Home / Nasional / Belajar Dari Face-Negotiation Theory Pada Kasus Prank Bunuh Diri Ala Aida Saskia

Belajar Dari Face-Negotiation Theory Pada Kasus Prank Bunuh Diri Ala Aida Saskia

1087 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

Oleh: Mira Natalia Pellu
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Di era globalisasi ini semua orang berlomba-lomba untuk menjadi terkenal. Untuk merealisasikan keinginan tersebut berbagai macam cara dilakukan supaya dapat dikenal. Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial seperti facebook, Instagram, Youtube, Twitter,dan sebagainya. Umumnya untuk dikatakan terkenal dapat dilihat dari jumlah teman atau followers dan subscribers selain itu juga dapat dilihat dari jumlah likers pada postingan mereka.

Dalam rangka untuk meningkatkan jumlah pengikut di media sosial masing-masing orang punya cara tersendiri seperti membeli jumlah followers, berusaha membagikan kiriman yang positif, atau yang paling terkenal saat ini adalah berburu konten.

Berburu konten dapat dilakukan dengan mencari tempat yang dianggap kekinian yang bisa diposting dan menaikan jumlah pengikutnya. Selain itu juga dengan membuat video yang ditujukan untuk menghibur seperti mengcover lagu, memparodikan video-video yang sedang hitsdan yang paling terkenal akhir-akhir ini adalah prank.

Prank adalah suatu bentuk slang atau sebutan yang tidak resmi untuk kejenakaan, yang diadaptasi dari pratical joke, dan bertujuan untuk membuat orang dalam hal ini korban merasa terjahili sehingga menimbulkan rasa kepuasan pada pembuat prank (Dewi, 2018).

Selain itu prank juga terdiri dari beberapa jenis antara lain prank dengan menggunakan tema realitas sosial yang ada di masyarakat seperti menyamar menjadi orang susah, atau yang lagi hits dan tengah dilakukan oleh para selebritisadalah dengan menunjukan jumlah saldo atmnya selain itu juga ada yang mengangkat teman kejahatan seperti menculik, menodongkan senjata tajam, ataupun bertindak sebagai preman yang berpura-pura mengancam korban kejahilannya. Namun dibalik itu semua ada prank yang mengakibatkan berbagai musibah seperti luka-luka bahkan sampai pada kehilangan nyawa.

Seperti yang baru-baru ini terjadi, warganet dihebohkan dengan aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh penyanyi dangdut yang juga merupakan disc jockey atau Dj bernama Aida Saskia. Mirisnya aksi tidak terpuji ini dilakukan oleh Aida saat melakukan live di salah satu akun media sosialnya yakni instagram. Sontak tindakan ini menuai kecaman dari warganet usai media berbondong-bondong menyebarkan tindakan Aida tersebut.

Aksi ini dilakukan pada tanggal 9 Desember 2019 malam. Aida meminum cairan pembersih lantai. Saat tindakan itu terjadi banyak warganet dan sahabat aida yang panik dan menyerbu kolom komentar dari akun instagram milik Aida. Namun saat dikonfirmasi, manajer Aida memberi jawaban yang mengejutkan “ Itu Prank. Jadi ada acara ulang tahun temennya, jadi bikin itu. Tapi kita udah kasih tau ke temen-temen wartawan juga kalau ini prank” ( Anggrainy, 2019).

Tindakan ini bukan pertama kali dilakukan oleh Aida. Diduga tindakan tidak terpuji ini dilakukan karena depresi pasca perceraiannya. Usai melakukan tindakan tersebut Aida dikabarkan dilarikan ke rumah sakit. Menurut manajernya Madi, Aida dalam kondisi baik-baik saja, dan tengah menjalani serangkaian pemeriksaan. Madi juga menambahkan bahwa Aida perlu dirawat tiga sampai empat hari sebelum akhirnya kembali beraktivitas secara normal kembali (Ariyanto 2019).

Sementara itu dalam kesempatan berbeda mantan suami Aida, Rindra Pramadyo memberikan komentar seputar tindakan Aida, seperti yang dilansir dari Kompas.com (dalam Tionardus, 2019) Rindra menyebutkan bahwa Aida mengidap penyakit bipolar. Sehingga tindakan Aida tidak dibuat-buat. Rindra juga menambahkan bahwa saat menjadi sepasang suami istri, kondisi Aida tidak separah ini. Namun jika penyakitnya kambuh Aida menjadi susah untuk mengendalikan dirinya sendiri. Sebelum melakukan tindakanya Aida sempat menemui suaminya untuk menitipkan anak-anaknya, dalam pertemuan tersebut Aida juga meminta maaf kepada mantan suaminya. Mendengar perkataan tersebut Rindra sempat bingung dengan sikap Aida (Lestari, 2019).

Namun akhirnya Aida buka suara (Lestari, 2019). Aida menegaskan bahwa tindakan yang dilakukannya bukan setinggan belaka atau prank. Ia mengaku bahwa mengidap bipolar, dan tengah memiliki masalah sehingga membuat dirinya depresi dan nekat meminum cairan pembersih lantai. Seusai memberikan keterangan, Aida lantas mengembalikan semua penilaian kepada masyarakat tentang apa yang dilakukannya. Seperti yang dikutip dari Tribunjakarta.com (dalam Lestari, 2019) Aida menyebutkan bahwa “Kepikiran (vital) pasti ada ya, namanya manusia. Tapi ya kembali lagi kepada masyarakat khususnya netizen mau menilai dari sisi mana”.

Aksinya tersebut menuai berbagai kecaman, komentar negatif dan menimbulkan pertanyaan dari warganet. Mulai dari panjat sosial (pansos), ajang buat tenar, bahkan sampai mendapatkan cacian dari warganet. Sebagaian besar warganet menuduh Aida bahwa tindakan yang dilakukannya hanya untuk mencari perhatian.

Menanggapi tindakan Aida, ahli kesehatan jiwa dr. Andri, SpKJ, FAPM dari Rs Omni Alam Sutera seperti yang dikutip dari health.detik.com (dalam Anwar, 2019) mengaku sedih ada yang menggunakan bunuh diri sebagai bahan candan. Stigma penyakit jiwa di Indonesia masih kuat dan hal seperti ini menurut dr. Andri akan membuat kemunduran terhadap usaha edukasi yang sudah dilakukan.
Apalagi Budaya di Indonesia menggangap bahwa bunuh diri sebagai sesuatu yang dianggap aib dan aneh. Selain itu dibalik aksi bunuh diri tersimpan ceirta horor. Karena mati bunuh diri merupakan cara yang tidak benar dan tidak ada ajaran agama yang membenarkan aski bunuh diri. Jelas tindakan yang dilakukan Aida merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan baik dimata agama maupun hukum.

Jika dilihat lebih jauh, dalam ilmu komunikasi terdapat salah satu teori yang dinilai mampu menjelaskan tindakan Aida yang dikenal dengan Face-Negotiation Theory atau yang dikenal dengan teori negosiasi muka. Stephen Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication edisi ke-8 (2017:412) menjelaskan bahwa wajah mengacu pada citra diri seseorang di hadapan oranglainnya, ini melibatkan perasaan hormat, kehormatan, status, koneksi, kesetian dan nilai-nilai serupa lainnya. Dengan kata lain, wajah berarti gambaran yang diinginkan oleh seseorang atau identitas yang dianggap oleh orang lain dalam situasi tertentu. Selain itu dalam teori ini dikenal satu istiah face work dimana bertujuan untuk melindungi, membangun, atau mengancam wajah orang lain.

Dari paparan Litteljohn mungkin saja Aida tengah mempertaruhkan citra dirinya dengan membuka wajah yang selama ini ditutupinya ataukah?. Bagaimana tidak dunia panggung dengan sejuta pesona dan godaannya mampu membuat siapapun harus tetap tampil dengan citra yang baik. Tujuannya tentu untuk dapat bertahan dan aksis didunia tersebut. Hal itu juga yang harus dilakukan oleh Aida. Dalam kehidupan sebagai public figure tentunya Aida harus selalu menampilkan performa terbaik dalam segala hal demi dan untuk bertahan hidup dari dunia yang digelutinya. Namun, semua hal yang ada didunia ini tentu ada plus dan minusnya. Apalagi berbicara tentang dunia keartisan yang dijalani Aida. Jika dilihat setiap hari lahir bintang-bintang baru dengan sejuta kelebihannya masing-masing. Tentu ini mengharuskan Aida dan seluruh rekan-rekan artis yang lain mencari cara untuk tetap bertahan di panggung yang memberikan mereka kehidupan.

Masing-masing public figure tentu memiliki cara untuk tetap bertahan dari dunia yang membesarkan mereka. Jika tidak mampu bersaing atau bertahan pastinya akan berdampak bagi aktris atau aktor itu sendiri. Seperti yang kini tengah dialami oleh Aida, pasca bercerai dari suaminya, Ia harus tetap bertahan dan mencari cara untuk tetap hidup dan menghidupi anak-anaknya.

Di tengah itu bersama penyakit bipolar yang dideritanya ditambah dengan depresi serta masalah-masalah yang dihadapi membuat Aida berada diluar kendalinya. Aida memilih melakukan prank yang dianggap sebagai tindakan yang tidak terpuji untuk memperkenalkan satu sosok tersembunyi yang selama ini disembunyikannya. Lantas hal ini tentu tidak bisa diterima oleh seluruh masyarakat yang ada. Justru hal ini kini menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Cacian dan hinaan kini diterima Aida.

Dalam face-negotiation theory ini ada beberapa asusmsi yang mencakup komponen penting dalam teori ini yang terdiri dari: muka, konflik, dan budaya. Dalam bukunya West & Turner (2007:164) menyebutkan tiga asumsi yang dibangun oleh Stella Ting Toomey, antara lain: Pertama, Identitas diri penting dalam interaksi interpersonal, dan individu-individu mengasosiasikan identitas mereka secara berbeda dalam budaya yang berbeda. Pada asumsi ini mengambarkan bahwa individu dalam sebuah budaya memiliki beberapa citra diri yang berbeda dan mereka akan berusaha mengosiasikan citra diri secara terus- menerus. Selain itu rasa akan diri seseorang merupakan hal yang sadar atau tidak sadar. Secara tidak sadar Aida memperkenalkan dirinya dengan sejuta kontroversi yang dibuat oleh dirinya.
Sebenarnya masing-masing orang tentu punya cara untuk mengatasi masalahnya, lalu mengapa Aida memilih menggunakan media sosial untuk melancarkan aksinya. Dalam kasus Aidapun juga masih tanda tanya. Bisa dilihat bahwa tidak ada satu informasi tunggal yang mengatakan alasan sebenarnya. Manajernya, Madi memberikan keterangan berbeda dengan Aida. Madi mengatakan bahwa, Aida melakukan prank untuk salah seorang temannya yang ulangtahun, sementara Aida memberikan klarifikasi bahwa Ia tengah depresi dan memiliki penyakit bipolar. Pernyataan Aida ini dibenarkan oleh mantan suaminya. Tetap saja yang tertanam di benak warganet aksi Aida adalah prank, aksi yang tidak terpuji, dan tidak patut untuk disiarkan apalagi untuk publik figure. Aida di cap pansos dan demi ketenaran semata.

Asumsi kedua dari teori ini berkaitan dengan konflik bahwa konflik dapat merusak muka sosial seseorang dan dapat mengurangi kedekatan hubungan anatara dua orang. Tentu dengan aksi prank yang dilakukan oleh Aida sendiri sebernanya adalah konflik bagi dirinya sendiri. Tindakan yang dilakukan Aida jika dicermati lebih dalam di tengah kecangihan teknologi dianggap sangat berbahaya. Bisa jadi orang bisa bermain-main dengan nyawa. Aida bisa menciptakan trend dimana orang bisa saja mengakhiri hidupnya dengan mempublikasikan itu ke dunia sosial. Padahal negara kita Indonesia terkenal akan norma-norma dan budaya yang harusnya dijunjung tinggi oleh semua pihak di dalamnya.

Aksi ini bahkan banyak disayangkan oleh para ahli kejiwaan dan psikolog. Seperti yang dikatakan dr. Andri bahwa yang dianggap artis atau public figure harusnya membantu awareness tentang keadaan kita apalagi di Indonesia yang stigma terhadap depresi itu sangat besar. Besar harapan dari dr. Andri untuk para public figure atau artis-artis untuk meningkatkan awareness seputar masalah kejiwaan, walau Ia menyadari bahwa sebenarnya masih banyak yang mengalami masalah kejiwaan walaupun belum didiagnosis secara klinis (Anwar, 2019).

Asumsi terakhir dari teori ini adalah berkaitan dengan dampak yang diakibatkan oleh suatu tindakan terhadap muka. Dalam kasus Aida walaupun ada pembelaan yang dilontarkan Aida yang menegaskan bahwa aksi yang dilakukan oleh dirinya adalah tindakan yang tidak dibuat-buat, nampaknya masyarakat lebih mempercyai bahwa tindakan yang dilakukan oleh Aida adalah prank dan ditujukan untuk panjat sosial dan demi menaikan karirnya. Aida harus rela menerima konsekuensi atas perbuatan yang dilakukannya. Pertama, tentunya usai melakukan aksi percobaan bunuh diri Aida harus masuk rumah sakit dan dirawat karena mengkonsumsi cairan pembersih lantai. Kedua, Aida harus siap menerima cacian dan hinaan bahkan mungkin saja tidak diterima oleh masyarakat karena perbuatannya yang dinilai tidak terpuji tersebut.

Selain itu tindakan Aida bisa dikategorikan kedalam tindakan pidana, hal ini dapat terjadi jika ada pihak yang melapor dan merasa dirugikan atas perbusatanya (Makdori, 2019).

Sebenarnya prank di Indonesia bukanlah hal yang baru lagi. Para artis berbondong-bondong sekarang menjadi pemburu konten demi menciptakan sebuah karya yang diterima oleh masyarakat. Sebut saja Natasha Wilona, Atta Halilintar, Ria Ricis dan masih banyak lagi. Lewat konten prank sebenarnya dapat menjadi salah satu penghasilan yang luar biasa bagi para artis. Mengingat tingginya minat masyarakat dalam berselancar di internet. Namun akan lebih bijak untuk menciptakan sebuah karya yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat dengan segala keberagaman suku,ras, dan agama yang ada.

Aida saskia menjadi salah satu public figure yang disorot akibat tindakan pranknya yang dinilai sebagai tindakan tidak terpuji. Namun jauh sebelum aksi Aida ini sebenarnya sudah banyak prank-prank yang dinilai meresahkan masyarakat seperti prank fiktif driver ojol, aksi anak selebritis yang menyamar menjadi pemulung untuk membeli handphone mahal dan sebagainya. Tindakan-tindakan ini dinilai tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada di negara ini.

Sebenarnya tindakan prank ini jika dilihat lebih dalam sesuai dengan pengalaman sila ke dua yakni “Kemanusian yang adil dan beradab”. Jelas bahwa sila ini menjelaskan bahwa sebagai sesama manusia dilarang untuk merendahkan atau menyakiti perasaan orang lain. Apalagi tindakan itu hanya untuk kesenangan semata. Jelas prank bertentangan dengan sila kedua. Orang yang terkena prank mendapatkan tindakan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh dirinya sendiri seperti dikejutkan apalagi tindakan yang harus diterima oleh dirinya adalah tindakan kejahatan tentunya korban dapat melakukan perlawan jika mendesak.

Di Indonesia sebenarnya sudah ada hukum pasal yang menjamin seseorang untuk mempertahankan hidupnya, hal itu termuat dalam pasal 28 UUD 1945. Maka di dalam KUHP pasal 49 ayat 1 korban prank yang melawan sampai menimbulkan cedera dan luka-luka tidak akan dikenakan saksi pidana. Namun untuk payung hukum yang secara tegas untuk prank belum ada. Perlu adanya juga kebijakan yang megatur lebih jauh tentang hal-hal seperti ini.

Pada akhirnya sebenarnya prank adalah sebuah aktivitas dan tindakan yang ditujukan untuk menghibur semua orang yang menontonnya. Namun, perlu menjadi sebuah refleksi bagi konten creator untuk memperhatikan konten yang akan dihasilkan. Sepatutnya memperhitungkan anak-anak dibawah umur yang sekarang sudah bisa mengakses internet, jangan sampai mereka melihat hal-hal yang tidak sepantasnya dilihat dan menjadikan itu sebagai contoh.

Hendaknya sebagai public figure sebisa mungkin harus menjadi tokoh panutan bagi semua kalangan lewat karya yang ditampilkan sehingga dengan sendirinya akan menciptakan citra positif bagi public figuretersebut.

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]