Home / Daerah / Masalah Pendidikan Di NTT Dan Solusinya

Masalah Pendidikan Di NTT Dan Solusinya

1168 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

Oleh: Yohana F Tabun, M.Pd, Dosen STKIP Kefa

PORTALNTT.COM, ROTE NDAO – Pendidikan sangatlah penting bagi manusia untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas. Pendidikan adalah dunia ilmiah yang menampung orang-orang disiplin, berilmu pengetahuan, berakhlak mulia, cerdas, dan cermat. Dengan adanya pendidikan maka orang yang tadinya tidak memiliki pengetahuan apapun, akan menjadi lebih pintar, dan dengan adanya pembelajaran yang bagus pada pendidikan maka akan meningkatkan mutu sumber daya manusia di masa yang akan datang.

Hal tersebut disampaikan oleh Yohana Febriana Tabun, S.Pd, M.Pd yang adalah seorang Dosen muda yang kini mengajar pada Program Studi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)di Kampus STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Kefamenanu, Kab. TTU (Timor Tengah Utara).

Dosen berparas cantik berdarah campuran TTS (Timor Tengah Selatan) dan Malaka itu menjelaskan bahwa dari zaman ke zaman sistem pembelajaran mengalami perubahan yang apabila diupayakan akan menjadi lebih maju, dan tentunya ada berbagai permasalahan yang dihadapi saat proses pembelajaran dalam dunia pendidikan.

Kepada media ini, Wanita berusia 24 Tahun yang adalah penulis Buku “Model Problem Based Learning dan Inkuiri Terbimbing Pada Mata Pelajaran IPA” ini menuturkan bahwa terdapat 5 Permasalahan pokok pendidikan, yakni kuantitas, kualitas, Efisiensi, Efektivitas dan Relevansi.

Lebih lanjut, Yohana yang biasa disapa Dina ini menjelaskan bahwa Kuantitas berkaitan dengan banyaknya peserta didik yang harus ditampung dalam sistem pendidikan. Kualitas, pada umumnya dilihat dari output pendidikan itu sendiri, dimana kadar ketercapaian tujuan tergantung lembaga yang menyelenggarakan pendidikan alat ukur keberhasilan (kualitas) peserta didik belum ada yang baku.

Efisiensi, apabila penyelenggaraan pendidikannya hemat waktu, tenaga dan biaya tetapi produktivitasnya tetap optimal, seperti kesesuaian jadwal mata pelajarannya dengan guru mata pelajaran. Efektivitas, mengenai pencapaian hasil program yang dibuat. Bila rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru sesuai dengan silabus maka pembelajaran tersebut dapat dikatakan efektif. Relevansi, mengenai sistem pendidikan dapat menghasilkan output yang sesuai dengan kebutuhan. Kesesuaian (relevansi) tersebut meliputi kuantitas dan kualitas output tersebut.
Kesenjangan pendidikan di Indonesia menunjukkan kualitas yang rendah.

Dosen yang meraih Gelar S.Pd (Sarjana Pendidikan) Fakultas Pendidikan Fisika di Universitas Kanjuruhan Malang pada Tahun 2017 itu juga menyatakan bahwa selain kurangnya Fasilitas atau Sarana dan Prasarana, permasalahan pendidikan di Nusa Tenggara Timur juga disebabkan oleh Kuantitas dan kualitas Guru.

“Persoalan sarana dan prasarana merupakan persoalan krusial dalam perbaikan dan pembangunan sistem pendidikan di Indonesia, dan juga merupakan salah satu syarat atau unsur yang sangat penting. Juga Secara objektif jumlah guru saat ini memang kurang memadai, dan harus diakui bahwa jumlah guru yang sedikit juga salah satu indikator kesenjangan dalam masalah pemerataan guru,” jelas Yohana F Tabun, Dosen Prodi PGSD di STKIP Kefa.

“Kesenjangan cukup besar terkait kualitas pendidikan antara sekolah yang di kota dan di desa atau daerah terpencil. Pada umumnya sekolah yang berada di perkotaan lebih baik daripada di pedesaan/daerah terpencil sangat tidak layak. Misalnya kondisi bangunan yang rapuh bahkan sudah mau roboh ditambah atap yang bocor, sehingga kegiatan proses belajar mengajar sering terkendala,” lanjut Yohana, menjelaskan.

Terkait dengan solusi dari permasalahan pendidikan tersebut, Yohana yang sukses meraih Gelar M.Pd (Magister Pendidikan) Program Studi Pendidikan IPA di Universitas Sebelas Maret pada Tahun 2020 lalu menjelaskan bahwa Perlu adanya perbaikan secara menyeluruh terhadap masalah pendidikan yang dihadapi.

“Proses pembelajaran berjalan dengan baik apabila didukung oleh berbagai unsur pendidikan yakni tenaga pendidik, peserta didik, sarana pembelajaran, kurikulum bahkan lingkungan sekitar. Sejalan dengan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa yang akan datang akan semakin kompleks, sehingga guru dituntut untuk melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensi,” ungkap Yohana Tabun.

“Guru harus memperhatikan kemajuan peserta didiknya, selain itu wali kelas serta orang tua juga sangat berperan dalam memajukan kecerdasan seorang peserta didik. Diharapkan guru mampu bekerja sama dengan berbagai pihak, baik itu para guru, wali kelas, kepala sekolah bahkan orang tua siswa demi menjalankan proses belajar mengajar secara maksimal,” lanjut Yohana, mengungkapkan.

Putri sulung dari Bapak Ibson Tabun dan Ibu Welhelmina Sain, ini berharap agar pembenahan dan pemerataan pendidikan yang didukung oleh dana yang cukup dan pengelolaan yang baik bisa menjadi perhatian serius dari pihak-pihak terkait bidang pendidikan.

“Generasi muda perlu dipersiapkan menjadi generasi tangguh, siap bersaing, berkompeten dan mampu berfikir kreatif serta mampu mengambil keputusan yang tepat dalam memecahkan suatu masalah,” pungkas Yohana F Tabun, M.Pd.

Penulis: Daniel Timu
Editor: Jefri Tapobali

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]