan “untuk membuka tali kasutNya pun aku tak layak (Mrk. 1:7). Kerendahan hati Yohanes ini tampak juga dalam kesaksiannya:  “Ia harus menjadi besar, tetapi aku harus menjadi kecil” (Yoh. 3:30).

Surutnya Yohanes yang ditangkap menandai saat mulainya Yesus tampil dan berkarya. “Sesudah Yohanes ditangkap, datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah” (Mrk. 1:14). Kini warta seluruh Injil terfokus pada tokoh Yesus. Tempat karya Yesus yang pertama adalah Galilea.
 
III. YESUS MENGAJAR TENTANG KERAJAAN ALLAH.

Ketika mulai mengajar di hadapan orang-orang, Yesus langsung mengetengahkan ajaranNya: Khabar Gembira Kedatangan Kerajaan Allah (Komkat KWI., Datanglah KerajaanMu, Perutusan Murid-murid Yesus jilid 2, 2000, hal. 80). Markus mencatat dengan ringkas: “Sesudah Yohanes ditangkap Yesus ke Galilea memberitakan injil Allah, katanya: ”Waktunya telah genap; kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk.1:14-15). Maka menurut Injil Markus, obyek iman adalah pewartaan mengenai Kerajaan: Percayalah kepada Injil, yaitu Injil mengenai Injil Kerajaan Allah yang dekat. Seluruh pewartaan Yesus oleh Injil Markus ini disimpulkan dan disingkatkan dalam Injil mengenai Kerajaan Allah.

Mengapa Yesus memberitakan hal tersebut? Manusia selalu mengharapkan terjadinya perdamaian, kerukunan. Keleluasaan batin, keadilan, keutuhan kehidupan, dan cinta kasih. Umat Israel pada waktu itu mengharapkan kedatangan Mesias yang dapat meringankan beban kehidupan lahir dan batin. Sang adil yang merangkul semuanya tanpa pilih kasih, kendati lebih dekat dan lebih memperhatikan mereka yang lemah, miskin dan terlantar.

Yesus mengajarkan bahwa titik pusat pewartaan-Nya mengenai kedatangan Kerajaan Allah adalah terpenuhinya harapan manusia yang sejati. Allah sungguh mendatangi manusia, untuk dapat meraja di hati manusia. Bagi Yesus Kerajaan Allah bukanlah kemegahan di dalam dunia (seperti dalam segi politik, masyarakat, hidup sosial, kebudayaan).

Ia mengajarkan, bahwa kerajaan Allah memuat suatu janji, yang tidak dapat dipenuhi oleh teknologi, ekonomi atau ilmu pengetahuan. Kepenuhan hidup manusia yang sejati bisa terjadi hanya bila manusia bersatu dengan Allah, dasar dan tujuan hidup manusia. Harapan dan janji seperti itu tidak dapat dipenuhi oleh manusia sendiri. Kita sebagai manusia tidak dapat membangun Kerajaan Allah, apalagi dengan paksaan; juga tidak dengan usaha sosial, moral, ilmu pengetahuan, kebudayaan atau politik. Hati manusia tidak akan selamat hanya dengan usaha manusia belaka.

Dari sebab itu Yesus mengajarkan untuk berharap, ikut mengusahakan, memohon dan berdoa:”Datanglah KerajaanMu” (Mat 6:10).
Kepenuhan Kerajaan Allah yang definitif adalah “Allah menjadi semua di dalam semua” (bdk 1Kor 15:28). Kerajaan Allah ada di ambang pintu dan mendesak. Dan ciri khas pewartaan Yesus adalah sifat kemendesakan ini, Yesus menekankan bahwa Kerajaan Allah mendekati (Mrk. 1:15, 13:29, Mat. 10:27, Luk. 10:9). KedatanganNya tidak dapat ditunda-tunda lagi, inilah tuntutan mendasar bagi setiap manusia.

Dalam pewartaan Kerajaan Allah, Terdapat beberapa ajaran pokok Yesus yang sangat menonjol antara lain.
1). BapaNya dan Bapa Kita. Yesus mengajarkan pula, bahwa Allah yang dituturkanNya adalah BapaNya dan Bapa kita semua. Juga di sini Yesus berdiri di dalam arus Perjanjian Lama, tetapi Yesus menuturkannya dengan cara yang tidak lazim dipakai pada waktu itu, sebab Yesus menyebut Allah dengan “Abba”, sebutan yang sangat mesra. Dalam Injil, Yesus amat sering menyapa Allah sebagai Bapa.

Dalam Injil Yohanes, malah Bapa telah menjadi judul dan sapaan bagi Allah. Untuk orangYahudi, Abba adalah sapaan yang mengungkapkan  hubungan yang sangat pribadi, akrab dan mesra. Yesus menuturkan Allah yang adalah kebaikan, rahmat pengampunan. Di dalam nama Allah, Yesus memberikan pengampunan dosa-dosa kepada para pendosa. Lihat: “Hai anakku, dosa sudah diampuni”. Kata Yesus kepada orang yang lumpuh yang disembuhkanNya: ”Dosamu sudah diampuni”. Warta Perjanjian Baru dicakup oleh Yesus dengan kalimat “Allah adalah Kasih” (Yoh 4:8). Yesus menyapa Allah yang demikian karena hubungan percaya penuh seperti yang ditunjukkan seorang anak kepada bapanya yang dipercayainya, hubungan penuh kesederhanaan, keakbraban dan kepastian. (Guido Tisera, Yesus da Situasi Zamannya, hal, 26).

Dengan kata lain, Allah sebagai Bapa yang diperkenalkan oleh Yesus seperti ditemukan dalam Alkitab adalah Allah yang penuh kasih, mengasihani kita dan dikasihi, Allah yang penuh kasih menyatakan kasihNya secara nyata melalui (artinya di dalam) Yesus Kristus.( C. Groenen dan Stefan Leks, Percakapan tentang Alkiab, LBI-Kanisius, Yogyakarta, 1986, hal. 54)
 
2). Keselamatan bagi manusia. Yesus mengajarkan juga bahwa kabar kedatangan kerajaan Allah merupakan kabar keselamatan bagi manusia. Di dalam karya pengajaranNya yang pertama dilaksanakan di dusunNya Nasaret, Yesus menyatakan hal tersebut dengan mengkaitkannya dengan harapan yang hidup di dalam Perjanjian Lama. (bdk. Luk 4:18-19).

Dengan kedatangan Kerajaan Allah (Allah yang merajai hati  manusia) kekuatan-kekuatan yang memusuhi Allah harus tamat. Kekuatan-kekuatan yang memperbudak manusia harus berhenti. Kerajaan perdamaian, kerukunan, keleluasaan batin, keadilan keutuhan kehidupan, dan cinta kasih perlu ditegakkan secara definitif.

Melengkapi Yohanes pembaptis, Yesus mengajarkan bahwa kedatangan Allah yang meraja di hati manusia bukanlah yang pertama dengan tanda pengadilan, melainkan dengan tanda pengampunan, kegembiraan dan rahmat. Maka Yesus menyamakan Kerajaan Allah, misalnya dengan suatu pesta pernikahan (Mat 22:1-4), suatu tuaian (Mrk 4:26-29;Mat 9:37-38), seorang penabur (Mat 13:1-23), lalang di antara gandum (Mat 13:24-30), biji sesawi dan ragi ( Mat 13:31-35), harta terpendam dan mutiara berharga (Mat 13:44-46), pukat yang dilabuhkan di laut (Mat 13:47-52), dan masih banyak lagi perumpamaan Yesus.

3). Jawaban manusia. Kerajaan Allah mempunyai dua segi sekaligus, yakni segi rahmat dan segi usaha. Dipandang dari sudut rahmat Allah, maka kerajan itu harus dikatakan suatu penganugerahan belaka, ibarat penemuan harta (Mat 13:44) atau mutiara indah (Mat 13:45-46) ataupun ibarat pemberian talenta (Mat 25:14-30). Tetapi dipandang dari sudut yang lain yakni usaha insani, maka kerajaan Allah itu dipercayakan kepada kita untuk kita kerjakan. Kita harus berbuat sesuatu dengan talenta. Dengan kata lain praktek hidup kita harus bersesuaian dengan pemerintahan Allah itu. Kita dituntut berbalik secara radikal (metanoia). Segala sesuatu harus dijual demi harta itu. Sikap acuh tak acuh terhadap anugerah yang dipercayakan kepada kita sama sekali tidak dapat dibenarkan, sebagaimana nampak dengan jelas dari hukuman terhadap hamba ketiga dalam perumpamaan mengenai talenta. Singkatnya, Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus memang suatu tawaran, tetapi suatu tawaran yang menuntut jawaban kita. 
 
IV. Yesus mewartakan Kerajaan Allah
Ada dua cara utama yang dipilih Yesus untuk menghadirkan dan mewartakan Kerajaan Allah.

1. Yesus mewartakan Kerajaan Allah dengan menggunakan Perumpamaan.
Hidup, karya dan ajaran Yesus memaklumkan dan menampakkan Kerajaan Allah. Perumpamaan adalah suatu cara yang istimewa yang digunakan Yesus untuk melukiskan seluruh kekayaan misteri Kerajaan Allah (bdk. Mrk. 4:11). Perumpamaan menyingkapkan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Dalam memberitakan Injil tentang kerajaan Allah, Yesus sering mempergunakan perumpamaan-perumpamaan, yaitu cerita-cerita yang bersifat menjelaskan. Pada waktu itu para ahli taurat juga membuat cerita yang demikian. Tetapi ada perbedaan dalam cara pemakaiannya. Para ahli taurat memakai perumpamaan untuk menjelaskan suatu teks Kitab Suci, tetapi Yesus tidak.  Pada Yesus, perumpamaan sendiri mengandung amanat ajaran.

Hidup, karya dan ajaran Yesus memaklumkan dan menampakkan Kerajaan Allah. Perumpamaan adalah salah satu cara istimewa yang digunakan Yesus untuk melukiskan misteri Kerajaan Allah (Mrk. 4:11).

Perumpamaan Yesus selalu mempunyai konteksnya. Cerita-cerita itu mengisahkan peristiwa-peristiwa dari hidup harian yang dapat dipahami dengan gampang. Karena perumpamaan adalah cara bicara sehari-hari dan menjadi cerita dari kehidupan. Mengapa Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk mewartakan Kerajaan Allah? Yesus tahu betul bahwa bahwa orang tidak dapat dipaksa mengikuti pendapat atau wawasan orang lain. Allah sendiri memberi kemampuan pada manusia untuk memilih. Dengan kata lain, perumpamaan  adalah cara berbicara sehari-hari.

Memilih memang tindakan yang tidak mudah sebab tidak terhitung segi-segi kehidupan yang dapat dipilih. Demikian juga arah hidup manusia perlu dipilih. Bahwa orang sering ikut-ikutan dapatlah terjadi, namun pada suatu kali orang perlu sendiri mempertanggung-jawabkan pilihannya. Maka Yesus mewariskan perumpamaan-perumpamaan untuk mengundang orang berpikir dan mawas diri. Perumpamaan tidak memaksa, tetapi menawarkan!

Perumpaman Yesus selalu memiliki sesuatu yang khas. 1) Perumpamaan merupakan suatu gambaran yang diambil dari alam atau hidup sehari-hari. 2) Perumpamaan membuat para pendengarnya terpikat, karena menarik. 3) Perumpamaan merupakan suatu bentuk penuturan untuk mengajarkan sesuatu yang ada hubunganya dengan teka-teki. Teka-teki lebih-lebih untuk membuat orang senang sedangkan perumpamaan untuk mengajar orang. 4) Perumpamaan mempunyai kesimpulan tetapi tetap terbuka. Jawaban atau maksudnya untuk menemukan maksud berikutnya. 5) Perumpamaan  akan menuntut orang untuk berpikir bahwa ada sesuatu yang perlu diketemukan, dan sesuatu ini perlu berkembang terus di dalam hati kita. 6) Yesus mempergunakan perumpamaan-perumpamaan dengan sengaja untuk membuat kita berpikir.

Melalui perumpamaan Yesus berharap para muridNya ditantang untuk berpikir mengenai arti hidup yang hanya sekali ini. Para murid dihadapkan pada pilihan: menerima Allah meraja di hati atau menolaknya. Yesus mengungkapkan bagaimana Allah sungguh terlibat dalam kehidupan manusia. Allah pula memberi kesempatan pada manusia untuk memilih bila Allah meraja di hati kita, Kerajaan Allah terlaksana, manusia mendapat keselamatan. Memang benar bahwa Yesus ingin mengungkapkan kenyataan hidup yang tersembunyi bagi indra manusiawi: Allah yang mengasihi manusia. Demikianlah Yesus mengajar. (bdk. Mat 13: 44-46)

Dengan kata lain, menurut Tisera, Yesus menggunakan perbandingan dalam banyak perumpamaan tentang berbagai hal dalam realitas hidup, tetapi maksudnya lebih dalam, yakni sikap hati manusia  atas Firman Tuhan sendiri. Realitas harian hanya dipakai untuk menjelaskan realitas lain berkenaan dengan Kerajaan Allah.

Di balik perumpamaan yang dipakai Yesus untuk menyampaikan ajaranNya tentang Kerajaan Allah, terkandung selalu tuntutan. Di atas sudah dikatakan bahwa pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah bersifat tawaran. Orang boleh menerima dan boleh menolak. Tetapi bagi yang menerima, ia harus menerimanya dengan sebulat hati. Tidak bisa dengan setengah-setengah hati. Ada tuntutan yang radikal, perumpamaan-perumpamaan Yesus menuntut pembaharuan hidup.

Perumpamaan menuntut suatu cara hidup yang alternatif. Mendengar perumpamaan, para hadirin harus sendiri menarik kesimpulan. Pada umumnya Yesus tidak menjelaskan perumpamaan, kecuali dalam perumpamaan tentang penabur (Mat. 13:1-23).

Meskipun banyak perumpamaan pada dirinya sendiri merupakan cerita profan, artinya cerita yang tidak menyebut Allah atau Yesus, namun jelaslah bahwa bermaksud keagamaan. Maksud religius itu menjadi jelas dalam konteks tingkah laku Yesus sebagai keseluruhan. Justeru sehubungan dengan maksud religius itu perumpamaan Yesus menantang cara hidup yang sampai sekarang kita praktekkan. Tantangan itu terjadi dengan menunjukkan cara hidup yang alternatif, membuka kemungkinan-kemungkinan baru, dan mengajak para pendengar untuk menentukan sikapnya baik terhadap amanat yang terkandung dalam perumpamaan maupun terhadap Dia yang menceritakan perumpamaan itu: pro/kontra Yesus.

Jadi pada akhirnya perumpaman menuntut agar kita menjawab pertanyaan mendasar ini: siapakah Dia yang menceritakan perumpamaan ini? “Apa katamu: Siapakah Aku ini?” (Mat 16:16).
Dalam konteks seluruh hidup Yesus, pertanyaannya menjadi: “Percayakah engkau kepadaKu dan maukah engkau menjadi pengikutKu?” Pertanyaan ini harus kita jawab sendiri. Kita masing-masing harus menjawab. Tidak bisa dijawab oleh orang lain sebagai ganti kita.

2. Yesus Mewartakan Kerajaan Allah dengan Tindakan/Perbuatan.
Pertama-tama, hendak ditegaskan bahwa tindakan-tindakan Yesus Merupakan Perwujudan Kerajaan Allah. Sebagai warga masyarakat Galilea, Yesus juga memilih cita-cita tentang kehidupan yang sejahtera dalam masyarakatnya. Dalam masyarakat yang sejahtera itu kiranya terjadi kedamaian, ketentraman, kemakmuran. Orang hidup sebagai saudara bagi yang lain, terhapusnya struktur ketidakadilan; adanya kesamaan martabat yang dijunjung tinggi. Orang merindukan masyarakat yang sungguh sejahtera.

Masyarakat Galilea, seperti halnya kita sekarang, memang memilki pengharapan akan perwujudan kerajaan Allah, dimana terjadi kedamaian, kerukunan, keleluasaan batin, keadilan, keutuhan, kehidupan dan cinta kasih antara manusia.

Dalam pengharapan masyarakat Galilea perubahan akan terjadi melalui kehadiran Mesias. Mesias akan membuat segala sesuatu baru. Dan masyarakat Galilea memang sedang dikejutkan dengan terbertiknya berita tentang Yesus. Sebab Yesus ini mengatakan tentang keadaan-keadaan yang baru.Yesus ini juga mengadakan tindakan-tindakan yang mengejutkan orang. Ia menyembuhkan orang sakit: seperti hamba seorang perwira di Kapernaum (Luk 7:1-10), Ibu mertua Petrus (Luk 4:38-41), Orang lumpuh (Luk 5:17-26), wanita yang sakit pendarahan (Luk 8:40-56), orang buta, orang bisu, dsb. Ia juga mengampuni dosa, mengajar dengan penuh kuasa, membangkitkan orang mati mengajar berdoa, menuturkan tentang Sabda Bahagia, mengajar orang untuk mengikutiNya, mengajak orang untuk bertobat, mengajar orang untuk saling mengampuni, mencintai musuh, dsb.

Kedua, tindakan-tindakan dan perbuatan Yesus yang menyolok adalah mujizat. Yang pada umumnya disebut mujizat oleh Alkitab ialah suatu keadaan atau peristiwa yang di dalamnya orang-orang melihat Allah berkarya. Ia memperlihatkan kuasa Allah yang menyelamatkan. Dengan demikian mujizat menjadi bagian integral dari Injil. Tanpa mujizat,Injil bukan Injil lagi (Tom Jacobs, Imanuel, hal. 61).

Ciri-ciri suatu mujizat ialah: kejadian luar biasa, yang dapat ditangkap pancaindra, datang dari Allah, selalu dalam konteks religius dan merupakan tanda transendensi Allah. Melalui suatu mujizat Allah yang transenden, tak terjangkau oleh panca indra, menyatakan diri. Dalam mujizat itu Allah melawati manusia.
Mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus dapat dikategorikan dalam tiga jenis mujizat, yaitu: mujizat alam, penyembuhan dan pengusiran setan.

Dengan mengerjakan mujizat, Yesus memperlihatkan dengan perbuatanNya, apa yang dalam pewartaanNya dengan perkataanNya bahwa kerajaan iblis berakhir dengan dimulainya Kerajaan Allah.

Pada zaman Yesus, orang menghayati dunia kita sebagai medan pertempuran antara Allah dan si jahat, antara kuasa-kuasa terang dan kuasa-kuasa kegelapan. Penderitaan dan kejahatan dialami sebagai tanda bahwa dunia ini dikuasai kejahatan. Personifikasi kejahatan adalah setan atau iblis. Roh-roh jahat menyebabkan manusia menderita, roh yang ‘najis’ itu berbuat jahat. Sebaliknya Yesus yang  diurapi Allah dengan Roh Kudus. Ia berbuat baik, Ia membebaskan si penderita dari penderitaannya, Ia menyembuhkan orang, baik secara jasmani maupun secara rohani. Masuk akal bahwa kehadirannya saja sudah cukup bagi roh-roh itu untuk menganggapnya sebagai suatu  ‘agresi’, suatu serangan terhadap kerajaan kegelapan.

Dengan mengerjakan mujizat, dengan  menjadikan segalanya baik (Mrk. 7:37), Yesus menjelmakan pemerintahan Allah dan menghentikan pemerintahan setan. Bilamana Yesus muncul, si jahat menarik diri (bdk. Mrk. 9:14-29). Baik bila orang sakit diantar kepadaNya maupun bila orang  kerasukan, Yesus merasakan sesuatu dari kuasa si lawan: entah dalam tulang punggung yang cacat (Luk. 13:16), entah dalam jeritan kesepian ‘di pekuburan atau di bukit-bukit’ (Luk. 5:5).

Tetapi bila menemui orang yang kerasukan, Yesus lebih langsung berhadapan dengan kuasa dari si jahat itu, bukan tubuh yang di sini menderita. Kuasa Yesus untuk menyelamatkan manusia dari kesusahannya ini adalah suatu tanda pemerintahan Allah yang paling nyata.

Pengusiran setan oleh para murid demi Yesus itu pun menunjukkan bahwa kerajaan iblis makin lama merosot. Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit, kata Yesus ketika mendengar laporan dari murid-muridNya (Luk.10:18). Dengan demikian pengusiran setan memperlihatkan cara yang istimewa bahwa kuasa iblis sedang dipatahkan dan pemerintahan Allah mulai menyingsing.
Ketiga, mujizat menerangkan perutusan Yesus dan mengungkapkan Kuasa IlahiNya.

Dalam Injil, peristiwa yang disebut mujisat, seperti penyembuhan orang sakit, keajaiban alam, pengusiran setan serta pembangkitan orang mati memang sangat jelas menunjukkan kuasa Allah yang berkarya melalui diri Yesus. Allah dalam tindakan Yesus (menyembuhkan, meredahkan angin ribut, mengusir setan dan membangkitkan orang mati, dst.) memperlihatkan KuasaNya. Dengan demikian Mujizat adalah tanda ari kehadiran Kerajaan Allah, karena Yesus tidak membuat mujizat untuk membuktikan atau mendasari perutusanNya. Mujizat adalah tanda kerajaan Allah. Karena mujizat adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah, maka mujizat tidak pernah menunjuk pada Yesus melainkan kepada Allah yang mengutusNya. Kuasa Yesus yang dinyatakan dalam mujizat adalah tanda bahwa kerajaan Allah sudah hadir. Mujizat adalah pewartaan nyata kerajaan Allah. (Tom Jacobs, Imanuel).

Dalam Injil, mujisat dapat dibedakan menjadi 4 kelompok mujisat. Pertama, mujisat-mujisat alam, misalnya Yesus meredahkan angin ribut (Mat. 8:23-27, Mrk. 4:35-41. Luk.8:22-25), hendak ditegaskan bahwa Allah berkuasa atas alam yang telah diciptakan dan dipeliharaNya dengan penuh kelimpahan.


 
Kedua, mujisat penyembuhan penyakit. Mujisat jenis ini tercatat paling banyak dalam injil. Dalam peristiwa penyembuhan mau ditegaskan kehadiran diri Allah sebagai Allah yang berbelas kasih kepada manusia. Allah yang berkuasa memperlihatkan kasihNya yang menyelamatkan.  Penyembuhan orang sakit dengan mujisat Yesus memang tidak dimaksudkan hanya  berciri jasmaniah. Penyembuhan jasmani itu tanda sebuah penyembuhan yang lebih mendalam: penyembuhan dari luka dosa.

Penyembuhan, mengurangi penderitaan manusia, membuat dunia lebih baik adalah tanda kehadiran Kerajaan Allah. Di mana orang hidup rukun, dimana ada persatuan tanpa membeda-bedakan dan mengkotak-kotakkan agama dan golongan, dimana ada sikap saling menghormati, dimana para bangsa saling solider dengan mereka yang tertindas dan menderita, di situlah Kerajaan Allah telah hadir dan menguasai manusia dan dunia.

Ketiga, mujisat-mujisat pengusiran setan. Dalam peristiwa pengusiran iblis, orang berada dalam kuasa kegelapan memperoleh terang kembali menjadi manusia yang seutuhnya. Allah mengalahkan si jahat dan mencari dan menyelamatkan manusia yang dikuasai si jahat. Yesus yang mengusir setan dengan kuasa Allah adalah tanda bahwa Kerajaan Allah sudah datang (Luk. 11:20; Mat.12:28).

Peristiwa-peristiwa Yesus berhadapan dengan roh jahat (Mrk. 1:16-3:21) mengungkapkan pertentangan antara Yesus dan kuasa jahat, antara Anak Allah dan kuasa iblis. Seluruh misi Yesus bermaksud menaklukkan seluruh kuasa kejahatan yang dipersonifikasikan dengan setan. Yesus datang untuk menguasai kuasa setan dan kejahatan yang ditimbulkannya. Akan tetapi kuasa jahat jangan ditafsir seakan-akan hanya berkaitan dengan setan, tetapi merupakan suatu realitas dunia yang berdosa yang belum sepenuhnya  ditebus. Singkatnya, seluruh hidup Yesus di depan umum dilihat sebagai perjuangan melawan kejahatan yang dipersonifikasikan dengan setan.

Keempat, mujisat pembangkitan orang mati. Dalam peristiwa Yesus yang membangkitkan orang mati mau menyatakan kuasa Allah atas kematian dan maut. Kebangkitan memberi makna bahwa Allah adalah sumber hidup manusia. Dalam diri Yesus kuasa Allah yang menghidupkan menampakkan diri. Demikianlah menjadi jelas bagi kita bahwa mujizat-mujisat Yesus memang menjadi tanda kehadiran Allah. Perjanjian Baru hanya menceritakan tiga mujizat dimana Yesus membangkitkan orang mati, yakni anak muda dari Naim (lih. Luk. 11:7-17), putri anak Yairus (Mrk. 5:21-24, 35-43), dan Lazarus (Yoh. 11:1-44).

Peristiwa mujizat Yesus memang tidak berhenti mau menyatakan kehadiran Allah, melainkan juga mau menyatakan perutusan Yesus. Mujizat-mujizat Yesus sekaligus memaklumkan siapa Yesus dan perutusanNya. Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Dialah Khabar Gembira yang dinantikan. Dalam DiriNya itulah Kerajaan Allah sedang terjadi. Yesus sendiri dan seluruh tindakanNya menjadi tanda kehadiran Khabar Gembira yang diwartakanNya, yaitu Kerajaan Allah. “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk. 11:20).

Di samping itu ada beberapa mujisat yang memperlihatkan makna yang khusus, yaitu mujisat dalam perkawinan di Kana (Yoh. 2: 1-11), dan dua mujisat pergandaan roti yaitu, Yesus memberi makan 5000 orang (6:30-44, Mat, 14:31-21, Luk. 9:10-17, Yoh. 6:1-13) dan Yesus memberi makan 4000 orang (Mat. 15:32-29, Mrk. 8:1-10), hendak dijelaskan makna ekaristi.

Singkatnya, dengan mengerjakan mujizat, Yesus memperlihatkan dengan perbuatan, apa yang dalam pewartaanNya diperdengarkanNya dengan perkataan, bahwa kerajaan iblis berakhir dan Kerajaan Allah mulai. Dalam tanda-tanda mujizat yang dikerjakan Yesus, tampaklah bahwa dalam diriNya genaplah nubuat para nabi tentang kedatangan Mesias yang sudah diharapkan kaum Israel dan dinubuatkan sebelumnya oleh para nabi. Akan tetapi perlu dimengerti bahwa mujizat-mujizat yang dibuat Yesus bukan demi mujizat itu sendiri tetapi selalu dalam konteks untuk menjelaskan makna Kerajaan Allah. Sekaligus juga mujizat menjelaskan tentang perkembangan iman pada Yesus. Iman inilah yang selalu menjadi landasan orang untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui Yesus dan mendapatkan belaskasihanNya, dan serentak iman menjadi syarat untuk menerima buah hasil dari sebuah mujisat.

Akhirnya: Pewartaan Kerajaan Allh dan pesannya untuk kita

Karya perutusan Yesus yang dilaksanakan selama  3 tahun terakhir menjelang akhir hidupNya adalah proyek keselamatan BapaNya. Ia adalah utusan Allah yang menyatakan siap sedia, sejak ketika Ia dibaptis di sungai Yordan.

Ia mempersiapkan diri dengan berdoa dan berpuasa agar sanggup melaksanakan tugas perutusan BapaNya, mencari dan menyelamatkan yang hilang. Karya perutusanNya itu sudah selesai dan berpuncak pada peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitanNya.

Namun sebelum Ia naik ke surga, kembali kepada BapaNya Ia mempercayakan  kepara para muridNya, kelompok keduabelasan yang dipersiapkan secara khusus, tugas untuk melanjutkan pewartaan tentang kerajaan Allah. Karya para rasul itulah yang sekarang terus dilestarikan dan dilaksanakan dalam karya-karya Gereja. Siapakah Gereja? Kita adalah Gereja, kelompok murid-murid Yesus sepanjang zaman , yang meski menurut bentuk corak panggilan khas berbeda memiliki visi iman yang sama: menghadirkan dan melanjutkan Kerajaan Allah itu dalam dunia kita sekarang dan di sini.

Sudah tentu, tugas ini tidak gampang. Akan tetapi Roh Kudus yang diutusNya, Roh itulah yang memberikan kita kekuatan dan petunjuk untuk menghadirkan  diri dan karya kita agar dunia mengenal kita sebagai para pengikut Yesus. Para imam dan hirarki mewujudkannya dalam kerasulan internal dan kaum awam berpartisipasi di dalamnya, dan kaum awam hadir secara khas dalam Tata Dunia dan menggaraminya dengan semangat injil, dan hirarki membimbing dengan nasehat, ajaran dan teladan. Tugas Yesus sudah selesai, tugas kita belum selesai!***
 
 
 
Daftar Bacaan
BAKKER, A., Ajaran Iman Katolik 1, Kanisius, Yogyakarta, 1988
BANAWIRATMA J., Kerajaan Allah, dalam Frans Hardjawiyata, Yesus dan Situasi Zamannya, Kanisius, Yogyakarta, 200
JACOBS, Tom, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, Kanisius, Yogyakarta, 1992
JACOBS, Tom, Imanuel, Perubahan dalam Perumusan Iman, Kanisius, Yogyakarta. 2000
GROENEN, C., dan Stefan Leks, Percakapan tentang Alkitab, LBI-Kanisius, Yogyakarta, 1986
HARJAWIYATA, Frans, Yesus dan Situasi ZamanNya, Kanisius, Yogyakarta, 1998
Komkat KWI, Datanglah KerajaanMu, Pendidikan Agama Katolik untuk SMU/SMK, 2000
Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta dan Obor, Jakarta, 2006
MARTASUDJITA, E., Mencintai Yesus Kristus, Kanisius, Yogyakarta, 2001
SUHARYO, I., Pemahaman Dasar Kitab Suci, Kanisius, Yogyakarta, 1991
TISERA, Guido, Seperti Apakah Kerajaan Allah itu?, Obor, Jakarta, 2001

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60