Oleh: Angelus Charly Caku_Ilmu Politik_Universitas Nusa Cendana Kupang
Stadion Golo Dukal, yang terletak di Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pernah menjadi kebanggaan masyarakat Flores. Namanya sempat disebut-sebut sebagai stadion terbaik di NTT, sebuah tempat di mana impian anak-anak muda Manggarai untuk menjadi pesepak bola profesional pernah hidup dan berdenyut. Ajang olahraga besar seperti Pordafta pernah digelar di sini, menjadikannya simbol kemegahan dan semangat olahraga masyarakat Manggarai.
Namun, kebesaran itu kini tinggal cerita. Selama bertahun-tahun, kondisi stadion ini jauh dari kata layak. Bagian depan gedung dan wisma atlet dibiarkan ditumbuhi tanaman liar dan semak belukar. Fasilitas yang ada tidak terawat, dan aktivitas olahraga yang seharusnya menjadi denyut nadi stadion ini perlahan mati suri. Stadion yang seharusnya menjadi ruang publik yang hidup, berubah menjadi bangunan tua yang sepi dan terlupakan.
Kondisi ini bukan sekadar masalah estetika. Ini adalah cerminan dari lemahnya tata kelola aset publik daerah yang berdampak langsung pada generasi muda Manggarai yang kehilangan ruang untuk bermimpi dan berkembang melalui olahraga.
Literature Review
Dalam berbagai kajian tentang pembangunan daerah, stadion atau fasilitas olahraga publik bukan hanya infrastruktur biasa. Ia adalah investasi sosial. Para ahli perencanaan kota menegaskan bahwa fasilitas olahraga yang dikelola dengan baik mampu menjadi katalis pertumbuhan ekonomi lokal, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta memperkuat identitas dan kebanggaan daerah.
Di banyak daerah di Indonesia, revitalisasi stadion telah terbukti membawa dampak positif yang signifikan tidak hanya bagi dunia olahraga, tetapi juga bagi sektor pariwisata, UMKM, dan lapangan kerja. Stadion yang aktif menarik penyelenggaraan event, mendatangkan pengunjung, dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitarnya.
Dalam konteks Manggarai, Pemerintah Kabupaten di bawah kepemimpinan Bupati Herybertus Geradus Laju Nabit telah menunjukkan sinyal positif. Pada April 2026, Bupati Nabit melakukan peninjauan langsung ke Stadion Golo Dukal dan menyatakan komitmennya untuk menjadikan stadion ini sebagai pusat olahraga, budaya, hiburan, sekaligus penggerak ekonomi rakyat. Bahkan, lahan kosong di sekitar stadion direncanakan untuk kegiatan pertanian produktif guna mendukung ketahanan pangan daerah.
Gagasan ini sejalan dengan pendekatan pengelolaan aset publik berbasis manfaat ganda , di mana satu fasilitas dirancang untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat secara terpadu. Ini adalah langkah yang tepat secara konsep. Pertanyaannya: apakah langkah ini akan benar-benar terealisasi, atau hanya akan berhenti di level peninjauan dan pernyataan?
Tawaran Solutif
Masyarakat Manggarai tidak membutuhkan janji mereka membutuhkan aksi nyata yang terukur dan transparan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu segera dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai agar revitalisasi Stadion Golo Dukal benar-benar menjadi kenyataan, bukan sekadar wacana politik.
Stadion Golo Dukal adalah milik semua orang Manggarai. Ia menyimpan memori kolektif, harapan generasi muda, dan potensi besar yang belum sepenuhnya digali. Kini, bola ada di tangan pemerintah daerah. Apakah mereka akan menendangnya ke gawang perubahan nyata, atau membiarkannya menggelinding sia-sia seperti janji-janji yang sudah terlalu sering kita dengar?
Masyarakat Manggarai sedang menonton. Dan mereka siap memberi penilaian.
Opini ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap pengelolaan aset publik dan masa depan olahraga di Kabupaten Manggarai, NTT.







